Hari Santri, Momentum Reformasi Pesantren


Banyak lembaga pendidikan yang diklaim sebagai lembaga pendidikan terbaik. Salah satu caranya mencitrakan dengan nama; plus, terpadu, full day, favorit, boarding bahkan international. Umumnya semua lembaga pendidikan itu berlomba untuk menyeleksi para pelajarnya dengan angka-angka. Tujuannya agar lembaga-lembaga pendidikan mereka dihuni oleh pelajar-pelajar pintar dan baik.

Setiap akhir tahun ajaran, para pengajar dan pemiliknya sambil membusungkan dada berkata, “lihatlah lulusan-lulusan sekolah kami!”. Atau mereka dengan angkuh membayar redaktur surat kabar dan majalah agar bisa menuliskan deretan prestasi-prestasi yang dicapai para pelajarnya.

Anak-anak yang tidak mempunyai nilai yang tinggi tidak bisa belajar di sekolah mereka. Anak-anak yang mempunyai masalah dengan sikap tidak layak duduk di bangku sekolah mereka. Untuk mereka, anak-anak yang tidak bagus dalam bidang matematika dan yang tidak baik dalam aspek kognitif dan afektif tidak layak mendapatkan pendidikan.

Menurut hemat saya, “kehebatan” sekolah-sekolah tersebut perlu dikaji ulang. Apakah benar prestasi-prestasi pelajarnya karena para pengajar dan sistem sekolahnya? Apakah mereka mampu menjadikan para pelajarnya berprestasi kalau para pelajarnya tidak pintar? Ini baru sebatas aspek kognisi, belum pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan afeksi dan psikomotorik. Misal, apakah mereka mampu mendidik anak-anak yang nakal menjadi anak-anak yang baik?

Pesantren Berkorban dan Dikorbankan

Salah satu lembaga pendidikan asli Indonesia (Indogenius) adalah pesantren, sebagaimana yang dikatakan Nurkholis Madjid dalam ‘Bilik-Bilik Pesantrennya’. Diakui ataupun tidak, suka ataupun tidak, kebaradaan pesantren sudah dan sangat mempengaruhi wajah pendidikan Indonesia.

Sudah sejak lama, pesantren dipersepsikan sebagai lembaga yang terbelakang, kumuh, tempat buangan anak-anak bandel, tempat pelarian anak-anak bodoh yang tidak diterima di sekolah hebat dan PROFESIONAL.

Benar, bahwa pesantren mempunyai kekurangan dan kelemahan yang harus diperbaiki agar bisa bersaing dengan sekolah-sekolah berduit. Namun masyarakat -walau tidak banyak- juga bertanggung jawab atas kelemahan dan citra buruk itu. Saya berikan contoh, Ada seseorang ibu berkata kepada kawannya, “Anak saya kedua bandel banget, paling saya masukan ke pesantren saja”. Ada lagi seorang bapak bilang sama anaknya, “Kamu ikut saja test dulu di sekolah favorit A, B, C dan D, nanti kalau memang semuanya gak lulus kamu masuk saja pesantren”.

Betapa jahatnya orang-orang yang bersikap demikian. Kalau memang mereka tahu anaknya bandel dan bodoh, kenapa tidak mereka didik dan ajar sendiri. Kemudian kalau mereka memang tidak mampu dan mempercayakan ke pesantren, maka seharusnya pesantren adalah pilihan utama untuk anak-anak mereka.

Pintu pesantren memang selalu terbuka untuk siapapun yang mau belajar; yang baik, yang bandel, yang pinter dan yang bodoh. Pesantren memegang prinsip bahwa pendidikan adalah sebuah proses (usaha) untuk menjadikan anak didik lebih baik; dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi faham, dari faham menjadi akhlak. Pendidikan bukan hanya untuk yang sudah bisa dan baik.

Hal ini yang kadang bagi masyarakat -yang tidak bisa berpikir- memandang bahwa pesantren adalah tempat anak-anak bodoh dan bandel. Mereka tidak melihat bagaimana pesantren berusaha dan berkorban untuk mendidik anak-anak tersebut menjadi lebih tahu dan lebih baik. Dan faktanya sangat banyak output pesantren yang menjadi lebih baik dari saat mereka (belum) masuk pesantren. Bahkan memberikan kontribusi positiv untuk lingkungan, negara bahkan dunia.

Sekarang kalau bicara lulusan. Kita tidak bisa hanya membandingkan hasil outputnya saja. Seharusnya kita lihat juga bagaimana inputnya. Dari sana, kita akan tahu adakah perubahan yang lebih baik atau tidak. Adanya perubahan ke arah yang lebih baik adalah wujud sebuah pendidikan berjalan. Dan kita baru bisa katakan lembaga itu hebat.

Agar mudah, saya menggunakan perbandingan angka. Salah kaprah mengklaim sekolah A lebih baik atau terbaik karena telah menjadikan anak didik yang nilai awalnya 7 menjadi 8, sedangkan disaat bersamaan sekolah lain menjadikan anak yang nilai awalnya 5 menjadi 6.

Selain masyarakat, pemerintah pun bertanggung jawab atas keberadaan pesantren. Sampai saat ini, hanya sekolah-sekolah yang mendapatkan bantuan dana dari dari pemerintah, baik itu dana BOS, BSM, dana untuk insentif untuk gurunya. Tidak untuk pesantren. Seharusnya pemerintah memperhatikan pesantren layaknya lembaga-lembaga pendidikan lain di Indonesia. Jangan hanya perduli terhadap pesantren saat kompanye waktu pileg dan pilpres saja.

Ketika Pesantren Menjawab Tantangan

Kritik yang dilontarkan oleh Cak Nur diantaranya adalah tentang fasilitas dan kurikulum di pesantren. Saya tidak tahu apakah terinspirasi dari ‘bilik-bilik pesantren’ atau bukan. Faktanya, hari ini sudah banyak pesantren yang melakukan inovasi dalam dua hal ini. Saat ini, pesantren adalah tempat yang bersih dan rapih. Bahkan para pelajarnya belajar dan membiasakan diri untuk menata dan membersihkan. Dari sisi kurikulum, banyak pesantren yang telah menyusun kurikulumnya dengan jelas dan matang,baik yang melakukan terobosan dengan sendirinya, maupun bekerjasama dengan kemenag dan kemdikbud. Tentunya bukan sekedar pengetahuan keislaman saja, bahkan pengetahuan umum pun diperdalam.

Semoga Hari Santri Nasional tidak hanya sebatas seremonial.  Tanggal 22 Oktober yang ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk perbaikan. Pertama, Setiap santri dan yang pernah ‘nyantren’ mengevaluasi diri tentang hakikat santri itu sendiri yagn salah satunya adalah konsep ‘خير الناس أنفعهم للناس’ (manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat untuk manusia (yang lain). Santri bukan hanya orang kuat shalat malam saja, tapi juga yang mampu mendirikan sholatnya dalam setiap aspek kehidupan; sosial, ekonomi bahkan politik. Santri bukan hanya bisa membaca kitab kuning saja, tapi juga yang bisa membaca rasa tetangganya; baik tetangga rumah, tetangga perusahaan, bahkan tetangga dalam aqidah.

Kedua, hari santri menjadi momentum bagi semua pondok pesantren untuk berbenah. Baik dalam sisi software maupun hardware pendidikannya. Bukankah semua pesantren mengenal konsep “المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح” ( mempertahankan nilai- nilai lama yang baik dan bersikap terbuka terhadap nilai-nilai baru yang terbukti lebih baik). Ketiga, Hari santri menjadi momentum untuk pemerintah untuk memberikan perhatian terhadap pendidikan pesantren sebagaiamana perhatian terhadap institusi pendidikan yang lain yang tumbuh di Indonesia. Bukan hanya sebatas perhatian untuk kampanye diri dan alat propaganda kepentingan penguasa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s