Mengindonesiakan Anak Indonesia (Review Buku)


Oleh: Nanang Rosidi*

“Kenapa kamu mau (baca: bercita-cita) jadi warga Malaysia?”  tanyaku, sekaligus untuk mengusir tanda tanya di benak.

“Enak, Pak,” jawabnya singkat.

“Enak bagaimana?”

“Iya, menjadi warga Malaysia itu enak. Pengangguran saja dapat gaji. Untuk kerja pun mudah,” mulut Talia dengan cekatan mengeluarkan beberapa kalimat sebagai jawaban (Padlil Syah: 65).

 

cover-buku

Cover Mengindonesiakan Anak Indonesia

Pemerataan kesejahteraan masih menjadi PR bagi bangsa Indonesia. Kesejahteraan dalam arti terpenuhinya lima kebutuhan dasar manusia: sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Dari lima kebutuhan dasar manusia tersebut, pendidikan adalah kebutuhan yang berdampak paling signifikan bagi kemajuan bangsa maupun kemanusiaan itu sendiri. Belajar dari Jepang yang porak poranda pasca Perang Dunia II, bahwa untuk membangun bangsa yang kuat harus dimulai dari pendidikan. Ya, Education is the best investment for the future!

Hadirnya buku Mengindonesiakan Anak Indonesia: Catatan Guru Indonesia di Pedalaman Sabah, Malaysia karya Saprudin Padlil Syah mengungkap realitas pendidikan anak-anak Indonesia di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Sebuah realitas yang pahit untuk ukuran negara yang sudah 71 tahun menikmati kemerdekaan. Kepahitan itu tidak melulu tentang sarana dan prasarana pendidikan yang memang sangat tidak layak, melainkan juga tentang lunturnya jati diri bangsa di dalam diri anak-anak itu.

Esai yang berjudul Kebangsaan Muridku (hal. 30) menceritakan pengalaman sang penulis mendapati murid-muridnya sama sekali tidak tahu tentang Indonesia. Mereka mengenal Bugis karena mayoritas orang tua mereka berasal dari sana, tetapi mereka tidak mengenal Indonesia! Ya, mereka tidak mengenal Indonesia karena tidak pernah diperkenalkan dengan Indonesia. Mereka mengkonsumsi makanan dan minuman dari Malaysia, menonton film Malaysia, mendengarkan berita tentang Malaysia, orang tua mereka mendapatkan penghidupan dari Malaysia, semuanya serba Malaysia. Padahal mereka adalah Warga Negara Indonesia (WNI).

Kejadian yang lebih mengejutkan ada di dalam esai berjudul Cita-cita (hal. 60). Saat ditanya mengenai cita-cita, seorang siswi bernama Talia menjawab bahwa ia ingin menjadi warga Malaysia. Alasannya karena di Malaysia lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Doktrin bahwa di Indonesia susah mencari kerja memang sudah tertanam di dalam alam pikiran masyarakat di sana. Sehingga tidak aneh jika anak kecil sekalipun mampu menyampaikan hal itu. Dan, memang kenyataan di Indonesia demikian.

Persoalan-persoalan lain yang diungkap di dalam buku ini adalah tentang rendahnya dorongan orang tua untuk menyekolahkan anak, bahkan mereka lebih senang jika anak ikut bekerja di kebun sawit. Persaingan antara sekolah swasta (yayasan) dan sekolah yang dibiayai oleh pemerintah Indonesia juga menjadi kisah memprihatinkan bagi para guru di sana. Para guru mendapatkan teror dan ancaman dari para pemilik yayasan dan tokoh setempat. Itu terjadi karena bagi para pemilik yayasan di sana, siswa dan siswi adalah sumber penghidupan.

Informasi penting lainnya yang didapatkan dari buku ini, terutama bagi para pengajar/pendidik, adalah tentang jurus-jurus menghadapi situasi-situasi tertentu ketika mengajar di kelas. Bagi para pendidik tentu menghadapi siswa dan siswi memiliki tantangan-tantangan yang kadang menjengkelkan. Sang penulis menceritakan beberapa eksperimen yang dilakukan dalam menghadapi berbagai situasi di kelas.

Tidak seperti kaum skeptis yang hanya melemparkan “bola panas”, di dalam buku ini sang penulis menyampaikan gagasan-gagasan untuk memperbaiki situasi yang ada di sana, yakni langkah-langkah kongkrit yang bisa dilakukan oleh pemerintah (selaku pemegang kebijakan) berdasarkan hasil pengamatan empiris dari diri penulis.

Meskipun mengemban tema yang serius, tetapi buku ini ringan dibaca. Ya, karena memang ini adalah semacam buku harian sang pengarang selama bergumul dengan anak-anak Indonesia di Sabah, Malaysia. Sebuah buku yang patut dibaca oleh siapa saja yang berani untuk melihat kenyataan bahwa di garis batas sana ada Merah Putih yang perlahan kian memudar.

 

* Penulis adalah Ketua Umum KMSGD Jabodetabek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s