Untung Saja


“Aku mencari perempuan yang cantik, pintar dan sholehah,” jawabku untuk pertanyaanmu tentang kriteria perempuan yang aku dambakan.

Terus terang, ini salah satu hal yang berat dalam hidupku selain menjaga sholat lima waktu. Untuk hal ini, aku berusaha sekuat tenaga tidak mengalah pada kesendirian. Untung saja, Allah menjadikanku seorang penakut. Rasa takutku mengalahkan semuanya.

Utukku, itu syarat yang fair. Bukan untuk hari-hariku yang ditemani kesendirian. Bukan untuk tahun-tahunku yang didekap gelisah. Bukan hanya untukku, tapi Untuk anak-anakku, cucu-cucuku, ciciti-cicitku, dan bahkan untuk cicit dari cucu cicit cucuku. Untuk keturunanku. Bukan hanya sepuluh, seratus, seribu dan sejuta tahun di depan. Tapi untuk sampai masa yang tidak ada batas waktu.

Aku harus menerapkan standar tinggi. Yang aku cari adalah calon ibu dari anakku, calon nenek dari cucuku, calon buyut dari cicitku dan calon moyang dari semua keturunanku. Tanpa standar itu, siapa yang akan membuatku selalu punya alasan untuk rindu pulang? Siapa yang akan mengajari dan mendidik anak-anakku? Siapa yang akan selalu menggaungkan tentang mengeesakan Allah di kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan halaman rumah?

“Aku tidak mempunyai semuanya,” ucapmu meresponku.

Kesalahan pertamamu di hadapanku adalah ucapan itu. Kamu tidak sadar bahwa perempuan di hadapanku waktu itu yang membuat rasa takut dari seorang penakut tambah akut. Perempuan di hadapanku saat itu yang membuatku tidak mampu mengontrol lidah untuk mengucapkan kata-kata itu. Namun demikian, pujian itu sangat layak untuk dialamatkan kepadamu. Aku tidak pernah menyesalinya. Tidak akan.

“In fact, she is too beautiful, smart and good to stand beside you,” bisik hatiku menggoyahkan.

“Kalau kamu bagaimana?” tanyaku sambil berharap bahwa lelaki idamanmu adalah aku.

Seolah mendengar bisik hatiku, jawabanmu justeru menegaskan bisik hatiku. Jawabanmu itu tentu tidak akan keluar begitu saja, aku yakin. Hanya perempuan yang mempunyai kriteria tersebut yang mampu mengolah rangkaian kata itu.

Jawabanmu membuatku sadar, hanya lelaki yang istimewa saja yang bisa menjadikan perempuan dihadapanku mendampinginya. Aku? Dengan dengan segala kemampuanku, tidak bisa. Aku belum bisa mencapai level itu. Aku? Masih harus mengupgrade levelku. Aku harus memantaskan diri untuk bisa meminang dan menikahimu. Aku selalu membutuhkan keberuntungan.

Untung saja, aku tidak peduli lagi kepantasan dan kepatutan. Dengan segala jiwa raga, aku kumpulkan segala keberanian untuk menyembunyikan rasa malu dan takutku di hati yang paling dasar. Untung lagi, Allah memberiku hadiah. Cukup satu keberanian yang aku butuhkan. It’s enough to propose you.

Aku ingat-ingat segala mantraku yang aku simpan selama ini. Aku tentukan mantra yang tepat untuk mendapatkanmu. Aku bacakan didepanmu. Satu kata yang keluar dari lidahmu untuk merespon mantraku, “Iya”. That one word is enough to be happy. I become the lucky man. Untung sekali, aku tidak ditolakmu. Kamu bersedia menjadi isteriku. Aku tidak butuh dan tidak akan mencari alasanmu. Aku hanya butuh mensyukurinya.

Hampir tujuh tahun kita bersama-sama berjalan, berlari dan tertatih-tatih. Maafkan aku. Percayalah! Mantraku yang kuucapkan dulu akan terus kulafalkan dengan seluruh jiwa ragaku, demi kebahagianmu.

Carilah alasan untuk tetap percaya bahwa aku bisa membuktikan mantra-mantraku padamu. Carilah ribuan alasan untuk tetap percaya bahwa aku selalu berusaha menjadi lelaki idamanmu. Sebagaimana jawabanmu waktu itu.

“Aku mencari lelaki yang bisa membuatku cantik, membuatku pintar dan membuatku sholehah.”

Ucapanmu begitu dalam dan sekaligus mengoreksi kata-kataku. Kalau boleh, mungkin begini tafsiran dari kata-katamu tersebut.

“Ini tentang kewajiban. Kecantikan, kepintaran dan kesholehahan seorang isteri bergantung pada suaminya, sebagaimana kecantikan, kepintaran dan kesholehahan anak perempuan adalah kewajiban orang tuanya.”

***

Hanya mantra ini yang bisa kutuliskan dalam hampir tujuh tahun kamu membersamaiku. Selamat ulang tahun isteriku, LIlis Padlilsyah, yang cantik, pintar, dan sholehah! Mohon maaf, lelakimu belum bisa berkontribusi untuk kecantikan, kepintaran dan keshalehahanmu.

I love so you much.

Aku, lelakimu dan ayah dari anak-anakmu

Sungai Balung, 18 Agustus 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s