Batu Mulya (Cerpen)


4 sekawan. Bagi orang jawa mungkin sedikit lucu dan geli mendengar prase tersebut, “sudah empat, sekawan pula”. Tapi bagi suku lain, 4 sekawan maknanya hanya satu; 4 orang sahabat. 4 sekawan adalah prase yang digunakan untuk menggambarkan eratnya persahabatan Israk, Safih, Bali dan Nasri.

4 orang pemuda kampung tanggung ini pada sabtu malam yang lalu nongkrong di warung kopinya Mbah Imron. Kebetulan kegiatan ronda di kampung mereka masih berjalan. Kebetulannya lagi, malam minggu ini adalah jadwal ronda mereka.

Namanya obrolan warung kopi, bebas tanpa aturan namun beretika tanpa baku hantam, berbeda dengan obrolan para anggota legislatif di meja bundar sana. Obrolan kali ini dari obrloan politik KPK-POLRI sampai obrolan batu mulia. Batu yang sedang menjajah semua wilayah Indonesia, tidak terkecuali kampung Ciseupan.

“Tahu gak kalian, batu mulya yang dipakai pak SBY?” Tanya Nasri, membuka judul obrolan baru.

“Kenapa memang?” Tanya Safih.

“kalau kalian minat, saya punya banyak koleksi di rumah masih. Ada asli Sukaraja, Sukabumi ada juga batu dari Garut. Untuk teman, saya akan kasih harga miring”. Kata Nasir, sambil memperlihatkan foto-foto batu akik yang disimpan dalam HP iPhone 6+ nya.

Israk dan Safih tampak tertarik dengan promosi Nasri. Hanya Bali yang tampaknya tidak antusias.

“Ini kecubung. Ini mata mata kucing. Yang ini combong. Batu sulaiman. Lapis lazuli. Akik darah. Zamrud. Merah delima. Nah kalau yang ini namanya batu kalimaya” jelas Nasir sambil menunjuk setiap foto batu akik yang ia pamerkan.

“Saya mau batu yang seperti pak SBY, ada gak?” Tanya Safih.

“Emang kenapa?” Tanya Nasir mendalami.

“Setelah bu Ani upload foto cincin pak SBY di instragramnya, sekarang batu itu jadi ngetrend, ya kalau cocok harganya saya mau” terang Safih.

“Oh itu namanya batu mata kucing. Yang punya pak SBY mungkin bisa puluhan juta. Tapi kalau kamu mau, saya juga ada. Harganya bisa miring, harga teman. Ya sejuta lah” promosi Nasir, sambil minum kopinya yang sudah dingin.

“Kalau saya terus terang saja, bukan takhayul yah!” Kata Israk membuka pembicaraannya, “Saya itu sedang cari batu sulaiman atau safir kuning”

“Memang kenapa?” Tanya Nasir.

“Kata guru spiritual saya, kalau saya ingin lancar rezeki saya harus pakai salah satu batu itu”

“Batu-batu itu memang sangat jarang, kalau enggak jodoh atau usahanya kurang kuat mungkin gak bisa dapat. Kebetulan saya punya Batu Sulaiman, tapi tinggal satu. Dan harganya lebih tinggi dari batu-batu lain” Untuk Nasir, jawaban Israk tadi adalah pertahanan yang kosong untuk ia masukan sebuah serangan “promosinya”.

Melihat Safih dan Israk tampaknya termakan iklan-iklannya, Nasir tampak bahagia. Lalu ia melirik kepada Bali yang dari tadi tidak ikut campur obrolan batu mulya ini. Tidak jelas alasannya, karena tidak berminat atau karena dia sedang lapar. Dari tadi tangannya hanya pegang gelas kopinya, sesekali ia mengambil gorengan yang ada di depannya.

“Bal, kamu berminat?” Tanya Nasir.

Bali tidak menjawab. Ia hanya melempar senyum sambil mengoyangkan kepala.

“Lagi trend loh orang-orang pakai batu mulya” tidak banyak kata yang Nasir ucapkan. Ia menunggu respon Bali. Untuknya, iklan harus efektif dan tepat sasaran.

“Untuk saya, manusia lebih mulya dari batu-batu itu” jawab Bali.

Tentu saja ucapan Bali ini membuat gerah tiga kawannya. Namun sebelum diantara mereka ada yang menanggapi ucapannya, Bali berdiri dari tempat duduknya untuk membayar kopi dan gorengan yang ia makan. Tanpa menunggu yang lain, ia langsung ke luar warung sambil berkata, “ayo kita mulai ngeronda, kita lanjut diskusi kita nanti”

Tidak perlu ajakan kedua, Israk, Safih dan Nasir pun ikut Bali, tentunya setelah membayar minuman dan makanan masing-masing.

***

Setelah ditinggal 4 sekawan, Mbah Imron memanggil cucunya Iwan, yang dari tadi ikut mendengarkan obrolan 4 sekawan tadi.

“Iwan, Kamu dengar obrolan mereka tentang batu mulya?” Tanya mbah Imron

“Iya kek” jawab Iwan, singkat.

“Kamu boleh seperti Bali, kalau kamu mampu boleh seperti Safih, Bagus-bagus kamu seperti Nasir, tapi jangan sesekali seperti Israk” kata mbah Imron.

“Tapi kata teman-teman Iwan, ada batu untuk kekayaan, kewibawaan, kecerdasan dan yang lainnya. Itu gimana kek?” Tanya Iwan.

“Umar bin Khattab pernah bilang begini setelah mencium hajar aswad, “kalau saja aku tidak melihat Rosulullah menciummu, aku tidak akan melakukannya. Kamu selayaknya batu-batu lain. Tidak memberi madarat dan tidak memberi manfaat”.

“Jadi maksudnya…” Iwan mau bertanya lagi, namun pertanyaannya terpotong oleh ucapan sang Kakek.

“Pikirkan sendiri! Kamu punya otak”

One response to “Batu Mulya (Cerpen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s