Karena Satu Wajah Mimpi (Cerpen)


“Mimpi apa aku tadi malam?” Gumam Ali. Kening kepalanya mengerut tanda ia berusaha keras mengingat-ingat sesuatu.

Hatinya gelisah setiap kali ia bermimpi seperti malam tadi. Mimpi seperti tadi malam bukanlah kejadian pertama kali untuknya. Dalam beberapa tahun ini ia sulit untuk memejamkan mata. Bukan karena insomnia. Hanya takut untuk tidur. Takut bermimpi seperti malam-malam sebelumnya. Ia tidak mempunyai keberanian walaupun sebatas cukup ataupun sekedarnya. Setiap kali ia bermimpi seperti tadi malam, maka siangnya ia selalu khawatir. Seolah akan menghadapi ada badai tsunami dan letusan gunung merapi.

“Di lihat dari sudut pandang agama, percaya terhadap mimpi adalah sebuah khurofat bahkan mungkin menyerempet pada ke musyrikan. Apakah aku termasuk orang musyrik?”Dari sudut pandang sains, kekhawatiranku terhadap mimpi adalah sebuah hal yang tidak bisa di pertanggungjawabkan; mistis. Seberapa irrasionalkah aku?”

Gumam Ali dengan raut muka yang kusut. Tangannya digunakan untuk menumpu kepalanya seolah ia menjaga kepala agar tidak terlepas dari lehernya. Ibu dan telunjuk jari nya di gunakan untuk meluruskan kulit keningnya yang mengerut.

Faktanya dengan mimpi-mimpinya ia seperti ‘orang pintar’. Mungkin seandainya ia ikut acara THE MASTER maka ia bisa melebihi Joe Sandi bahkan Dedi Corbuzer. Namun sayang mimpinya tidak pernah bisa ia rencanakan. Mimpinya datang tidak pernah permisi. Tidak juga minta persetujuan. Mimpinya datang begitu saja, tidak peduli disuka atau dibenci. Begitu juga malam-malam yang lain.

“Hai li, ngelamun saja”

“Oh kamu Zach, aku jadi kaget”. Zach adalah temannya Ali.

“Zach… tadi malam aku mimpi”

“Mimpi apa?”

“Mimpinya gak begitu jelas, selalu saja begitu. Namun aku punya firasat bahwa mimpiku kali ini mengabarkan bahwa aku mendapat sesuatu yang buruk”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tidak tahu, namun dari pengalaman ku, ketika aku bermimpi seperti tadi malam, siangnya aku merasa bahwa mimpi-mimpi itu sebuah pertanda untuk ku, dan karena hampir selalu demikian, akhirnya aku yakin. Aku tidak tahu, aku hanya yakin”

“Kemudian apa masalahnya seandainya kamu yakin bahwa mimpi mu tadi malam pertanda kamu akan mendapat sesuatu yang buruk?”

“Aku takut Zach, sangat takut”

“Seberapa takut?”

“Siang hari aku takut keburukan akan datang. Malam hari aku takut mimpi yang akan datang”

“Ali..Ali…” Zach menghela nafas, seolah merasakan apa yang terjadi pada temannya. “Begini saja sekarang, apakah kamu saja di dunia ini yang mendapat sesuatu yang buruk?”

“Tidak”

“Apakah orang yang bermimpi seperti mu saja yang mendapatkan sesuatu yang buruk?”

“Tidak. Tapi orang lain tidak tahu akan mendapatkannya. aku tahu itu akan terjadi, namun aku tidak tahu pasti kapan, dimana dan bagaimana”

“Apakah yang belum tahu lebih beruntung ketika mendapat keburukan daripada yang sudah tahu?”

“Mmmmm” Ali diam. Dua bibir dipajukan. Nafasnya ditahan beberapa saat.

“Siapa pemberi sesuatu yang baik dan yang buruk?”

***

19 tahun berlalu.

“Katanya anda bisa mengetahui sesuatu dengan mimpi” Kata seorang mahasiswa kepada Ali yang sengaja datang ke rumahnya. Si mahasiswa sangat beruntung bisa bertemu dan mewawancara Ali di rumahnya. Dengan kesibukannya, Ali hampir tidak mempunyai waktu luang untuk meneria tamu di rumahnya. Nama Ali sudah sangat terkenal di kalangan remaja dan anak muda terutama kalangan mahasiswa. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses, idenya visioner tidak bisa ditebak oleh teman maupun lawan. Di usia 34 tahun, ia tercatat sebagai orang terkaya ke-51 di Indonesia versi majalah Global Asia.

Masa remajanya dihabiskan di pesantren. Ia membuktikan bahwa Islam tidak identik dengan kemiskinan. Ia membuktikan bagaimana nilai-nilai keislamanlah yang membuatnya berada pada level ini. Keadaan seperti ini bukan sebuah kebetulan. Setelah lulus dari pesantren ia memang ngotot untuk mendapatkan beasiswa kuliah di China. Sebelum melanjutkan masternya di Yale University, ia berkarir di negara tersebut sekitar 5 tahun. Pigur yang menginspirasinya untuk menjadi pengusaha adalah Ustman bin Affan.

Dengan bekal hijrahnya ke China dan Amerika, bekal dari bangku kuliah dan pengalamannya terjung di dunia kerja ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Usahanya bukan tanpa kendala. Justru ia terkenal dan sukses pada saat ini karena ia dia sudah terbiasa dengan kendala-kendala yang menerjangnya. Begitu pun sekarang, dia berkeliling nusantara dalam seminar-seminar hanya untuk menyampaikan tentang kendala-kendala, dan ia orang yang berani dan siap menghadapinya. “Orang hebat bukan orang yang tidak pernah jatuh, tapi orang yang seribu kali jatuh dan ia tetap mampu bangun untuk keseribu kalinya” demikian motonya yang sering ia ungkapkan dalam seminar-seminar yang ia hadiri.

Namun, konon, kesuksesannya ini karena mimpinya. Gosipnya ia mampu membaca mimpi-mimpi yang datang kepadanya.

“Saya bermimpi, tapi saya tidak tahu” Pertanyaan yang selalu hampir sama ia dapat. Selalu juga ia menjawab satu pertanyaan itu dengan dua jawaban. Bukan tidak tahu dan tidak mau menjawab yang ringkas melainkan ia ingin menegaskan ’sesuatu’ kepada penanya.

“Anda tidak tahu, tapi anda yakin?” Sepertinya angin sudah menyebarkan gosip ke setiap penjuru negeri.

“Tidak, saya tidak tahu dan tidak yakin” Ali menjawab dengan tegas.

“Tapi, saya sudah berusaha menkonfirmasi ini kepada teman anda; Zach” Zach temannya 19 tahun yang lalu. Teman yang ia ceritakan tentang mimpi dan ketakutannya.

“Agar anda bisa lebih memahaminya, saya ingin ajukan beberapa pertanyaan yang harus anda jawab. Seandainya sekarang di luar mendung, apa yang akan terjadi?” Akhirnya Ali berusaha serius menanggapi pertanyaan si mahasiswa.

“Hujan” jawab si mahasiswa dengan tegas, lugas dan ringkas.

“Anda tahu dan yakin?”

“mmm” Ia terdiam, merasa aneh dengan pertanyaan yang diberikan oleh Ali.

“Ya, saya tahu dan yakin” Akhirnya si mahasiswa memutuskan untuk menjawab. Dengan terlebih dahulu meyakinkan dirinya atas jawaban yang ia lontarkan.

“Anda katakan tahu dan yakin, boleh dijelaskan!”

“Ini orang ditanya satu, malah balik bertanya, banyak pula” Pikir si mahasiswa.

“Ini cara saya agar anda paham, dan buat saya ini pertanyaan yang sangat penting” tegas Ali.

Mendengar jawaban tersebut. Muka si mahasiswa sedikit memerah, malu. Ia merasa pikirannya terbaca oleh Ali. Untuk menutupi kegugupannya. Ia menjawab sekenanya.

“Tahu ya tahu, yakin ya yakin”

“Apakah setiap ada mendung pasti hujan?” Ali menyerang dengan pertanyaan berikutnya.

“Tidak, namun seringnya hujan”

Si mahasiswa berusaha menjawab dengan hati-hati dan serius. Walaupun ia tidak paham apa hubungannya mimpi dengan hujan.

“Ingat! hanya sering, tapi tidak selalu apalagi pasti”

“mmm”

Si mahasiswa manggut-manggut. tidak jelas tujuan manggut-manggutnya. Apakah karena paham apa maksud Ali atau sebagai etika berbicara agar lawan bicara merasa nyaman.

“Sendainya sekarang hujan, apakah anda tahu dan yakin bahwa sekarang hujan?”

“Ya hujan. aku tahu dan yakin”

“Saya rasa, sekarang, anda sudah mengerti apa itu tahu dan yakin”. Ali diam sejenak, Menunggu reaksi si mahasiswa. Tidak ada sanggahan. Kemudian Ali melanjutkan kata-katanya “Mimpi-mimpi saya dengan kejadian masa depan ibarat mendung dengan hujan”

“Berarti kesuksesan anda ini karena anda bisa membaca mimpi-mimpi itu?”

“Sukses… Andai benar pandangan anda terhadap saya, maka saya pastikan bukan karena kemampuan saya membaca mimpi, tapi karena kemampuan saya membuat mimpi”

“membuat mimpi?”

***

Zach adalah sahabat yang sangat memahami ali. Mereka berdua adalah bintang kelas. Rivalitas mereka sudah menjadi rahasia umum, rivalitas dalam prestasi tentunya. Ali kadang iri kepada Zach; selain cerdas, jiwa kepemimpinan matang, sikapnya bijaksana untuk usia anak SMA. Walaupun demikian, tetap saja Zach adalah orang yang Ali cari untuk bertukar pikiran, diskusi atau berdebat. Begitupun hari ini, Ali mendatangi Zach setelah kemarin siang pembicaraannya tidak tuntas.

“Dosakah saya karena percaya terhadap mimpi?”

“Dosakah kamu karena percaya terhadap mendung?”

Keduanya Diam.

“Dosakah saya karena percaya terhadap tafsir mimpi?”

“Dosakah kamu karena percaya terhadap perkiraan cuaca?”

Hening.

“Dosakah saya karena percaya terhadap penafsir mimpi?”

“Dosakah saya karena percaya terahadap ahli astronomi?”

Ali tersenyum. Zach pun tersenyum. Setiap pertanyaan Ali di jawab Zach dengan pertanyaan lagi. Ali tidak marah. Seolah pertanyaan Zach merupakan jawaban yang sangat dimengerti dan bisa dipertanggung jawabkan.

“Datang kepada dukun adalah dosa, apalagi bertanya dan mempercayainya” Ali mengungkapkan pernyataan. Sekaligus sebagai bentuk sanggahan.

“Benar, seorang dukun adalah keahlian yang menggantungkan diri kepada yang ghaib, namun tidak ada jaminan bahwa yang ghaib itu adalah Malaikat. kedua, efeknya seseorang yang percaya terhadap dukun menjadi menggantungkan nasib kepada ramalan dukun. Padahal sudah jelas baik buruk adalah dari Allah. Ketiga, ketika hal tersebut datangnya dari Iblis maka pastinya arahan-arahan dan petunjuknya adalah untuk menjauhkan manusia dari Allah. Bahkan petunjuk-petunjuknya sering berbuah fitnah antara sesama” Zach menjelaskan panjang lebar.

“Terus kenapa bertanya kepada ahli astronomi tidak berdosa?”. Ali menyerang lagi dengan pertanyaan susulan.

“Seandainya ada ahli astronomi melakukan hal saya ungkapkan seperti dukun. Maka sama saja berdosa. Apakah umumnya ahli astronomi demikian?”. Setelah mengemukakan pendapatnya, Zach balik tanya.

“Mereka sama-sama memprediksi masa depan, hal yang ghaib. Terus kenapa dihukumi berbeda?”. Jawab Ali dengan mantap. Kemudian ia menyerang balik.

“Fas Aluu Ahla dzikri in kuntum laa ta’alamuun”. Jawab Zach.

Untuk kali ini, setelah mendengar jawaban Zach barusan, Ali manggut-manggut. Ali tertawa. Zach tertawa. Namun disela-sela itu Ali bertanya hal yang tidak terduga oleh Zach.

“Bagaimana menurut kamu, kalau saya berpofesi seperti Ibnu Sirrin?”

“Ibnu Sirrin yang menafsirkan mimpinya Imam Syafi’i?” Tanya Zach, mengkonfirmasi.

Ali tidak menjawab hanya senyum-senyum saja.

Kemudian Zach melanjutkan kata-katanya.

“Mimpi yang mengahampiri pada tidur-tidur mu merupakan sebuah anugerah, namun alangkah hebatnya kalau kamu mampu membuat mimpi”

Mendengar nasihat temannya, Ali langsung merespon serius.

“Membuat mimpi?”

***

“Pak Ali kenapa anda diam?” si mahasiswa mengunggu reaksi Ali “pak Ali saya paham tentang ketahuan dan keyakinan yang dimaksud anda”

“Maaf saya teringat teman SMA saya”

“Kalau boleh saya tahu bagaimana cara membuat mimpi?”. pertanyaan yang sama yang ia lontarkan kepada Zach Sembilan belas tahun yang lalu.

“Sebaiknya pertanyaan kamu adalah tentang siapa yang bisa membuat mimpi”. Jawab Ali.

“Kenapa?”

“Karena tidak setiap orang bisa, ada syarat yang harus dipenuhi”

“Apa syaratnya?”

“Yang pertama, membuat mimpi harus dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya”

Si mahasiswa tersenyum. Badannya ia sandarkan ke kursi dengan nyaman, setelah bebeberapa 41 menit badannya tegang merasakan ketegangan wawancaranya dengan Ali. Sepertinya sekarang ia sudah mendapatkan intinya.

“Tapi ada syarat yang kedua yang harus dipenuhi”

Si mahasiswa kembali menyondongkan badannya lagi kedepan.

“Apa itu?”. Dia berharap bahwa ini adalah akhir dari rahasia kesuksesan Ali yang ia berikan kepadanya.

“Kamu harus punya mental yang kuat, jadilah pemberani! jangan jadi penakut!” Ali ingat sekali dulu slogan yang ia buat untuk mengobati rasa takutnya, “CECURUT LEBIH BAIK DARI PADA PENAKUT”

 

Pertama kali dipublikasikan di sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s