Pembenteruan Islam vs Barat dalam Desain


Disadari ataupun tidak, semua masyarakat -tanpa dibatasi agama, suku, negara ataupun pendidikan- telah menyepakati bahwa lawan kata Islam adalah Barat (Western). Bukti kesepaktan tersebut dengan selalunya masyarakat melawankan Barat dengan Islam. Negara barat vs dengan islam (muslim), sistem pemerintahan barat vs sistem pemerintah Islam, sistem pendidikan barat vs sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi barat vs sistem ekonomi Islam dan hal lainnya.

Islam adalah sebuah agama, selayaknya pembandingnya adalah agama juga. Sedangkan barat adalah ‘petunjuk arah tempat’, konteknya disini adalah negara-negara bagian barat. Seharusnya pembandingnya adalah timur atau negara-negara bagian timur. Tentu lahirnya benturan ‘Islam dan Barat’ dalam sebuah istilah ada bidannyra. Saya penasaran siapa orangnya dan apa motivnya?

Terus terang saya cukup tertanggu setiap kali seseorang yang membenturkan barat dengan Islam. Dengan tanpa disadari Islam menjadi antagonis sedangkan Barat protagonis. Sebelum menguraikan beberapa asumsi saya, lebih baik kita memahami dulu istilah Islam dan Barat secara lebih holistik.

Islam adalah agama yang mengatur umatnya dalam semua aspek kehidupan. Islam bukan hanya sebuah kepercayaan (keyakinan) namun melahirkan sebuah komunitas dan kebudayaan. Namun bukan hanya agama Islam saja, agama lain pun demikian. Islam bukan agama yang hanya khusus di Timur Tengah, Islam agama untuk dunia. Bahkan dalam sejarah, Islam banyak dianut oleh orang-orang Eropa sampai menghilang karena tperang Salib.

Barat dalam konteksnya ini adalah negara-negara yang berada di Barat. Kalau bentuk bumi itu bulat seperti globe, untuk saya tidak ada negara barat dan timur. Kecuali kalau bentuk bumi itu seperti Peta yang persiegi panjang. Justru lebih masuk akal negara Utara atau Selatan, kita bisa lebih mudah karena ada porosnya. Namun tulisan saya kali ini bukan tentang itu. Agar difahami, saya menggunakan istilah yang ada saja dulu; negara barat.

Dimanapun berada, sebuah negara tentu dihuni oleh kumpulan manusia yang mempunyai daya pikir dan kebudayaan. Namun bahkan mempunyai kepercayaan (keyakinan); lebih mudahnya agama. Termasuk yang ateis, itulah keyakinan teologinya. Keadaan ini sama baik di negara-negara barat atau negara-negara timur.

Melihat uraian tadi seharusnya Barat tidak dilawankan dengan Islam, melainkan dengan timur, selatan, timur tengah atau yang lainnya. Seandainya orang-orang yang tinggal di Barat mempunyai ide-ide tentang ekonomi, politik, pendidikan atau yang lainnya, tentu orang-orang di Timur atau bagian manapun mempunyai ide. Kenapa dibenturkan dengan agama?

Jika alasanya karena Islam memiliki konsep untuk semua aspek kehidupan umatnya. Begitupun agama lain. Jika alasannya Barat mewakili agama Kristen karena mayoritasnya adalah kristian, kenapa tidak menggunakan Timur sebagai refresentasi Islam mayoritasnya adalah Muslim?

Pembenturan Islam dengan Barat hemat saya merugikan citra Islam, alasannya;

Seolah-olah ide-ide barat tidak Islami. Bisa jadi walaupun para penelitinya bukan muslim justru penemuan-penemuan ilmiah baik di bidang fisika ataupun sosial mereka adalah pembuktian dari ayat-ayat al-qur’an. Bukankah banyak teori Al-Qur’an yang dibuktikan kebenarannya melalui penelitian orang-orang barat? Namun ketika penilitiannya mapan, cepat-cepat orang Islam mengklaimnya bahwa Al-Qur’an lebih dulu.

Seolah-olah Islam adalah agama anti konsep Ilmiah. Setiap ada hasil penelitian yang dianggap tidak sesuai, langsung di katakan barat, kafir, dan salah. Padahal banyak konsep al-Qur’an mendorong umatnya untuk melakukan kajian ilmiah.

Sedikit contoh, yang sedang hangat di Malaysia tentang konsep pendidikan. Tentang larangan mendidik dengan memukul anak didik. Bahkan dalam Khutbah jum’at (30/1/15) karena tidak setuju, langsung hakimi bahwa aturan itu adalah konsep barat, karena Rosulullah mengajarkan agar mendidik anak yang tidak mau sholat usia mumayyiz dengan di pukul kakinya. Lagi-lagi Barat yang dipersalahkan.

Padahal seharusnya, 1. Pahami dulu konsep memukul yang dimaksud Rosulullah dan pahami konsep larangan memukul itu. 2. Ketika konsep larangan memukul itu berdasarkan hasil penelitian, seharusnya lakukan penilitian ulang validitasnya. 3. Kenapa umat Islam tidak melakukan penilitian tentang konsep memukul ala Rosulullah juga. 4. Bantahan atau konfirmasi sebuah penilitian ilmiah, bukan dengan emosi, tapi dengan konsep ilmiah juga. Al-qur’an bukan buku ilmiah, tapi al-Qur’an mendorong umatnya untuk hadirnya lingkungan Ilmiah.

Seolah-olah tidak ada umat Islam yang melahirkan penemuan-penemuan Ilmiah. Padahal faktanya banyak ilmuan-ilmuan Islam dalam berbagai bidang. Bahkan banyak ilmuah Islam seperti Ibnu Rusydi, Ibnu Sina, Ibn Maskawaih dan yang lainnya menjadi referensi bagi perkembangan penemuan ilmiah di jaman sekarang. Baik bagi umat Islam, maupun bukan.

Isu keagamaan sangat mudah menjadi pemicu atas reaksi penganutnya. Bagi yang mempunyai ilmu, maka reaksinya elegan. Namun bagi yang tidak, maka reaksinya adalah emosi. Membentuk kata Barat dan Islam, di lapangan banyak menimbulkan reaksi yang emosional dari umat Islam. Yang bahaya adalah anggapan bahwa umat-umat lain tidak emosional menanggapi hasil dari penilitian ilmiah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s