Da’i Malaysia; Rasuah Halal dan Allah Tinggal di Ka’bah


 

Tayangan pengajian merupakan layanan televisi yang menurut saya sangat bagus. Masyarakat bisa banyak belajar dari program tersebut, tidak terkecuali saya. Namun kapasitas keilmuan dan kebijakan seorang dai seharusnya menjadi dasar station televisi untuk memberi kesempatan berbicara di depan kamera. Ketika kedua hal tersebut tidak ada dari seorang da’i bisa jadi timbul masalah.

Hal seperti ini bukan hanya terjadi di Malaysia saja sebetulnya, tapi juga Indonesia. Hanya saja karena saya sedang tinggal di Malaysia, tentu tayangan pengajian di televisi Malaysia yang saya ikuti.

Dari ikut serta dalam program pengajian di televesi, ada 3 pernyataan yang membuat saya mengernyitkan dahi;

1. Menyogok halal.

Dalam ajang pencarian  bakat ‘Da’i Pendakwah Milenia’ di TV 3. Seorang finalis mendapatkan pertanyaan tentang sikapnya jika diberi amanah menjadi pejabat, yang saat itu ada orang yang mau memberikan rasuah sedangkan keluarganya sedang sangat membutuhkan uang untuk berobat.

Sang da’i finalis ini menjawab dengan sebuah kaidah ushul fiqh, “Adhdhorurotu Tubiihul Mahduurot” (Kesulitan membolehkan sesuatu yang dilarang (haram)).

Kalau semua da’i seperti ini, maka hancurlah umat. Untung ada Ustadz Harriyanto, dewan juri yang meluruskan pernyataan sesat sang da’i.

2. Allah tinggal di Ka’bah.

Di TV 3 setiap ba’da subuh, ada program pengajian BISMILLAH. Pada minggu pagi (25/1/15) tema pengajiannya adalah tentang do’a. Singkat kata, pembahasan pengajian masuk pada bahasan ‘adab berdo’a’. Sang penceramah menjelaskan, “Salah satu adab berdo’a adalah menghadap kiblat. Masa mau meminta, membelakangi Allah”.

Memangnya Allah tinggal di Ka’bah? Memangnya Allah butuh tempat tinggal? Tidak. Mungkin beliau lupa, padahal ada hadits yang menganjurkan saat berdoa melihat menghadap langit, kalau pakai logika yang sama, maka Allah itu ada di langit. Ini adalah logika salah.

3. Menikah tidak menjadikan kebersamaan antara suami dan Istri.

Masih di TV 3, dalam tanyangan iklan tentang sebuah pengajian, ada seorang penceramah perempuan yang sedang memberikan ceramah. Tema ceramahnya adalah tentang rumah tangga sepertinya. Dalam cuplikan ceramahnya, ia menjelaskan, “istri yang solehah tidak akan merasa sedih ketika suaminya jatuh miskin.”

Kata-katanya tidak menyalahi konsep keagamaan yang pokok. Namun untuk seorang figur, kata-katanya kurang bijak. Tentu kata-kata yang ia keluarkan berdasarkan prinsipnya dalam berumah tangga. Dari kata-katanya difahami bahwa istri dan suami tetap orang berbeda termasuk dalam kondisi rumah tangga, tidak ada kesatuan antara suami dan istri.

Ketika memahami konsep bahwa suami dan istri adalah satu kesatuan. Tepuruk dan suksesnya adalah milik bersama. Tidak ada istilah “suami jatuh miskin”, ketika bisnis suami bangkrut berarti yang miskin adalah suami istri, bahkan keadaan keluarga.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s