Sambal Setan


Sepulang ke tanah air tercinta, setelah 6 tahun bekerja di negeri orang, Ashii langsung bergerak. Dia tidak mau tinggal diam. Tidak mau tabungan yang ia kumpulkan selama ini habis begitu saja. Dengan usianya yang tidak muda lagi, dia akan sulit bersaing di dunia kerja. Perusahaan-perusahaan di dalam negeri akan lebih suka memilih yang fresh graduate, selain alasan segarnya ilmu yang mereka kuasai, juga yang paling penting adalah gaji yang perlu dibayar cukup rendah dan lebih mudah di atur.

Pengalaman Ashii menjadi TKI lebih dari cukup untuk mengecapi penindasan; penindasan dari atasan dan penindasan dari saudara senegara. Orang tuanya di kampung sudah mewanti-wanti agar dia jaga diri dari konflik dengan atasan di tempat kerja. Namun yang paling membuat luka menganga di hatinya adalah penindasan dari saudara senegara. Ia pernah ditipu oleh agen penyalur dan ditipu oleh pejabat pemerintah. Pernah suatu saat mau boarding di bandara Soeta, ia dilarang masuk karena tidak punya kartu KTKLN. Mau tidak mau, ia mengikuti arahan orang yang mengatasnamakan pejabat pemerintah. Disebabkan pengurusan pembuatan kartu ini, hampir saja ia tidak jadi berangkat, alasannya karena ia tidak ada lagi uang untuk membayar airport tax. Uangnya yang tinggal 500 ribu habis untuk membayar kartu itu. Kartu yang tidak pernah menyelamatkan para TKI dari penindasan.

Ibunya bahkan setengah hati, mengijinkan Ashii untuk bekerja menjadi buruh kasar diluar negeri. Namun apa daya, pemerintahnya seperti tidak peduli terhadap rakyatnya; kebijakan-kebijakan ketenaga kerjaan lebih memihak pemilik modal, tidak ada kebijakan yang mendorong warganya sendiri untuk maju. Alih-alih kebijakan mendorong warganya maju, justru orang-orang asing menjadi tuan di negaranya. Pemerintah lebih senang melihat rakyatnya menjadi budak bagi orang-orang asing di negara sendiri. Pejabat pemerintah seolah tidak punya mata dan telinga saat rakyatnya teriak-teriak menderita. Bahkan saking menderitanya mereka ingin memisahkan diri. Namun apa yang mereka dapatkan? Mereka mendapatkan berita bahwa kontrak Freeport diperpanjang.

Melihat fakta seperti ini, Ashii sadar bahwa peluang adanya bantuan dari pemerintah terhadap rakyatnya, layaknya rakyat-rakyat di negara lain, sangat kecil. Mungkin hanya 0.001 %. Ia harus berjuang sendiri. Dan yang ia pikirkan adalah berwirausaha. Apalagi ia sering termotivasi oleh banyaknya orang-orang yang pasang DP almarhum Bob Sadino dengan quotenya tentang “kepala dan ekor”. Ada ucapan Bob Sadino yang paling ia gemari, “jadilah orang bodoh, jika ingin kaya dan sukses”. Qoute ini membuatnya bersemangat, karena ia bangga telah memiliki modal dasar untuk kaya dan sukses.

Wirausaha. Itu yang menjadi pilihannya. Berbekal informasi dari mbah google dan gosip dari mulut ke mulut. Akhirnya ia tertarik dengan satu usaha; “sambal setan”. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, kenapa hanya sambal bisa menjadi produk yang menguntungkan? Namun yang paling membuat dia kaget adalah setelah mendengar rumor efek dari sambal tersebut. Saking penasarannya, ia coba membeli produknya. Lebih terkaget-kaget saat ia membaca ‘tagline’ produk tersebut.

SAMBAL SETAN
Sakit Perut Tanggung Sendiri

“Aku harus belajar langsung” gumam Ashii.

Esok harinya ia berangkat ke tempat pembuatan produk ‘Sambal Setan’. Perjalanannya cukup melelahkan, bagaimana tidak? Perjalanan Trenggalek (Jawa Timur) ke Sukabumi (Jawa Barat) lewat darat harus menghabiskan waktu sehari semalam dengan istirahat dan cari-cari alamatnya. Namun kepenatannya terbayar dengan keindahan alam Sukabumi dan bertemu langsung dengan pencipta “Sambal Setan”; Pak Tabi.

Setelah melihat-lihat bagaimana proses pembuatan sambal setan itu, dan banyak bicara tentang pengalaman pak Tabi dalam bisnisnya. Akhirnya Ashii pun menyampaikan beberapa hal yang menjadi unek-uneknya.

“Saya tidak terlalu heran dengan anehnya nama sebuah produk, justru nama anehnya itu bisa menjadi penarik pelanggan” sebelum bertanya Ashii memberikan sebuah opininya tentang produknya pak Tabi “Namun, mohon maaf pak Tabi, kenapa membuat produk konsumen menderita, bahkan taglinenyapun ancaman?” tanya Ashii bertubi-tubi.

“Anak muda dengar baik-baik!” panggil Pak Tabi seperti dalam film-film persilatan “Pangsa pasar saya adalah para pecinta sambal. Saya sama sekali tidak takut akan kehilangan pelanggan, karena untuk penggemar sejati apapun akibatnya ia tidak akan meninggalkannya. Sama seperti penggemar kemaksiatan”.

“Apa hubungannya pak Tabi?”

“Orang yang memakan sambal, dirinya sadar akan akibat kebanyakan makan sambal apalagi sambal setan. Namun ia tidak memperdulikan pikirannya. Justru rasa pedas di mulut membuatnya ingin tambah lagi. Sambal biasapun kalau kebanyakan mengakibatkan sakit perut, minimal”. Pak Tabi berhenti dulu, sambil mengambil air putih yang ada di depannya “Begitulah pelaku maksiat. Hatinya tahu konsekuensi perbuatannya. Namun satu kali maksiat yang ia lakukan bisa mendorong maksiat-maksiat lainnya. Bisa jadi, lama-kelamaan ia termasuk ayat “minal jinnati wannnas”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s