“Yang Penting Hatinya Berjilbab”, Bisakah?


“Yang penting hatinya berjilbab” atau “yang penting hatinya berhijab”. Saya menduga kuat, kita semua pernah mendengar ucapan seperti itu. Tampaknya benar, namun ada yang salah dengan logika tersebut.

Biasanya ucapan tersebut dilontarkan oleh perempuan yang belum (tidak) berjilbab. Atau bisa juga oleh lelaki yang memandang bahwa tidak perlunya jilbab kepala untuk perempuan. Penyebabnya bisa banyak; bisa karena mendapat nasihat untuk berjilbab, bisa juga sebagai langkah preventif dari nasihat tentang berjilbab, sedangkan dirinya belum (tidak) mau. Atau bisa juga karena dirinya ingin mengajak orang lain seperti dirinya, mengajak agar tidak berjilbab.

Secara sepintas ada benarnya. Ucapan tersebut ingin mengingatkan kepada yang berjilbab agar hatinyapun baik, jangan sampai hanya rambut saja yang ditutup sedangkan hatinya ‘liar’; iri hati, hasud, memfitnah dan keburukan-keburukan yang lainnya masih dikerjakan. Dalam hal bahwa kita harus menjaga hati dari sifat-sifat yang jelek, menjaga hati dari menyuruh untuk melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh Allah, saya sepakat.

Namun, ucapan “yang penting hatinya berhijab” mempunyai beberapa arti yang menyesatkan. Ucapan tersebut bisa berarti; 1. bahwa “yang lain” tidak penting. Tentu maksud “yang lain” adalah berhijabnya kepala bagi perempuan. 2. “berhijab hati lebih penting daripada berhijab kepala”. Atau 3. “tidak berguna berhijab kepala, kalau hatinya tidak berhijab”.

Frasa “berhijab hati” belum ada definisinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Untuk memahaminya kita bisa mengurai dari dua kata; hijab dan hati. Hijab (jilbab) adalah sarana untuk menjaga aurat (rambut kepala) perempuan dari terlihat oleh yang bukan mahrom. Bagi orang Islam, menutup aurat adalah sebuah kewajiban dan bentuk ketaatan terhadap Allah. Sedangkan hati dalam KBBI adalah afeksi, batin, fuad, kalbu atau nurani. Jadi kita bisa memahami bahwa “berhijab hati” artinya kondisi hati yang selalu dijaga (terlindungi) agar tidak melakukan keburukan, yang tidak disukai oleh Allah. Keadaan hati yang tunduk atas perintah Allah.

Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang bisa berhijab hatinya tanpa berhijab kepalanya. Kenapa? Karena saat seorang muslimah tidak mau menutup kepalanya (aurat) adalah bukti bawa hatinya tidak berjilbab, hatinya tidak bisa menjaga dari sesuatu yang Allah benci, hatinya belum tunduk atas perintah Allah.

Terus bagaimana dengan muslimah yang berjilbab kemudian masih melakukan banyak kesalahan? Inilah tugas kita saling mengingatkan. Ia sudah berusaha menjalankan satu perintah Allah, kita bantu agar ia menjalankan perintah-perintah Allah yang lain.

Nah bagi kita (muslimah) yang belum berjilbab kepala namun merasa sudah “berjilbab hatinya” maka sempurnakanlah jilbab hatinya, sempurnakan ketundukan hati kita kepada Allah. Bukankah menutup aurat adalah perintah Allah? Perlu kita ingat, bahwa keengganan menjalankan perintah Allah adalah bukti bahwa hati yang belum baik.
Adapun perintah Allah tentang menutup aurat bagi perempuan adalah:

1. Surat Al- Ahzab ayat 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab:59).

2. Surat An-nur ayat 31

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.
(QS. An-nur :31)

Allahu ‘Alamu

One response to ““Yang Penting Hatinya Berjilbab”, Bisakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s