Kenapa Menolak Maulid Rosul?


Oleh: Hidayat Doe

Segala puji bagi Allah Subhanallahu Wata’ala yang telah memberikan kita kesehatan, kekuatan dan keimanan untuk beribadah kepadaNYA. Semoga shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para shahabatnya.

Pertama-tama saya ingin ucapkan terima kasih banyak kepada Saudara Padlilsyah yang telah memberikan tanggapannya atas link yang saya share kepadanya. Tanggapannya bisa menambah ilmu dan wawasan saya. Mudah-mudahan rahmat dan nikmat kesehatan selalu tercurah untuk saudaraku “Padil”, demikian biasa kami menyapanya.

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan Mas Padil tentang Maulid Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam yang berjudul “Mengingat Kelahiran Rosulullah Saw Haram?” Kebetulan Maulid Rosul sedang ramainya diperingati.

Dalam pembahasan awal Mas Padil mengemukakan bahwa dalih kelompok yang tidak mau mengingat dan mengenang kelahiran (maulid) dan sejarah Rosulullah Saw adalah bahwa perbuatan itu adalah haram. Karena perbuatan itu teremasuk bid’ah. Tampaknya Mas Padil belum memahami sepenuhnya pengertian bid’ah. Pengertian bid’ah ada dua jenis, bid’ah menurut bahasa dan bid’ah menurut syariat. Bid’ah menurut bahasa, berasal dari kata bid’a yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh.

Sedangkan pengertian bid’ah menurut syariat (syar’iyyah) adalah: setiap hal yang diada-adakan dalam agama Allah yang sama sekali tidak mempunyai landasan dalil, baik dalil yang umum ataupun yang khusus. Bid’ah secara syar’i intinya adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah. Atau bid’ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam dan tidak pula oleh para Khulafaur Rasyidin.

Definisi pertama disimpulkan dari firman Allah Subhanahu wata’ala yang artinya : “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’ atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah.” [Asy-Syura: 21]. Sedangkan definisi kedua disimpulkan dari sabda Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam yang artinya; “Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa ‘ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan.”(HR. Abu Dawud daan Ibnu Majjah)

Jadi, setiap yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyaritkan Allah atau dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafa’ur Rasyidin, berarti ia pelaku bid’ah, baik ibadah itu berkaitan dengan Asma’ Allah dan sifat-sifatNya ataupun yang berhubungan dengan hukum-hukum dan syarat-syaratnya.

Adapun perkara-perkara yang berkaitan dengan kebiasaan, tradisi, muamalah (non ibadah) maka tidak disebut bida’h dalam segi agama (syarr’i) walaupun disebut bida’h secarah bahasa. Tetapi yang demikian itu bukan bid’ah dalam agama atau syariat dan tidak termasuk hal yang diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hukum asal dari setiap perkara muamalah dan adat (non ibadah) adalah boleh kecuali ada dalil yang melarangnya. Sedangkan asal dari setiap perkara ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang memerintahkannya dan menghalalkannya. Karena itulah saya melihat Mas Padil keliru mengutip kaidah perkara muamalah dan ibadah dengan mengatakan, “ Salah satu dasar yang digunakan bahwa mengingat dan mengenang kelahiran Rosulullah Saw adalah haram adalah kaidah ushul fiqh “Asal dari setiap perkara adalah haram”.Hemat saya, mereka mungkin lupa kaidah ushul fiqh tersebut belum selesai, adapun lengkapnya begini: “Asal dari setiap perkara adalah haram, kecuali ada dalil (dasar) yang menghalalkannya”. Pertanyaannya lalu apa dalil yang menghalalkannya? Saya akan urai pada bahasan “Dasar Mengingat Kelahiran Rosulullah”.

Kaidah ibadah dan muamalah ini telah jelas disampaikan oleh beberapa ulama Syafi’iyah, seperti, Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya (5: 43). Ibnu Hajar berkata,“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil). Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata, “Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)” (Fathul Bari, 2: 80).

Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’iyyah juga berkata, “Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”. Kaedah ini beliau sebutkan dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.

Selanjutnya Ibnu Taimiyah rahimahullah lebih memperjelas kaidah ibadah dan non-ibadah sebagai berikut:
“Hukum asal ibadah adalah tawqifiyah (dilaksanakan jika ada dalil). Ibadah tidaklah diperintahkan sampai ada perintah dari Allah. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21). Sedangkan perkara adat (non-ibadah), hukum asalnya adalah dimaafkan, maka tidaklah ada larangan untuk dilakukan sampai datang dalil larangan. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal” (QS. Yunus: 59). Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang membuat syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan yang tidak diharamkan. (Majmu’ Al Fatawa, 29: 17).

Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

Ketika Mas Padil mengatakan bahwa (perayaan) mengenang maulid Rosul bukan ritual ibadah, menurut saya agak membingungkan dan tidak jelas rujukan faktanya. Bukankah dalam (perayaan) mengenang Maulid Rosul di masyarakat banyak mengandung ritual ibadah yang tidak jelas dalilnya? Misalnya “baca-baca” dengan suguhan makanan ala hindu, diiringi barzanji, doa tertentu yang tidak ada syariatnya. Semua itu tentu haram.

Lantas bagaimana dengan argumen bahwa acara (perayaaan) mengingat Rosul hanya diisi dengan dzikir-dzikir, sebagaimana Mas Padil kemukakan dengan dalil-dalilnya? Barangkali disinilah perbedaannya. Saya memandang dalam perkara mengenang maulid dengan diisi dzikir-dzikir tidak ada dalil khususnya. Apa yang dikemukakan Mas Padil hanyalah dalil-dalil umum. Maksudnya, dalam masalah dzikir dalam kaitannya dengan perayaan maulid saya lebih mengutamakan dalil khususnya. Ini penting untuk menghindari munculnya kekeliruan kaum muslimin yang bisa menisbatkan dzikir pada momentum maulid.

Bagaimana dengan istilah bid’ah hasanah (baik) yang biasa digembar-gemborkan oleh sejumlah orang termasuk mas Padil sendiri? Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah syayyiah (jelek) dan bid’ah hasanah (baik) dan adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”(Abu Dawud, At-Tirmidzi ). Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.

Bagaimana pula dengan perkara shalat Tarawih secara berjamaah? Atau penulisan hadits? Perlu diketahui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat tarawih secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) karena beliau khawatir kalau itu dijadikan sebagai satu kewajiban. Lalu ketika di zaman Umar melihat para sahabat sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bid’ah dalam Ad-Dien.

Begitu juga halnya penulisan hadits sebenarnya ada rujukannya dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena ada permintaan kepada beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum adalah ditakutkan tercampur dengan penulisan Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang.

Sehingga apa yang dilakukan pada masa Abu Bakar tentang pembukuan Al Quran sebenarnya ada rujukannya. Sebab pembukuan Al Quran juga termasuk dalam kaidah al-maslahat al-mursalat, suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara’ dan tidak ada dalil-dalil yang menyuruh untuk mengerjakannya sementara bila dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar bagi Islam. Sekiranya Al Quran dibukukan pada zaman Rosulullah maka hal tersebut jelas tidak mungkin karena masih adanya faktor penghalang, wahyu masih terus turun dan masih terjadi perubahan hukum. Namun, faktor penghalang itu hilang setelah wafatnya Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam karena wahyu dan hukum sudah sempurna dan paten. Jadi, mengumpulkan Al Qur’an pada saat itu adalah suatu maslahat.

Kaidah al maslahat al mursalat pernah dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah, di mana beliau berkata “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada dan mengandung suatu maslahat, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa perkara tersebut bukanlah maslahat. Namun, apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hal itu bukanlah maksiat, maka perkara tersebut adalah maslahat.“ (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2: 101-103).

Pada perayaan mengenang maulid Nabi, apakah ada faktor pendorong untuk melakukannya pada zaman nabi, sahabat dan tabi’in? Ada. Apakah ada faktor penghalang? Tidak ada, artinya para sahabat, tabi’in ketika itu bisa melaksanakannya. Sehingga jika hal tersebut dilakukan oleh orang sesudahnya, maka itu bukan maslahat, tetapi termasuk bid’ah.

Para ulama telah berkata mengenai suatu amalan yang tidak pernah diajarkan sebelumnya oleh para sahabat,“Seandainya amalan tersebut (perayaan maulid) baik, tentu mereka (para sahabat dan tabi’in) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Sebagaimana perkataan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir surat Al Ahqof ayat 11.

Ibnu Taimiyah juga mengatakan demikian “Sesungguhnya para salaf tidak merayakannya (maulid Nabi) padahal ada faktor pendorong untuk merayakannya dan juga tidak ada halangan untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan kita. Mereka -para salaf lebih semangat untuk berbuat kebaikan” (lihat Iqtidho Shirothil Mustaqim, 2/612-616, dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 198).

Demikian yang saya sampaikan. Yang salah datangnya dari saya secara pribadi, yang benar dari Allah Azza Wajalla. Wallahu a’lam bishowab.

 

PS. Tujuan saya memuat jawaban saudara saya, mas Hidayat Doe, adalah ingin menyampaikan bahwa perbedaan tidak mesti menjadi sebuah perpecahan -semoga kamipun demikian. Justru ketika perbedaan disampaikan dengan argumentasi yang ilmiah (sekemampuan kita tentunya), maka khazanah keilmuan kita akan bertambah. Saat bertemu, kami belajar bersama tentang banyak hal, termasuk agama. Diskusi dalam blog ini baru mulai. Akan berlanjut setelah saya memberi tanggapan atas tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s