Tidak Semua Sunnah Rosul adalah Sunnah


Saya sering sekali mendengar lelucon atau bisa jadi ungkapan serius seperti ini, “Poligami kan sunnah rosul”, “Cara berobat demikian ini adalah sunnah rosul”, atau ada juga pedagang yang menawarkan sebuah jenis obatnya “Obat ini ada haditsnya, memakannya adalah sunnah rosul”.

Apapun motivasinya, lelucon ataupun serius, membuat hati saya sedih. Kok bisa dengan mudahnya lelucon disandingkan dengan sunnah Rosul. Pun saat mengatakannya serius, karena dia ingin menegaskan bahwa Rosulullah Saw, pernah melakukannnya, maka kenapa kita tidak? Ada indikasi kuat sunnah rosul yang diucapkannya bermakna bahwa perbuatan itu adalah bernilai ibadah ketika dilaksanakan.

Apakah benar anggapan tersebut? Untuk mengulitinya kita harus pakai alatnya. Alatnya adalah ilmu ushul fiqh. Ya, tulisan kali ini adalah pembahasan ilmu ushul fiqh.

Sumber Hukum dan Hukum Syara’

Kholid Romdon Hasan dalam Mu’jam Ushul Fiqh menyebutkan bahwa sumber hukum yang disepakati (Al-Adillah Almuttaq ‘Alaiha) ada empat; Alqur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Dasarnya adalah QS. An-Nisa [4] : 59 ”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Demikian halnya Abdul Wahab Kholaf dalam Ushul Fiqhnya mengatakan, “Keempat sumber hukum itu digunakan berdasarkan urutan tertib, adapun dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bagawi, “Menurut Muadz bin Jabal bahwasannya Rosulullah Saw pernah mengutusnya ke Yaman”. Rosulullah bertanya, “bagaimana kamu menghukumi sebuah perkara?” Mua’dz menjawab, “aku akan menghukumi dengan kitabullah (alqur’an)”. Lalu Rosulullah bertanya lagi, “jika tidak terdapat dalam Alqur’An?” Muadz menjawab, “dengan sunnah Rosulullah”. Rosulullah bertanya lagi, “bagaimana jika tidak ada dalam sunnah rosulillah?” Muadz menjawab, “saya akan berijtihad dengan pandanganku” Muadz mengatakan, “Rosulullah Saw lalu menepuk-nepuk dadanya sambil bersabda, “segala puji milik Allah yang telah memberikan taufik terhadap utusan Rosulullah”

Maimun bin Mahron mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khottab saat mengambil keputusan ia merujuk kepada Kitabullah, jika tidak ada di dalamnya ia merujuk dari sunnah rosul, jika tidak ada maka ia mengumpul orang-orang untuk diminta pendapatnya. (Abdul Wahab Kholaf: 21-22).

Sekarang pembahasan hukum syara’. Hukum Syara’ terbagi dua; hukum taklifi dan hukum wad’i. Hubungannya dengan judul tulisan ini adalah hukum taklifi. Hukum taklifi ada lima; wajib, mandub, mubah, haram, dan makruh. Adapun hukum wad’i ada tiga; sebab, syarat dan maani’ (penghalang). Ketiga hal ini berpengaruh atas hasil (perubahan) dari hukum syara’ yang lima.

Saya tidak akan mendifinisikan kelima hukum syara’ tersebut disini. Namun mari kita fokuskan terhadap istilah mandub. Mandub adalah sebuah hukum yang dimana mukallaf dituntut untuk melakukanya namun tidak ada keharusan. Dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan konsekuensi hukuman. Ya, mandub ini sering kita kenal dengan istilah sunnah. Saya contohkan “hukum puasa senin dan kamis adalah sunnah”.

Sunnah Rosul dan Sunnah (Mandub)

Sunnah Rosul adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rosulullah Saw, baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (kesepakatan). Mudahnya, sunnah rosul adalah segala ucap, gerak gerik dan diamnya Rosulullah. Dari definisi tersebut kita bisa tahu ada tiga macam sunnah; sunnah qouliyyah, sunnah fi’liyyah dan sunnah taqririyyah. Perkataan, perbuatan dan diamnya rosulullah adalah salah satu yang dikaji oleh ilmu ushul fiqh. Sebagaimana halnya al-Qur’an, sunnah rosulpun memberikan konsekuensi terhadap lima hukum syara’ untuk mukallaf. Produk dari ushul fiqh ini kita kenal fiqh. Hukum syara’ yang lima kita sebut saja hukum fiqh yang lima: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Sekarang jelas, bahwa belum tentu ucapan rosulullah hukumnya sunnah (mandub). Belum tentu perbuatan Rosulullah hukumnya wajib bagi umatnya.

Sedangkan sunnah (mandub) selain dari definisi diatas, dalam buku-buku fiqh (baik di sekolah maupun umum) sunnah adalah sesuatu yang jika dilaksanakan mendapatkan pahala dan jika ditinggal tidak apa-apa. Namun menarik juga jika saya mengutif definisi sunnah menurut guru saya, Ustadz Haji (gelar untuk K.H. T Abdullah). Menurut beliau, sunnah adalah sesuatu yang dilaksanakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan mendapatkan kerugian. Kenapa rugi? Karena kita tidak melakukan amal sholeh. Sebagaimana yang Allah ingatkan dalam surat al-Ashr.

Untuk permasalahan kata sunnah rosul dan sunnah (mandub) Saya berikan contoh, ketika ada yang bilang bahwa poligami adalah sunnah rosul sebagai legalisasi atas keinginannya (syahwatnya) tentu tidak berdasar. Saya bisa katakan bahwa monogami pun sunnah rosul, karena Rosulullah pun tidak memadu Siti Khodijah sampai wafatnya. Bagaimana kalau saya katakan, dalam poligami sunnah rosulnya adalah istri kedua, ketiga dan keempatnya adalah nenek-nenek? Satu contoh lagi, benar bahwasannya salah satu cara berobat Rosulullah adalah dengan mengeluarkan darah nya (bekam). Tapi hati-hati jika beranggapan bahwa hukumnya adalah sunnah (mandub).

Bagi kita yang belum memahami bagaimana tatacara istinbath hukum (menggali dan menetapkan sebuah hukum) maka ada baiknya mengikuti saja terhadap hasil-hasil istinbath hukum para ulama; Ilmu fiqh. Ulama sudah mempermudah umatnya untuk menjalankan Islam dengan benar. Apakah ini hukumnya wajib, sunnah (mandub), mubah (boleh), makruh, atau haram.

Allahu ‘Alamu

Sumber:

  • Abdul Wahab Kholaf. (1956). Ilmu Ushul Fiqh. Al-Azhar: Maktabah Ad-Da’Wah Al-Islamiyyah.
  • Kholid Romdon Hasan (1997). Mu’jam Ushul Fiqh.

PS. Jika ada benarnya semoga ilmu dan manfaatnya dicurahkan kepada guru saya Almarhum Ustadz H. T. Abdullah, Pengasuh pondok pesantren Tanwiriyyah, yang mengenalkan dan mengajarkan saya ilmu ushul fiqh. Bagi yang berkenan mohon bacaan alfatihah dan pahalanya untuk beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s