Kurikulum 2013: Kurikulum (tidak) Matang?


Agak lambat memang tulisan ini. Namun begitu, semoga tulisan ini menambah fakta-fakta tentang penyelenggaraan kurikulum 2013 (Kurtilas). Saya tidak membahas tentang kurtilas secara umum, seperti konsep tematik untuk meningkatkan akhlak siswa dan konsep penilaian yang menjelimet yang katanya lebih objektif. Saya tidak bahas karena masuk term opini.

Beberapa hal yang saya soroti dan sangat kasat mata tentang ketidak beresan yang ada;

1. Pengadaan Buku

SD tempat saya belajar dulu, termasuk sekolah yang sudah memulai menggunakan kurtilas. Dari para guru didapatkan informasi bahwa walaupun sudah menggunakan kuritilas tapi mereka tidak bisa leluasa mengajarkannya. Alasannya adalah bahwa buku yang telah dibeli dari dana BOS tidak kunjung datang. Biasanya datang saat akhir semester atau akhir tahun ajaran. Dan untuk menutupi kelemahan itu, para guru di intruksikan untuk mendowload buku-bukunya dan menggandakannya.

Hal ini tentu akan memberatkan sekali untuk para guru di SD tersebut. Sekolah yang berada di sebuah kampung, jalannya hancur, dan sulit dari akses transportasi dan komunikasi. Kalau ingin menggandakan satu lembar maka seseorang harus rela mengeluarkan ongkos sekitar 30.000 pulang pergi.

Dan tahukah? Kondisi yang terjadi di SD tersebut banyak di alami di sekolah-sekolah di kabupaten Sukabumi. Bahkan termasuk di seluruh wilayah Indonesia. Bayangkan saja, Sukabumi yang dekat pusat pemerintahan saja sudah kesulitan, apalagi sekolah-sekolah yang berada di pelosok.

Dan satu lagi, alasan keterlambatannya karena buku-bukunya belum selesai di cetak. Kenapa harus dijalankan dulu kalau, belum siap?

2. Penulisan buku

Ada beberapa prinsip dalam kurtilas; 1. Seorang guru hanya memberikan pemicu agar memunculkan rasa keingin tahuan anak-anak dalam belajar, biarkan anak mencarikan pemahamannya sendiri. Guru tidak boleh memberikan bimbingan, termasuk memberikan penjelasan dan arahan-arahan lain. Bimbingan hanya di akhir bersifat pelurusan. 2. Seorang pemateri kurtilas mengatakan, “Dalam kurtilas, kelas 1 SD adalah masa untuk belajar membaca dan menulis. Justru salah besar pendidikan yang mengajarkan membaca dan menulis di jenjang Taman Kanak-kanak (TK)”.

Saya tidak tahu siapa yang menulis buku kurtilas untuk kelas 1 SD. Apakah penulis atau tim nya sadar bahwa buku yang mereka tulis adalah untuk anak-anak SD yang belum bisa menulis dan membaca?

Anda boleh lihat gambar!

lembar kerja siswa kelas 1 sd

lembar kerja siswa kelas 1 sd

Ada dua hal saya kritisi dari lembar kerja tersebut;
1. Sebagaimana konsep dasar kurtilas bahwa kelas 1 SD itu masa belajar membaca dan menulis, maka tentu arahan-arahan dalam lembar kerja siswa tersebut tidak akan bisa dikerjakan oleh siswa. Membaca saja belum bisa, apalagi mengerjakan apa yang ditulis di buku tersebut. Dan ingat, dalam kurtilas, guru tidak boleh memberikan arahannya. Apa yang dilakukan oleh guru sudah ada formatnya di buku panduan guru.

2. Intruksi-intruksi dalam lembar (bahkan buku) tersebut menggunakan tanda baca ‘titik’. Apakah benar demikian?

3. Coba perhatikan setiap intruksinya! Kenapa pilih dan cari diberi imbuhan ‘lah’ sedangkan perhatikan, warnai dan amati tidak? Saya menduga penulis lupa atau mungkin tidak tahu bahwa dalam sebuah tulisan semua kata itu (kata kerja) akan bermakna intruksi dengan diakhiri tanda seru (!). Namun justru walaupun pakai ‘lah’ tetap saja tidak disebut kalimat perintah kalau tidak diakhiri tanda seru. Dengan acaknya keberadaan yg menggunakan lah dan tidak ditengarai penulis buku ini memang tidak faham. Lantas ternyata ada sanggahan bahwa mereka faham tentang tata bahasa, kesalahan itu hanya lupa, maka penulisnya tidak faham tentang ilmu psikologi pendidikan. Dan yang aneh, kemana tim penguji hasil tulisan penulis?

Saya melihat bahwa penulis (tim) tampak tidak memahami konsep kurtilas ini. Selain itu, seolah penulisan buku tidak diserahkan kepada ahlinya. Atau karena ini sekedar proyek?

Sebagai pembanding, saya apload juga lembar pegangan guru untuk lembar kerj siswa tadi;

lembar pegangan guru

lembar pegangan guru

3. Kelas 3 dan 6 belum kurtilas

Mencari alasan selogis-logisnya pun tetap tidak akan masuk akal. Belum adanya kurtilas bagi kelas 3 dan 6 bukti penyelenggaraan kurtilas belum matang dan belum siap.

Lantas bagaimana dengan pernyataan mantan mendikbud, Muhammad Nuh, bahwa banyaknya sekolah yang telah menggunakan kurtilas adalah bukti bahwa kurikulum itu diterima dan matang.

Faktanya bukan masalah menerima atau tidak, bukan masalah matang atau tidak, bahkan seandainya pemerintah meneluarkan kebijakan agar sekolah-sekolah menggunakan sembarang kurikulum, maka sekolah-sekolah akan menuruti saja. Kenapa? Karena mau tidak mau, semua sekolah harus mengikuti aturan dari pemerintah, tidak peduli bagaimana keadaannya. Kalau tidak, tunggu tanggal mainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s