Kikandria Menguning


Dua hari kami (saya dan istri) melalui kehidupan baru dalam sukacita bersama Kikan. Puji syukur kepada Allah, dua hari yang lalu, 29 mei 2014, istri saya tercinta melahirkan bayi perempuan cantik dengan lancar dan selamat. Walau kegugupan terus membayang-bayangi kami siang-malam, namun itu tidak bisa menghalangi kebahagiaan untuk bersemayam di dada kami.

Gugup?

Bagaimana tidak? Tidak ada orang tua. Tidak ada sanak keluarga. Tidak ada orang-orang yang akan mengguide kami. Tidak ada orang-orang yang akan mengajarkan bagaimana merawat seorang bayi. Bagaimana tidak? Dengan segala ketidak tahuan, kami ingin memberikan yang terbaik untuk putri baru kami.

Ya…‘cinta yang kami punya terlalu besar bebanding lurus dengan kebodohan kami’.

Subuh itu, tidak seperti dua hari dan malam sebelumnya. Kikan tidak rewel. Putri kami tidak banyak nangis. Sang bidadari kami terlihat tidur dengan cantik; sangat pulas.

***

“Allah sangat baik. Allah tahu bahwa kita masih sangat amatir. Jadi Allah langsung menjawab doaku.” Ucap saya kepada istri tercinta.

“maksudnya?” ia tampak kaget mendengar pernyataan saya.

“Aku berdoa bund, agar Allah memberikan kita kemampuan untuk merawat putri kita dan agar Allah memberikan kemudahan”

“Terus?” Tampaknya istri saya belum mengerti maksud saya. Selain itu, kelihatannya ia sedang memikarkan hal lain. Ia tidak konsentrasi dengan maksud bahasa tubuh saya.

“Dari tadi subuh, kikan tidak banyak nangis. Ia malah tidur pulas. Mungkin ia tahu bahwa ayahnya sudah kewalahan” terang saya.

“Tapi, ayah lihat warna kulitnya Kikan ga?” mendengar jawaban saya tadi tampaknya tidak terlalu membuat bahagia istri saya. Justru sepertinya ia sedang menghawatirkan sesuatu.

***

Begitu perbincangan saya dan istri saat widget jam di Samsung Galaxi Tab 7.7 menunjukan pukul sembilanan pagi. Sampai sore, putri manis kami tetap menunjukan kebaikan kepada kami. Tidak rewel dan banyak nangis. Selepas magrib, energi kami sudah terkumpul untuk menemani Kikan begadang dan menangis.

Namun apa mau dikata, energi kami terpaksa kami alihkan untuk hal yang sangat berat dan lebih sulit. Kami harus melalui malam itu dengan kehawatiran dan ketakutan. Bidadari kami tetap tidur pulas. Saya katakan padanya “Kikan, ayo bangun. Kikan ayo nangis. Ayah ingin mendengar tangisanmu. Ayo dong menangis.” Pinta saya dengan suara kerongkongan tercekik. Sambil tangan saya menggangu badannya yang masih lembek tidak terasa air mata pun ikut mengalir. Mengiringi ketakutan yang datang tiba-tiba.

Malam itu seperti dua malam sebelumnya, kami begadang. Bedanya, dua malam sebelumnya kami bahagia walau fisik kami keteteran. Malam itu kehidupan kami berdua dilanda badai kehawatiran dan ketakutan. Tidak ada dari kami yang mau mencoba tidur. Bagi kami, malam itu begitu mencekam.

Sejatinya, Kikan adalah buah hati kami yang kedua. Ia lah yang telah menghidupkan kembali bunga-bunga layu kami. Kami takut kehilangan untuk yang kedua.

Pagi hari datang begitu lambat. Sepertinya ia menjadi sangat malas dan lelet. Seolah sang pagi sangat senang mengetahui kami menunggu dalam cemas. Benar saja, sang pagi begitu cerah dan ceria melihat kami yang layu dan lusuh.

Untung kami punya Allah. Allah selalu menolong kami. Dengan cara-cara yang tidak pernah kami tahu. Pagi itu, sekitar pukul 8-an pemilik rumah yang kami sewa datang menjenguk Kikan. Katanya ia mau memandikan putri kecil kami. Tentu tidak akan kami tolak, kami sangat senang. Disaat itu, ia mengatakan apa yang kami sedang khawatirkan. Ia katakan bahwa kulit Kikan berwarna kuning. Kami bahkan dipintanya untuk melihat pinggir-pinggir mata kikan. Ya, memang kuning. Ia menyarankan kami untuk pergi ke dokter, memeriksakan darahnya.

Hati kami begitu mendung. Bulir-bulir air dalam kelopak mata, saya rasa tak lama lagi tumpah. Begitupun linangan air mata didalam mata istri saya terkasih. Tanpa banyak pikir, setelah mempersiapkan popok, susu, dan perlengkapan lainya untuk Kikan, kami langsung berangkat. Kami tidak ingat kantuk, lelah dan bau badan. Walau belum tidur dari malam dan mandi dari kemarin sore sepertinya hari itu energi kami bertambah. Ya, ketakutan telah mengubah dan memproses darah yang mengalir pada tubuh kami menjadi energi baru.

Lima belas menit kemudian, kami tiba di Tawau Maternity. Setelah mendaptar di recepsionist, kami menunggu dengan cemas, namun punya banyak harapan. Sayang sekali, berita yang kami terima tidak begitu baik. Kami direkomendasikan untuk chek up di tempat lain. Dengan hati yang terasa koyak, kami menunggu taksi. Lima menit masa menunggu menjadi sangat menyebalkan. Setelah mendapati taksi, lima menit berikutnya kami sampai di tempat tujuan. Setiba di tempat tujuan, bukan harapan melainkan kecewa yang kami dapat. Dokter laboratoriumnya sedang cuti satu minggu. Kami terpaksa kembali kembali Tawau Maternity. Setelah kami melaporkan fakta yang ada, akhirnya sang dokter merekomendasikan kami untuk pergi ke Rumah Sakit Ibu dan Anak pemerintah.

Matahari di Tawau sudah mulai memperlihatkan jati dirinya. Jangankan menyegarkan, udaranya sudah cukup memaksa keringat kami meleleh. Di usianya yang baru 3 hari di dunia ini, Kikan harus merasakan kebengisan dunia barunya. Tidak sampai disitu. Sesampainya di RS Ibu dan Anak, Kikan harus mengantri bersama orang-orang yang sudah mengantri sebelum RS itu buka. Tengah hari, saat matahari sedang sombong-sombongnya, kami baru mengetahui hasil chek up darah Kikan. Hasilnya besok kami harus kembali untuk membiarkan seorang dokter menusukan jarum pusakanya. Besok kami harus dengan berat hati, membiarkan darah bidadari kami dihisap oleh benda yang tidak punya rasa belas kasihan.

Hasilnya, kami mendapatkan selembar kertas dengan tulisan “Bilirubin: 270”.

Dalam perjalanan kembali ke Rumah sakit Tawau Maternity, hati saya terus berdoa semoga tulisan itu bermakna baik-baik saja. Saya tidak tahu pasti apa yang sedang dipikirkan istri saya. Namun saya sangat yakin, kehawatiran dan ketakutan saya tidak akan bisa mengalahkan kehawatiran dan ketakutannya. Setelah sang dokter membaca tulisan di secarik kertas itu, ia membuat sebuah keputusan. Keputusan yang membuat kehawatiran dan ketakutan kami menjadi-menjadi. Kikan harus diinapkan di RS dua hari dan dua malam. Kikan kena penyakit kuning.

Saya pernah membaca betapa sadisnya penyakit ini. Seseorang yang parah kena penyakit ini, ia harus tranfusi darah. Kebutaan, ketulian, kecacatan bahkan kematian bisa ditimbulkan kalau penyakit ini tidak bisa diatasi. Saat itu, saya benar-benar takut. Saya sangat takut Allah mengambil Kikanku sayang dalam waktu yang begitu cepat.

Dua ketakutan dengan mudah menjarah jiwa saya. Tanpa perlawanan; ‘Saya takut kehilangan Kikan. Saya pun takut, Kikan akan kehilangan masa depannya.’

 

 

P.S: Setiap bayi ternyata akan terkena penyakit kuning. Untuk pengetahuan anda saya berikan link berikut

  1. http://health.kompas.com/read/2011/09/29/07214276/Bayi.Kuning.Tak.Bahaya.tapi.Perlu.Diwaspadai
  2. http://penyakitkuning.com
  3. http://dzurbaidi.com/blog/kekuningan-pada-bayi-normal-atau-bahaya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s