Menyambut Kehadiran Kikandria


Putri ku,
Sebagai pemula; baik sebagai sebuah keluarga maupun sebagai orang tua nanti, tentu kami harus memikirkan persiapan untuk menyambutmu. Berikut adalah sebagian persiapan kami untuk menyambutmu;

1. Menentukan dokter

Kamu begitu special untuk kami. Bahkan sebelum kamu hadir dalam alam rahim bunda. Oleh karena itu, kami berusaha agar kamu baik-baik saja sampai kamu singgah di alam dunia bersama kami. Perlu kamu tahu, saat kamu sedang dalam rahim, ayah dan bunda sedang berjuang untuk kehidupan masa depan lebih baik; kami sedang dalam tugas di negeri orang yang jauh dari orang tua dan sanak family. Ya, kami jauh dari opah dan omah mu yang akan menjadi guide saat kami menyambut kehadiranmu.

Tidak ada sanak family bukan masalah besar memang, karena Allah selalu melihat, mengawasi dan menjaga. Termasuk terhadap kamu yang berada di alam rahim. Namun hal itu bukan sebagai alasan untuk kita berpangku tangan. Manusia wajib berusaha. Allah menyukainya. Terlebih kalau kita ingin mendapatkan kelebihan. Untuk mengoptimalkan usaha dalam menjagamu, kami mencari dokter untuk selalu memeriksamu. Setelah dua-tiga dokter kami pelajari, akhirnya kami putuskan dokter Teo lah yang akan menjadi perantara antara kamu dan kami; perantara tentang keadaanmu, perantara apa keinginanmu, dan perantara apa kebutuhanmu di alam rahim sana. Singkatnya, dr. Teolah pembawa berita tentang kamu kepada kami. Kabar baiknya adalah dialah satu-satunya dokter ahli genekologi yang ada di Tawau.

2. Menentukan tempat bersalin

Dengan kondisi sebagai orang tua pemula dan sedang berada di tempat tugas yang jauh dari kampung halaman, kami berdiskusi tentang beberapa pilihan tempat bersalin yang terbaik untukmu. Terbaik secara kualitas layanan. Terbaik untuk kebersamaan kita kedepannya. Ada dua pilihan yang harus kami tentukan; 1. Kita pulang ke Indonesia, 2. Kita tetap di Sabah-Malaysia.

Setiap opsi mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Kalau kita pulang maka di sana ada opah dan omah mu dan sanak keluarga kita yang tidak tinggal diam. Dengan pengalamannya, meraka akan membantu kita. Kami yang bahkan belum jadi pemula, akan banyak belajar dari mereka untuk merawat, membesarkan dan mendidikmu.

Kekurangannya adalah setelah dua bulan kebersamaan di dunia, kita terpaksa harus berpisah. Bundamu harus bertugas untuk membatu ayah demi bekal masa depan. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk mu; pendidikan. Dan di usiamu yang baru 1 bulan, kamu tidak mungkin kami bawa pergi ke tempat jauh.

Kalau kami pilih di Malaysia, saat kamu lahir kita akan jauh dari dari sanak family. Tentu bunda dan ayah harus otodidak dalam mejaga, merawat dan mendidikmu.

Kabar baiknya adalah kita bisa bersama. Kami bisa melihat tumbuh kembangmu. Kami bisa melihat tangismu. Kami bisa melihat tawamu. Kami bisa melakukan segala upaya untuk kebaikanmu sebagai orang tua. Bundamu bisa memberikan ASI saat kamu kamu haus, saat kamu lapar dan saat kamu bermanja-manja. Ayah bisa belajar menjadi Luqman. Kami bisa melaksankan kewajiban sebagai orang tua yang menjadi hakmu. Kami, dengan segala upaya, bisa menjaga amanah yang Allah berikan kepada kami.

Setelah pertimbangan matang, akhirnya diputuskan kita akan bertemu untuk pertama kali di kota Tawau. Kami tidak memilih rumah sakit pemerintah. Walaupun murah tapi informasi dari setiap orang bahwa pelayanannya buruk. Terlebih pada orang asing, kepada pribumi pun demikian. Ayahmu adalah salah satu korban tentang pelayanan buruk rumah sakit di Sabah-Malaysia. Kami tentu tidak mau ambil resiko itu. Apalagi untuk menyambut kehadiranmu yang istimewa. Kami pilihkan rumah sakit terbaik untuk mu; Tawau Maternity & specialist hospital.

Bunda telah mengajarkan ayah apa yang harus ayah lakukan menjelang dan saat bunda melahirkanmu. Ayah terus menghafal dan mengingat-ingatnya. Tujuannya satu; agar bunda dan kamu dalam keadaan baik.

Kamis 29 mei pagi hari omah mu menanyakan kabar kehadiranmu. Ayah sampaikan bahwa sepertinya kamu belum memberikan tanda mau lahir. Namun karena hari itu adalah jadwal chek up. Kami sampaikan kepada Omah bahwa jam 11 kita akan pergi ke dokter.

Sesaat setelah duduk didepan dokter, dokterpun menanyakan tanda-tanda kehadiranmu. Bunda sampaikan “sebetulnya rasa sakit sudah dari satu minggu namun biasa.” Ayah sendiri tidak tahu seperti apa rasa sakit yang bunda rasakan. Dan ayah tidak faham apa maksud sakit biasa yang bunda ucapkan. Yang jelas, di tengah malam ayah harus bangun untuk menemani bunda yang selalu merasakan sakit diseluruh persendianya. Ayah selalu mencoba mengurangi sakitnya, namun tetap semua usaha ayah tidak membuat sakitnya hilang. Hal seperti itu, selalu berulang di setiap malam bunda.

Dokter hanya menjawab “kita chek sekarang.” Dan saat itu dokter memberikan kabar bahwa bunda sudah pembukaan empat. Hari itu, ayah merasakan semua rasa berkumpul; gembira, khawatir, bingung dan takut. Seketika itu pula bunda harus menginap di rumah sakit. Ayah hanya bisa mendampingi bunda. Ayah hanya bisa melihat bunda yang kesakitan. Ayah hanya bisa membuat lelucon-lelucon yang tidak lucu. Ayah hanya bisa berdo’a dengan penuh khawatir dan harap.

Asar tiba, ayah melihat bunda tampak sangat kesakitan. Magrib menjelang, ayah melihat air mata bunda terus meleleh mengiringi rintihan-rintahan yang sengaja ditahan. Saat itulah, para perawat memindahkan bunda ke ruang bersalin.

10 menit pertama bunda berjuang. Ayah disampingnya memberikan semangat. Kamu sama sekali tidak tampak. 10 menit kedua bunda berjuang lagi dan lagi. Aayah tetap disampingnya memberikan pesan-pesan yang bunda minta sebelumnya. Namun kamu tidak kunjung hadir. 10 menit ketiga, bunda terus berjuang dengan seluruh tenaganya –ingat putriku! Seluruhnya. Ayah yang disampingnya tidak bisa lagi berkata apa-apa. Dan kamu tetap belum mau hadir.

Ruang itu begitu senyapnya buat ayah padahal 4 orang perawat terus-terusan berteriak saat bunda berjuang untuk kehadiranmu. Ilmu dan teori yang bunda baca tentang melahirkan sama sekali tidak jitu. 10 menit keempat bunda berjuang lagi dengan seluruh sisa tenaganya. Dokter yang hadir ikut memberi arahan dan layanannya. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi; ayah hanya bisa duduk pasrah dan berdoa agar Allah memberi keselamatan kepada bunda dan kamu. Hanya itu yang bisa ayah lakukan. Dan kamu tetap belum hadir.

Saat itu, bunda tampak sangat kelelahan. Dengan sisa tenaga yang ada, bunda melanjutkan perjuangannya. Dokter terus berusaha. Ayah terus berdoa. Akhirnya kamupun hadir di dunia fana ini dengan berat 3.15 kg, tinggi 54 cm pada pukul 6.49 malam.

Oh iya, kamu perlu tahu putriku! Setelah beberapa waktu, bunda membisikan ditelinga ayah bahwa diakhir perjuangannya, bunda sudah pasrah. Bunda mengikhlaskan seluruh hidupnya untukmu. Bunda hanya meminta kepada Allah untuk keselamatanmu. Saat itulah kamu hadir. Saat itulah Allah memudahkan kelahiranmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s