Tafsir Bait Alfiah: Indonesia Krisis


Isi dalam tulisan ini adalah kekayaan intelektual milik guru penulis, K.H, Jamil Munawwir, M.Ag. Penulis hanya mencoba mendokumentasikan ide tersebut dalam sebuah tulisan. Kalau ada isi yang menyimpang dari ide pokok beliau, penulis mohon maaf, itu karena improvisasi yang buruk dari penulis.

Tradisi ilmiah dalam dunia Islam sudah berkembang sejak lama. Perkembangannya sangat dinamis. Kita bisa melihat lahirnya sebuah kitab sebagai kritik kitab lain. Salah satu contoh adalah kitab Tahafutut Tahafut lahir sebagai jawaban dan kritik atas kitab Tahafutul Falasifah. Ada kitab yang lahir dengan sendirinya (matan). Banyak kitab-kitab lahir sebagai penjabaran atas satu kitab (Syarah). Ada juga kitab yang membahas tentang kata-kata yang digunakan dalam sebuah kitab sebagai catatan-catatan kecil dan penting atas kitab asal (Hasyiah). Ada kitab yang memuat rangkuman atas sebuah kitab (Mukhtashor). Dan ada juga kitab yang berisi tentang kumpulan penjelasan-penjelasan (syarah-syarah) dari sebuah kitab asal (Hawamisy).

Bagi para santri mungkin tidak asing. Umumnya dalam satu kitab terdapat dua atau tiga penulis. 1. Penulis kitab awal, 2. Penulis hasyiah, 3. Penulis syarah. Termasuk dalam kitab Alfiah. Ini sebagai bukti bahwa kitab-kitab kuning yang digunakan di pesantren-pesantren bukan produk abal-abal. Kitab-kitab yang hari ini kadang dipandang sebelah mata, adalah hasil dari pergolakan dan interaksi dunia ilmiah.

Pemilihan kata tafsir -tidak syarah- bukanlah tanpa sadar. Penulis memilih tafsir -tidak syarah- dengan beberapa dasar; 1. Tulisan ini bukan bermaksud untuk memperjelas apa yang mushonnif (penulis kitab Alfiah) maksud. Alih-alih jelas dan mengerti dengan membaca tulisan ini, kalau ada ingin memahami isi maksud bait (yang akan dibahas dibawah oleh penulis) dengan benar, maka penulis jamin akan tersesat (tenang! maksudnya tersesat secara pemahaman ketata bahasaan), 2. Tafsir mempunyai makna bukan sekedar menjelaskan tapi memahami. Seseorang tentu sah memahami suatu kondisi menggunakan kacamata yang berbeda.

Bagi yang sedang atau pernah belajar bahasa arab, khusunya gramatikal bahasa arab, pasti mempelajari Isim Maqsur dan Isim Manqus. Pembahasan isim mu’tal ini dibahas oleh Ibn Malik dalam Alfiahnya dengan bait syair berikut;
وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الْأَسْمَاءِ ما # كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقِي مَكَارِمَا

Isim Mutal dan Pemilu
Sammi (سَمِّ): adalah kata perintah yang berasal dari سَمَا- يَسْمُو artinya kurang lebih: namailah, sebutlah, labelilah. Dengan menamai maka kita bisa membedakan sesuatu dengan yang lainnya. Dengan menamai kita bisa mengetahui keberadaan sesuatu.

Sammi adalah kata kerja transitif yang mempunyai dua objek. Objek pertamanya disembunyikan yaitu Indonesia. Jadi kata Sammi mengandung arti “Labelilah negara Indonesia!”

Tentu akan timbul pertanyaan. Labeli dengan apa? Jawabannya ada pada bait syair tersebut yang menjadi objek kedua dari kata سَمِّ; mu’talan (مُعْتَلاَّ). Mu’tal adalah bentuk kata yang berpenyakit. Dalam kontek kenegaraan, negara yang sakit adalah negara yang sedang krisis. Bait itu menegaskan kepada pembaca bahwa kita harus sadar bahwa Indonesia sedang krisis.

Krisis apanya dan dimana? Lagi-lagi bait Alfiah menjelaskan lebih lanjut dengan kata ” مِنَ الْأَسْمَاءِ ما ” (dari berbagai aspek).

Di setengah bait pertama kita dipahamkan tentang keharusan mawas diri atas kondisi negara Indonesia yang sedang krisis dalam berbagai aspek; keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan aspek-aspek yang lainnya.

Di setengah bait kedua Ibn Malik memberikan solusi. Solusinya adalah ” كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقِي ” Harus ada “yang terpilih” dan “yang berkedudukan tinggi”.

‘Yang terpilih’ tentu harus yang bisa mewakili pemilih. Hubungan dengan negara Indonesia, pemilih adalah rakyat Indoneaia. ‘Yang terpilih’ tidak boleh orang yang asal jadi. ‘Yang terpilih’ harus mempunyai kualifikasi yang mumpuni menyalurkan aspirasi rakyat. Bukan hanya mumpuni menyalurkan yang terdengar dan terlihat bahkan mumpuni mengetahui aspirasi yang tidak terungkap oleh rakyat karena keterbatasannya.

‘Yang berkedudukan tinggi’ haruslah orang yang mampu memimpin. ‘Yang berkedudukan tinggi’ adalah orang yang justru menjadi nahkoda yang baik atas kapal yang berlayar sesuai dengan tujuannya. ‘Yang berkedudukan tinggi’ harus orang yang mampu memahami kehendak rakyat, mau dibawa kemana negara Indonesia dan mau bagaimana kondisi rakyat Indonesia. ‘Yang berkedudukan tinggi’ harus orang yang mempunyai keinginan kuat dan inovasi untuk membuat negara maju.

‘Yang terpilih’ dan ‘yang berkedudukan tinggi’ adalah orang-orang yang dipercayakan rakyat untuk bekerja sama dalam membangun negara. Bukan untuk menjadi kelompok yang saling jegal, apalagi berkompromi dan berkoalisi untuk menghancurkan negara dan mengsengsarakan rakyat. Oleh karena itu perlu dibuat sistem untuk mendapatkan ‘yang terpilih’ dan ‘yang berkedudukan tinggi’ tersebut.

Adakah bait itu menjelaskan cara membuat sistemnya? Walau tidak terperinci dan gamblang, diakhir bait Ibn Malik mengingat tentang “مَكَارِمَا” (kemuliaan). Apapun sistem yang digunakan untuk mendapatkan ‘yang terpilih’ dan ‘yang berkedudukan tinggi’ harus dengan sistem yang mulia. Baik itu secara aklamasi sebagaimana saat terpilihnya Abu Bakar menjadi Khalifah, atau surat mandat, saat Umar bin Khattab menggantikan Abu Bakar, atau pemilihan perwakilan saat Utsman bin Affan memangku jabatan Khalifah, atau pemilihan umum yang terjadi saat Ali bin Abi Thalib menggantikan Ustman bin Affan. Atau mungkin ada system lain. Yang terpenting adalah adanya kemuliaan dalam sistem tersebut.

Tidak akan ada hasil yang mulia tanpa awal dan proses yang mulia. Seseorang atau sebuah negara yang ingin mendapatkan kemuliaan maka proses awal, tengah dan akhir harus dengan sikap dan cara yang mulia.

Sistem UU penyeleksian haruslah mulia. Prosesnya pun haruslah mulia. Maka sistem dan proses seperti itu akan menghasilkan ‘yang terpilih’ dan ‘yang berkedudukan tinggi’ yang mempunyai kemuliaan; yang mempunyai visi dan misi yang mulia, yang perjuangan dan pengabdiannya mulia.

Maka hasilnya, Indonesia yang krisis dalam berbagai aspek yang menjadikannya rendah di mata dunia bisa bangkit dan mensejajarkan diri dengan dengan negara-negara lain.

Apakah Indonesia sudah mempunyai ‘yang terpilih’ dan ‘yang berkedudukan tinggi’ dengan proses penyeleksian yang mulia?

P.S Catatan pengajian tahun 2000
padlilsyah: Santri Ponpes Tanwiriyyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s