Philosopi I’rob Rofa


Ide tulisan ini muncul saat mendengar ceramah seorang khotib. Lebih tepatnya saat khotib membaca mukodimah dalam bahasa arab. Kemampuan bahasa arab memang tidak menjadi syarat untuk terpilihnya seseorang menjadi Imam atau Khotib. Wajar sebetulnya karena jangankan yang tidak menjadi syarat, banyak Imam dan Khotib yang bacaan Qurannya jauh dari benar menurut ilmu bacaan Quran; baik dari hukum-hukum bacaan tajwid maupun pelapalan makhorijul hurufnya.

Sekali lagi, kalau melihat fakta diatas, yang syarat pokoknya saja (kemampuan ilmu tajwid dan bacaan quran yang benar) banyak tidak dihiraukan, apalagi yang tidak menjadi syarat; kemampuan bahasa arab. Terus terang, seringkali penulis merasa terganggu saat mendengar bacaan-bacaan Quran yang tidak sesuai kaidah ilmu tajwid, apalagi sampai kesalahannya berpengaruh terhadap makna. Baik saat sholat maupun di luar sholat. Nah, bagi yang tidak memahami bahasa arab mungkin kesalahan-kesalahan harokat atau panjang pendek bacaan bukan sebuah masalah. Namun untuk yang tahu, hal tersebut sangat mengganggu. Bahkan Imam Abu Aswad Ad-Duali merintis dasar ilmu tata bahasa arab, setelah ia merasa terganggu dengan ucapan puterinya.

Saat itu telinga penulis juga sedikit terganggu dengan bacaan arab sang khotib yang jauh dari keabsahan tata bahasa. Tanpa direncakan terjadilah perbincangan hangat dalam benak penulis.

‘Itu kan harusnya dommah’ tegas suara pertama mengagetkan.

‘Kenapa harus dommah?’ jawab suara kedua.

‘Posisinya sebagai fail’ jawab suara pertama dengan yakin.

‘Kenapa dengan fail?’ sepertinya suara kedua tidak berniat berdiskusi.

‘Fail itu harus rofa’

‘Terus…?’

‘Ya, ciri rofanya harus dommah karena isim mufrod’ tetap saja suara pertama ngotot.

‘Terus ente mau apa?’

‘Ya diem aja’ akhirnya suara pertama mengalah. Dia baru sadar, ngotot sekuat apapun tidak akan ada yang peduli. Namun sebelum menutup pembicaraan ia bertanya ‘Tapi kenapa coba namanya rofa?

‘Iya, ya!’ untuk saat ini suara kedua tampak berpikir dalam.

‘Terus, kenapa yang rofa itu mubtada, khobar, fail dan naibul fail?’ Suara pertama terus menyusul dengan pertanyaan kedua.

‘Oh iya ya’ lagi-lagi suara kedua tampak heran sedikit kagum.

‘Bukan iya iya terus, mikir!’

‘Sudah, sudah, khotib lagi ceramah’

Makna Rofa

Terus terang pertanyaan-pertanyaan yang sekonyong-koyong datang di pikiran tersebut sangat menggelitik. Oleh karena itu, sepulang jumatan penulis mencoba membuka-buka ingatan tentang irob rofa yang tersimpan dalam benak belasan tahun silam.

Untuk pembahasan kali ini kita mulai dari pertanyaan; Apa sih rofa itu?

Sebetulnya bukan rofa tapi rof’un, rof’an, atau rof’in. Dugaan penulis muncul kata rofa karena dua hal berikut; 1. Kata rofa adalah bentuk Indonesia dari bentuk aslinya (bahasa arab). Para ulama nahwu Indonesia tentu memikirkan cara dan teknik penyampaian yang mudah untuk dipahami para pembelajar. Salah satunya menerjemahkan rof’un, rof’an atau for’in menjadi rofa. 2. Atau mungkin juga karena pindahnya harokat (intiqolul harokat) saat bacaan berhenti (waqaf). Yang asalnya rof’an menjadi rofa.

Dari manapun munculnya kata rofa bukanlah masalah besar. Karena untuk menjawab pertanyaan diatas, kita cukup dengan memahami arti dari rofa tersebut. Rofa adalah bentuk masdar (gerund) dari rofa’a, yarfa’u yang artinya menaik, meningkat atau mengangkat. Makna-makna tersebut mengandung inti tentang ketinggian dan keluhuran. Singkat kata irob rofa adalah keadaan yang tinggi.

Sekarang timbul pertanyaan kedua; Apa saja yang I’robnya harus rofa?

Dalam Jurumiyah dijelaskan bahwa isim-isim yang dirofakan ada 7; 1. Mubtada, 2. Khobar, 3. Fail, 4. Naibul fail. 5. Tawabi (naat, athap, taukid dan badal). 6. Ismu kana, 7. khobar inna.

Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas tawabi’ karena posisinya sangat bergantung terhadap kalimat yang diikutnya. Bisa rofa, nasab, atsu khofad. Pun dengan Ismu Kana dan Khobar Inna, karena keduanya secara makna sudah terbahas pada mubtada dan khobar mubtada.

Rofanya Pemula dan Pelaku

1. Mubtada

Mubtada adalah isim diawal kalimat. Walaupun pada kondisi tertentu dia mengakhirkan diri tapi tetap hakikatnya dialah yang awal.

Posisi mubtada sangat penting untuk keberlangsungan sebuah kalimat (kalimat nomina). Tidak ada mubtada, tidak ada khobar mubtada. Jika tidak ada khobar tidak ada kalimat. Tidak ada mubtada, maka tidak ada sebuah kalimat. Tegasnya eksistensi mubtada adalah hati dari sebuah kalimat.

Secara kebahasaan, mubtada mempunyai arti ‘yang pertama’, ‘yang diawalkan’, atau ‘yang didahulukan’. Dari makna-makna tersebut kita bisa ambil kesimpulan bahwa mubtada adalah sesuatu yang pertama. Hubungan dengan manusianya (subyeknya), kita bisa sebut perintis.

Tidak mudah untuk menjadi perintis atau yang pertama dalam hal apapun. Banyak faktor yang harus dimiliki; 1. Keberanian; berani sukses dan berani menerima resiko gagal. Berani dikucilkan karena perintis umumnya orang yang melawan status quo (kemapanan). Berani keluar harta, tenaga dan pikiran; umumnya diawal kerjanya ia mengandalkan diri sendiri (minimal tim kecil). 2. Motivasi; Sesorang tidak akan berlari sejauh 3 km kalau motivasinya hanya 1 km. Untuk berlari sampai pada jarak 3 km seseorang harus memiliki motivasi lebih dari 3 km, atau paling tidak 3 km. 3. Inovasi; Yang menjadi pembeda antara perintis dengan pengekor adalah inovasi. Tidak semua orang mempunyai daya inovasi. Karena sangat jarangnya orang yang punya inovasi, maka mereka menjadi orang-orang yang sepesial.

Oleh karena itu para perintis akan mendapatkan posisi yang tinggi, sebagaimana mubtada posisinya rofa.

2. Khobar Mubtada
Khobar Mubtada adalah isim setelah mubtada. Tanpa khobar mubtada tidak ada kata yang bisa disebut mubtada. Khobar mubada adalah posisi yang mewujudkan kata menjadi mubtada. Dengannya terbentuklah sebuah kalimat (kalimat nomina).

Dalam kehidupan sehari-hari kita akan melihat reaksi seseorang terhadap ide orang lain, terlebih idenya bersifat baru. Ada yang menerima, ada yang acuh, dan yang menolak. Yang paling banyak adalah kelompok kedua dan ketiga.

Dalam sejarah Islam, ada kelompok yang disebut As-Sabiqunal Aw-Walun. Posisi mereka adalah khobar mubtada dari apa yang disampaikan pertama kali oleh Muhammad, Saw. Posisi mereka tentu akan berbeda dengan kelompok yang menerima keislaman berikutnya. Apalagi jika dibandingkan dengan para penentang Islam dan Muhammad, Saw.

Mark Zuckerberg tentu tidak akan sehebat sekarang ini kalau saja tidak ada orang yang menyempurnakan ide-idenya. Posisi orang-orang yang menerima ide Mark dan membantunya tersebut tentu akan berada pada posisi yang tinggi.

3. Fail

Fail adalah pelaku dari sebuah perbuatan. Dari sisi bahasa fail artinya pelaku atau yang berbuat.

Dalam kehidupan, seseorang yang berbuat pasti ia sedang melakukan aktivitas. Dengan demikian, karekteristik pelaku adalah aktiv. Hanya orang-orang yang aktiv saja yang bisa mendapatkan posisi tinggi. Tidak ada sejarahnya bahwa kemalasan menjadi fondasi kesuksesan.

Dalam alquran Allah bertanya “apakah sama orang yang tahu dengan yang tidak tahu?” Mengetahui adalah sebuah kata aktiv dan tidak tahu adalah pasif. Dari ayat tersebut bisa dikembangkan sebuah pertanyaan lain; “apakah sama orang yang berbuat dengan tidak berbuat?”, “Apakah sama orang yang beribadah dengan yang tidak?” dan tentu anda boleh tambahkan sendiri pertanyaan-perntanyaan serupa.

4. Naibul Fail

Naibul fail adalah pengganti fail (penganti pelaku/ wakil pelaku). Dalam struktur kalimat, posisinya sangat berperan. Tidak akan terbentuk sebuah kalimat (kalimat verba) tanpa adanya naibul fail atau fail. Naibul fa’il selalu hadir dimanapun ada kata kerja mabni majhul.

Saat Abu Bakar dipilih secara aklamasi menggantikan Rosulullah dia digelari Khalifatu Rosulillah (pengganti rosulullah). Saat itu kata khalifah bukan untuk makna pemimpin. Tentu posisinya Abu Bakar berada pada posisi yang tinggi.

Kita bisa lihat bagaimana posisi-posisi wakil atau pengganti bisa menyamai keistimewaan yang inti. contohnya copilot dan wakil presiden.

Posisi pengganti atau wakil bukanlah posisi pasif. Hanya orang aktiv yang bisa didaulat menjadi wakil atau pengganti.

Ikhtitam

Siapapun yang ingin mendapatkan posisi rofa (tinggi) maka harus mempunyai karakteristik mubtada, khobar mubtada, fail dan naibul fail. karekteristik keempatnya adalah; 1. Inovatif, 2. Aktiv 3. Responsif terhadap inovasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s