Cerita Usang Untuk Kamu


Cerita ini mungkin usang di telingamu. Ini bukan cerita terbaik seperti ayat-ayat yang sering kamu baca dalam surat yusuf. Perlu kamu tahu, tapi ini terlalu berharga untuk dibuang dari ingatanku. Ini terlalu indah untuk di tinggalkan di belakang masa laluku. Betapa bernilainya, hampir saja cerita ini kujadikan wirid dalam setiap napasku.

Akhir tahun 2003 seolah menjadi akhir dari hidupku yang tenang. Awal 2004 menjadi awal aku mengidap candu yang akut; tidak mengenal waktu, tanpa peduli tempat. Kecanduan yang sangat kritis. Itu semua karena kamu. Itu karena kamu menampakan diri pertama kali di mukaku. Bukan demikian. Itu pertama kali aku menguntit perempuan asing berbaju merah.

Mulai saat itu, ketenanganku tercerabut dari akarnya. Namamu terus-menerus merusak pikiranku. Wajahmu tidak henti-henti menggangu kesunyian hatiku. Aku tidak lagi mendapatkan ketenangan. Ingat! itu karena kamu. Candu itu sudah menjalar kesuluruh sel-sel sarafku. Kewujudanmu sudah mengacaukan kewarasanku. Bagaimana tidak, seringkali saat ada perempuan berkacamata aku anggap itu dirimu. Konyolnya itu membuat keringat panas dan dingin berlomba keluar dari seluruh tubuhku. Anehnya walaupun demikian, aku menganggap semua itu anugerah. Aku menikmatinya.

Menikmati?

Ya, aku menikmati bunga yang sedang merekah dalam dadaku. Aku menikmati saat aku menjadi seorang pria yang mendambakan seorang kekasih. Aku menikmati saat aku menjadi seorang intelejen untuk mengetahui siapa dirimu, siapa temanmu, apa kebiasaanmu dan hal-hal lain tentang mu. Aku menikmati lamunanku saat dirimu kelak menjadi pendampingku. Aku menikmati menjadi seorang pria yang punya prinsip untuk tidak mengenalmu lebih dulu atau bisa jadi aku menikmati menjadi seorang pria penakut untuk membongkar semua isi hatiku di hadapanmu.

Setiap kali hari berganti, setiap kali itu kegelisahan datang. Andai satu hari itu sama dengan satu kegelisahan, maka ada 1.800 kegelisahan yang mendekapku semenjak aku mengenalmu. Kegelisahan itu sering kali berubah menjadi rasa takut. Kegelisahan itu tidak jarang membuat hati ini terasa kosong. Tidak jarang aku berpikir untuk menyerah. Untung saja, karena kewarasanku sudah tidak utuh, membuat aku berani menawarkan diri untuk mendampingimu di dunia dan akhirat. Bukan berani tapi memberanikan diri dicampur sedikit nekad.

25 desember 2009, ribuan gelisah itu melepaskan dekapannya. Walaupun itu akhir tahun, saat itu pertama kalinya aku mendapati hatiku terisi. Terisi oleh harapan-harapan, dan mimpi-mimpi aku denganmu. Mulai saat itu aku menjadi seorang manusia yang cukup waras untuk memikirkan rencana-rencana dan hitungan-hitungan demi anak-anak dan cucu-cicit ku dari mu.

4 tahun. Sudah berapa banyak janjiku yang terbaikan. Sudah berapa banyak mimpi-mimpiku utukmu tidak terwujud. Selama 1.440 hari, ribuan ucapanku menggores-gores hatimu. Ribuan tindakan membuat hari-harimu muram.

Aku masih ingat saat tersisa satu gelas beras untuk makan hari itu. Kamu tidak mengeluh. Aku masih ingat saat aku mencari pekerjaan. Saat aku terpuruk. Dan kamu terus memberikan dukunganmu. Kamu memberikan semuanya untuku. Kamu memberikan hatimu.

Kau pernah mengatakan “istri teruji saat sang suami terpuruk, suami teruji saat ia sukses”. Aku katakan kamu sudah dan selalu menjadi istri teruji. Hari ini, aku ingin katakan melalui hurup-hurup yang terus berjalan dimatamu ini, bahwa aku akan selalu berusaha bisa menjadi suami teruji untuk mu.

Semoga Allah Selalu Memberkati dan Merahmati aku, kamu dan keturunanku dari kamu. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s