Merindui Melodimu


Hari itu, 13 Desember 2013, di usia 16 minggu dalam rahim ibumu, untuk pertama kali aku mendengar detak jantung mu. Kau perlu tahu, saat itu aku ingin alam ini diam sejenak untuk mempersilahkan telingaku menikmati melodi Ilahi. Melodi jantungmu lebih indah dari musik terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Sejak saat itu, aku selalu merindui detakannya. Bagaimana tidak, sampai sekarang pikiranku selalu terhipnotis dengan suara merdu itu. Bukan hanya merdu; memabukkan.

Bahagia mungkin satu kata yang mewakili rasa yang berkecamuk di sudut sana. Namun harap dan cemas menbuat ingatanku berhenti kecuali untuk mu. Harapan agar kamu selalu mendendangkan melodimu. Harapan dengan wujud doa ku teriakan dalam heningnya hati. Harapan Allah senantiasa meridhoi detakanmu memberi kenikmatan atas kehidupanku, di alam fana dan baqa. Cemas? Tentu aku sangat cemas. Aku manusia yang punya harapan. Aku manusia yang tidak bisa menjamin harapan-harapanku sendiri. Aku tidak mau banyak bicara tentang cemas. Aku benar-benar ingin menjadi ayah yang baik untukmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s