Malpraktek & Guru Gadungan dalam Pendidikan Indonesia


Apakah guru adalah sebuah profesi?

Kalau jawaban anda adalah “ya”, maka anda tepat membaca tulisan ini. Kalau anda menjawab bahwa guru bukan profesi, ada baiknya andapun meneruskan baca tulisan ini.

***

Saat ini sedang hangat-hangatnya berita dan opini tentang malpraktek di dunia kedokteran. Pemicunya adalah kasus dokter Ayu. Mohon maaf, malpraktek, lalainya dokter di rumah sakit negara, dan buruknya pelayanan kesehatan untuk rakyat miskin yang merupakan mayoritas di negara ini adalah sebuah fakta yang sudah diketahui bersama. Namun apa yang mereka bisa perbuat? Mereka semua rakyat miskin; miskin harta, miskin jabatan, dan miskin koneksi.

Biarlah itu menjadi ciri khas layanan kesehatan di negara ini. Walau demikian, penulis yakin masih ada dokter-dokter yang punya integritas tinggi. Penulis menduga jangan-jangan layanan dan sistem pendidikan di negara ini salah dalam mencetak dokter; Apakah penerimaan calon dokter sudah sesuai prosedur? Apakah “uang” yang menjadi pokok dalam system pendidikan kedokteran? dan tentu pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan kurikulum dan system pendidikan kedokteran.

Penulis tidak akan membahas tentang kasus malpraktek atau mangkirnya dokter dari tugas pokoknya (red: demo). Penulis lebih tertarik membahas system di dunia pendidikan vis a vis dunia kedokteran di Indonesia.

Malpraktek di Dunia Pendidikan

Dalam kedokteran, Malpraktek didefinisikan sebagai kelalaian professional oleh seorang professional kesehatan atau penyedia layanan kesehatan dimana perawatan yang diberikan berada di bawah standar medis yang menyebabkan kerugian, kecederaan atau kematian pada pasien.

Analogi dengan definisi diatas, maka malpraktek pun ada pada dunia pendidikan, yaitu ketika seorang professional pendidikan atau layanan pendidikan memberikan layanan dan sistem yang menyebabkan kerugian, kecederaan atau kematian pada siswa.

Ada dua poin utama sebuah tindakan disebut malpraktek; 1. Adanya kelalaian keprofesionalitasan atas prosedur yang berlaku, 2. Mengakibatkan kerugian, kecederaan, atau kematian. Dengan kata lain, dalam dunia kedokteran, tidak disebut malpraktek ketika tindakan seorang dokter sesuai prosedur yang berlaku walaupun menyebabkan kerugian, kecederaan datau kematian.

Mari kita bandingkan malpraktek kedokteran dan malpraktek pendidikan.

  1. Adanya kelalaian dalam profesinya atas prosedur yang berlaku.

Dalam konteks ini bisa jadi kelalaian yang dilakukan oleh pendidik atau layanan pendidikan lebih banyak dibanding dalam dunia kedokteran. Karena kita tahu bahwa prosuder yang ada dalam dunia pendidikan bukan hanya berkepetingan dengan urusan fisik manusia saja, namun juga pada kognisi, afeksi dan psikomotorik manusia.

Tentunya dengan luasnya cakupan tujuan layanan pendidikan menjadikan prosudernya pun banyak. Bukan hanya prosedur yang bersifat fisik, tapi juga prosedur yang bersifat non fisik; psikologi, moral atau hal-hal non fisik lainnya.

2.  Akibat yang ditimbulkan.

Kasus kecederaan dan kematian siswa banyak terjadi di dunia pendidikan di negara tercinta ini. Yang menarik adalah akibat dari sisi kerugian. Menurut hemat penulis kerugian yang disebabkan kelalaian guru lebih banyak dibanding kerugian disebabkan kelalaian dokter.

Dari mulai kerugian materi sampai kerugian dari sisi moral. Bahkan para pelajar berubah status menjadi “calon bajingan” –meminjam istilah Ahok. Mereka berani saling menyakiti dan bahkan saling bunuh. Bukankah para anggota dewan, para politisi dan pemimpin negara yang melakukan korupsi – Abraham Samad menggelari mereka “pembunuh berdarah dingin”- adalah hasil sistem pendidikan Indonesia?

 

Guru Gadungan

Seseorang tidak bisa dengan mudah menjadi dokter. Dia harus mendapatkan pendidikan kedokteran. Caranya adalah masuk jurusan atau fakultas kedokteran. Lulus dari kampus, tidak berarti dia dibenarkan menjalankan profesi kedokterannya. Dia harus mendapatkan sertifikat profesi kedokterannya terlebih dahulu. Jika tidak demikian, maka dia disebut dokter gadungan.

Berbicara tentang profesi guru, melihat aturan yang ada di negara kita, sepertinya guru adalah profesi yang dipandang sebelah mata, atau malah tidak dipandang sama sekali. Bagaimana tidak? Siapapun bisa menjadi guru. Bahkan jurusan-jurusan pendidikan dan fakultas pendidikan keberadaannya tidak terlalu berarti seperti jurusan dan fakultas bukan pendidikan. Lulusan fakultas pendidikan ketika ingin menjadi guru negeri tetap harus mengikuti PPG disamakan dengan lulusan-lulusan dari fakultas lain. Namun yang lebih parah adalah lulusan jurusan apapun bisa menjadi guru bahkan guru negeri (PNS) asal sudah mengikuti PPG.

Di lain sisi, lulusan jurusan atau fakultas pendidikan tidak boleh melakukan praktek kedokteran. Kalau saja mereka memaksakan diri menjadi dokter, maka tentu dia disebut dokter gadungan. Hukuman berat menunggu.

Mengikuti logika di atas, maka lulusan jurusan yang bukan dari fakultas lain (selain fakultas pendidikan) tidak boleh menjadi guru. Kalau memaksakan diri tentu seharusnya disebut guru gadungan. Dan konsekuensinya mereka harus mendapatkan sangsi.

Namun yang lebih lucu adalah ketika seseorang ingin masuk jurusan kedokteran harus memenuhi persyaratan yang banyak; salah satunya pintar. Bahkan terkesan bahwa hanya orang pintar saja yang bisa masuk dan belajar di jurusan kedokteran. Terus kenapa untuk masuk ke jurusan (fakultas) pendidikan tidak demikian? Apakah untuk jadi guru tidak perlu pintar?

Selamat hari guru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s