Warga Malaysia: Indonesia Tanah Air Kami


“Kau dari mana?” Tanya seorang pedagang.

“Saya dari Indonesia pak cik” jawabku.

“Buat apa kau di sini?” dia bertanya tentang pekerjaan.

“Saya mengajar anak-anak Indonesia”

“Oh… Kamu Cikgu” tukasnya “kami pun dari Indonesia”

“Pak Cik dari Indonesia?” tanyaku, mengkonfirmasi.

“Ya, Sekarang sudah jadi warga Malaysia, tapi tetaplah tanah air kami Indonesia”

***

Percakapan di atas adalah salah satu obrolan penulis dengan seorang pedagang di pasar Kunak-Sabah. Dari obrolan itu tentu anda bisa memahami bahwa ada warga Malaysia yang merasa dan mengaku bahwa Indonesia adalah tanah airnya.

Kalau anda datang ke Sabah, dan berinteraksi dengan orang-orang di Sabah, maka anda pun bisa dengan mudah mendapati cerita yang sama. Penulis mendapati pengakuan-pengakuan tentang Indonesia sebagai tanah air mereka, bukan hanya dari satu, dua, tiga orang. Penulis ingat betul obrolan-obrolan penulis dengan para supir elf atau supir taksi, baik yang resmi maupun tidak (supir-supir angkutan umum). Pernyataan-pernyataan yang bernada sama keluar dari mulut mereka.

Mungkin anda bertanya, warga negara Malaysia mana yang menganggap Indonesia tanah airnya?

Tentu tidak semuanya warga negara Malaysia. Umumnya yang mengaku dan merasa Indonesia sebagai tanah airnya adalah warga negara Malaysia yang berasal dari Indonesia. Mereka adalah para WNI yang berhijrah ke Sabah-Malaysia mencari rejeki demi masa depan yang lebih baik untuk masa depan diri, keluarga dan keturunannya.

Sulitnya peluang mendapatkan pekerjaan di Indonesia memaksa mereka untuk terus berusaha dan tinggal lama di Sabah. Bagi seseorang yang mencari rejeki di negara asing, tentu tidak semudah warga aslinya; banyak kesulitan yang dihadapi. Namun kesulitan itu lebih baik dari pada pulang mencari kerja di Indonesia. Ditambah peluang untuk mengurangi kesulitan mencari rejeki di Sabah-Malaysia terbuka. Peluang itu adalah mendapatkan kewarganegaraan Malaysia. Di sabah, banyak sekali warga negara Malaysia yang berasal dari Indonesia.

Menakar Nasionalisme

Yang menarik adalah adanya anggapan dan tuduhan sinis bahwa WNI yang berganti kewarganegaraan adalah mereka yang tidak mempunyai nasionalisme. Apakah benar nasionalisme diukur dengan berganti kewarganegaraan?

Fakta lain, mereka mengakui bahwa tanah air mereka adalah Indonesia. Selain itu merekapun mengirimkan uang hasil kerja di Malaysia untuk keluarganya yang ada di Indonesia. Tidak sedikit, dengan hasil usahanya, mereka membeli tanah dan membangun rumah untuk mereka pulang. Apakah fakta ini tidak bisa menunjukan bahwa mereka cinta Indonesia?

Penulis punya beberapa teman warga negara Malaysia. Mereka lahir di sabah dan sejak lahir pula kewarganegeraan mereka adalah Malaysia. Dengan banyak kemudahan yang diberikan pemerintah Malaysia akhirnya mereka bisa kuliah bahkan sampai mengambil program doctoral. Walaupun mereka sejak lahir adalah kewarganegaraan Malaysia namun orang tuanya adalah warga Malaysia yang berasal dari Indonesia.

Melihat banyaknya anak-anak Indonesia yang tidak mendapatkan pendidikan, mereka tergerak hatinya untuk memberikan layanan pendidikan untuk anak-anak Indonesia. Mereka berharap generasi bangsa Indonesia ini tidak menjadi bangsa yang tuna. Namun karena kepeduliannya itu salah seorang dari mereka mendapatkan masalah di kampusnya. Kewarganeraannya dipertanyakan. Dengan kasus itu, bisa saja kuliahnya diberhentikan dan kewargenaraannya dicabut, karena dianggap sebagai penghianat.

Untuk mereka, pindah kewarganegaraan adalah salah satu usaha untuk mendapatkan hak hidup yang layak. Dengan pindah kewarganegaraan tidak ada satu hak orang lain yang terambil. Dengannya tidak ada satu nyawapun terenggut.

Bandingkan dengan para pemimpin, para politisi, dan para anggota dewan kita –konon sih disebut oknum! Sudah berapa hak rakyat miskin yang mereka jarah? Sudah berapa nyawa melayang karena haknya diabaikan? Sudah berapa banyak hak-hak negara yang mereka rampas? Padahal hak dan nyawa yang mereka renggut adalah hak dan nyawa rakyat Indonesia. Padahal merekalah yang diberikan kepercayaan mengelola negera Indonesia. Apakah mereka lebih baik dalam nasionalisme dibanding WNI yang pindah kewarganegaraan karena sebuah harapan hidup lebih layak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s