Indon dan Inferioritas Diri


Salah satu cafe di Sabah

Salah satu cafe di Sabah

Dua tahun berlalu penulis terbiasa mendengar panggilan Indon untuk sebutan Indonesia. Pertama kali datang ke negeri Sabah-Malaysia penulis mendapat sebuah petuah dan nasihat dari para senior agar hati-hati dengan sebutan Indon. “Indon adalah sebuah penghinaan terhadap harkat dan martabat kita sebagai bangsa” tegas mereka demikian.

Sebelum menginjakkan kaki di negara asing, penulis sudah sering mendengar “kata” (singkatan) untuk menyebut Indonesia. Namun sebutannya bukan Indon. Penulis sering mendengar sebutan tersebut dari teman-teman penulis yang suda berada berada di luar negeri. Para pengucap “kata” tersebut tentunya Warga Negara Indonesia tulen. Bahkan “kata” tersebut lebih irit satu hurup dari pada Indon; Indo.

Tentu saja petuah dan nasihat dari para senior tentang kata Indon adalah sebuah penghinaan tidak begitu saja penulis makan mentah-mentah. Alasannya cukup sederhana; 1. Apakah seluruh orang Malaysia membenci orang Indonesia sampai-sampai memberikan “gelar” dengan kata-kata yang hina? Penulis sangat tidak yakin seseorang bisa membenci kepada orang lain hanya sekedar berbeda negara. Namun penulis tidak juga menapikan petuah dan nasihat tersebut.

Dua tahun lebih 1 bulan 20 hari adalah waktu yang cukup untuk memahami makna Indon; makna faktual.

Indon Vs Indo

Persamaan Indon dan Indo adalah kedua kata tersebut sebutan untuk menunjuk negara Indonesia.

Perbedaannya:

  1. Indon lebih banyak satu hurup dibanding Indo.
  2. Indon adalah kata untuk sebutan Indonesia di Malaysia. Konon Brunei dan Singapura pun memakai istilah itu –penulis tidak tahu persis. Namun akhir-akhir ini bukan hanya di Malaysia, Singapura atau Brunei, bahkan ada beberapa berita online yang berbahasa inggris menggunakan kata Indon untuk menyebut Indonesia. lihat di sini link 1, link 2, dan link 3

Untuk lebih yakin, anda bisa membuktikan dengan mengetik kata INDON dalam mesin pencarian bah google.

Sedangkan Indo kata untuk sebutan Indonesia oleh orang-orang di negara-negara luar selain Malaysia. Seperti Korea, Hongkong, Arab Saudi, Australia dan beberapa negara lain. Setidaknya Warga Negara Indonesia yang bekerja di negara-negara tersebut menunjuk Indonesia dengan kata Indo.

  1. Indon menjadi polemik bahkan menjadi isu menarik untuk di goreng dalam wajan politik yang menyangkut dua negara bertetangga; Indonesia dan Malaysia. Indo sebuah kata yang tidak semenarik dan seseksi Indon.

Yang menjadi aneh adalah perbedaan nomor 3. Keanehan itu yang menarik penulis untuk ikut campur dalam sengketa kata Indon ini. Kenapa Indon dan Indo diperlakukan berbeda?

Makna Ilmiah dan Makna Faktual

Yang penulis maksud makna ilmiah adalah makna yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ada dasar atau teori yang sudah disepakati oleh para pakar. Salah satu sumber data yang bisa dijadikan rujukan tentang keilmiahan sebuah makna kata adalah kamus.

Penulis mencoba mencari kata Indon dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Malaysia, bahkan coba-coba dalam kamus Oxford Advanced Learners Dictionary.  Hasilnya tidak ditemukan kata Indon di kamus-kamus tersebut. Tidak ada satu referensipun yang menerangkan bahwa makna Indon adalah istilah hinaan.

Makna faktual adalah terminologi yang penulis buat. Faktual adalah keadaan sesuai fakta dilapangan. yang penulis maksud dengan makna faktual adalah makna sebuah kata yang berdasarkan fakta di lapangan. Hubungannya dengan berbahasa (komunikasi) verbal maka makna sebuah kata bisa tidak bergantung sendiri pada kata tersebut, melainkan mimik pengucap, kontek ucapan tersebut, dan latar belakang terjadinya ucapan tersebut.

Penulis berikan contoh; Kamu kan pintar.

Kalau kita memahaminya hanya berdasarkan susunan hurup-hurup di atas, maka kita memahami kalimat tersebut adalah pujian.

Namun berbeda ketika mengetahui ucapan tersebut keluar dari orang yang jengkel dengan temannya yang sok tahu, kemudian dia mengucapkan kalimat tersebut. Ditambah ekpresi wajahnya yang kesal, dan bibir yang di tekuk kedalam. Maka kita bisa memahami kaliamt tersebut sebagai ungkapan sindiran, bahkan bisa dikatan hinaan atas sikap sok tahun temannya.

Penulis mendapatkan makna Indon dari fakta-fakta berbahasa dengan orang-orang di Sabah-Malaysia. Ada tiga kelompok pengguna kata Indon di Sabah; 1. warga negara Malaysia tulen, 2. warga Malaysia asal Indonesia, 3. warga negara Indonesia sendiri.

Pertama kali mendengar sapaan Indon, terus terang penulis agak risih dan kesal. Kekesalan itu sepertinya bukan karena unsur kesan hinaan itu, namun pengetahuan awal dari para senior yang mempengaruhi alam bawah sadar penulis. Penulis melihat bagaimana senangnya mereka ketika bertemu dengan orang Indonesia (penulis), “kamu dari Indon kah?” Setelah itu mereka banyak bercerita ketertarikannya datang dan berkunjung ke Indonesia. Kata-kata yang dikeluarkannya sopan dan sikapnya pun ramah. Penulis sama sekali tidak merasa sedang di hina, juga tidak memahami bahwa mereka sedang menghina.

Mungkin anda bisa membaca pandangan orang Malaysia tentang ini. baca di sini link 4

Merespon Kata Indon

Suatu hati penulis pernah berbincang dengan perawat berkewarga negaraan Malaysia yang bekerja di rumah sakit di Sarawak. Dalam perbincangan itu dia bertanya beberapa pertanyaan 1. Kenapa orang Indonesia marah ketika disebut Indon? 2. Apakah kata Indon itu adalah hinaan di Indonesia? 3. Kalau memang hinaan, apa artinya? Penulis jawab, tidak semua orang Indonesia marah di panggil Indon, contohnya saya. Karena dalam bahasa Indonesia tidak kata kata Indon yang bermakna hinaan. Tapi memang sebagian dari kami merasakan itu adalah hinaan, jadi sebaiknya memanggil dengan Indonesia saja.

Di sini jelas, bahwa orang tersebut pun kebingungan ketika ada orang Indonesia marah-marah, karena dia tidak merasa melakukan kesalahan; melalui hinaan dengan kata Indon.

Penulis sering bertemu orang-orang baru dan berkenalan. Salah satu pertanyaan mereka adalah “dari Indon kah?” penulis jawab “ya saya dari Indonesia”. Ketika bercerita tentang negara tercinta penulis mengatakan Indonesia kepada mereka tanpa di awali menyalahkan dan memarahi mereka. Ingat bahasa adalah komunikasi. Kalau dalam berinteraksi di awali salah-menyalahkan dan marah-marahan tentu tidak akan tercipta komunikasi yang baik. Yang tersisa kesan bahwa orang Indonesia pemarah.

Hasilnya lumayan, warga di sekitar tempat tinggal penulis yang sering berinterakasi dengan penulis, hampir tidak pernah lagi menyebut Indon untuk Indonesia.

Emosional dalam Berbahasa = Inferioritas Diri

Kalau anda berbicara dengan orang yang merasa rendah diri, maka jangan heran anda akan kebingungan berbicara dengan mereka, karena kata-kata anda bisa bermakna lain di hadapan orang tersebut.

Penulis berikan contoh, ketika anda sedang tidak punya pekerjaan, kemudian bertemu dengan teman-teman sekolah yang mereka sudah punya pekerjaan mapan dan sukses secara materi. Maka jangan kaget kalau anda merasa bahwa pembicaraan mereka seperti mengolok-olok anda, apalagi ketika mereka bertanya tentang pekerjaan, bertanya tentang materi, memberikan nasihat tentang pekerjaan, dan hal lain. Padahal teman-teman anda justru sedang ingin membantu anda dengan memberikan motivasi dan solusi yang mereka tahu.

Nah, kesalah pemahaman atas contoh di atas karena posisi orang yang satu berada dalam perasaan rendah diri (inferior). Penulis menduga jangan-jangan kekesalan dan kemarahan kita saat ada orang yang menyebut Indon justru karena rasa rendah diri itu. Karena secara ilmiah tidak ada dasar bahwa mereka sedang menghina kita. Kemudian kenapa harus marah?

Fakta warga negara Indonesia banyak yang menjadi buruh kasar di luar negeri memang benar. Namun kita tidak perlu merasa rendah diri dengan keberadaan saudara sebangsa kita yang bekerja menjadi TKI atau TKW. Menurut penulis mereka juga ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di dalam negeri, andai pemerintah memberikan kesempatan. Justru kalau kita ingin marah, justru kita harus marah kepada pemerintah yang membiarkan rakyatnya. Ya konon, menurut para senior tadi Indon itu artinya budak. Namun tetap ini tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah; baik secara makna ilmiah maupun makna faktual.

Justru ada baiknya, kalau mau, kita bisa membetulkan istilah Indon dengan bahasa yang santun. Bahasa santun dan sikap ramah kita saat berinteraksi dengan bangsa lain mencerminkan keunggulan bangsa Indonesia. Jika tidak, maka hipotesis penulis benar adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s