Haji dan Kualitas Diplomasi Negara


Pada hari kedua setelah tiba di kota Mekkah, saya dan rombangan di bawa berkunjung (ziarah) ke tempat-tempat bersejarah dan daerah-daerah yang akan dilewati saat pelaksanaan ibadah haji; Gunung Tsur, Gunung Nur, Gunung Rohmah, Go’a Hiro, Arafah, Mina, Muzdalifah, dan beberapa tempat lain.

Dalam perjalanan itu, mutawwif (red: pimpinan rombongan) menjelaskan tentang setiap daerah yang dikunjungi atau dilewati; sejarah, keberadaan, fungsi, dan hal lainnya yang berhubungan dengan daerah tersebut.

Salah satu tempat yang dilewati dan dikujungi adalah kota Mina. Di kota Mina semua jamaah haji dari seluruh dunia diharuskan bermalam yang merupakan salah satu wajib haji. Lokasi untuk bermalam di kota Mina ini diatur oleh pemerintah Saudi Arabia. Pemerintah Saudi Arabia lah yang mempunyai kebijakan jauh atau dekatnya lokasi bermalam di Mina dengan tempat lempar jumroh.

Kebijakan penentuan lokasi di Mina ini berpengaruh atas jarak tempuh dari tempat bermalam ke tempat melempar jumroh yang merupakan wajib haji. Menurut mutawwif sambil menunjukan lokasi tempat bermalam jamaah haji asal Indonesia, ternyata lokasinya terletak sangat jauh dari tempat lempar jumroh. Yang terletak di balik satu gunung dari tempat melempar jumroh.

Di lihat dari sisi para jamaah haji, pandangan penulis, ini bukan masalah besar. Bagi mereka, untuk mendapatkan ridha Allah, perjalanan kaki yang jauh, kesulitan dan rintangan apapun tidak akan mereka hiraukan. Namun dari sisi pemerintah Indonesia, seharusnya pemerintah melakukan hal terbaik untuk rakyatnya seperti yang dilakukan pemerintah negara-negara lain untuk rakyatnya.

Itu salah satu contoh, masih banyak hal lain yang berhubungan dengan pelayanan ibadah haji yang membutuhkan peran, kepedulian dan diplomasi pemerintah Indonesia dengan pemerintah Saudi Arabia. Bahkan penulis lihat sendiri bagaimana negara tetangga (Malaysia) sudah mampu mendirikan hotel negaranya untuk kepentingan jamaah haji rakyatnya yang letaknya dekat dengan Masjidil Haram.

Kepedulian dan Diplomasi

Apakah pemerintah Indonesia tidak mau membuat rakyat lebih nyaman dalam beribadah, seperti pemerintah-pemerintah lain yang berbuat untuk rakyatnya?

Kalau jawabannya iya, maka para pemimpin yang menduduki jabatan saat ini bukanlah pemimpin dan negarawan yang punya integritas. Karena di saat pemerintah dari negara-negara lain, berjuang untuk rakyatnya, pemerintah Indonesia terlihat seperti pemimpin-pemimpin yang jayus (tidak mempunyai harga diri dengan meninggalkan kewajibannya melindungai rakyatnya).

Atau apakah kualitas diplomasi negara kita yang di bawah rata-rata?

Kalau memang ternyata pemerintah mau, kemudian tidak berbuat. Mungkin karena pemerintah Indonesia di huni oleh-oleh pemimpin-pemimpin penakut. Mereka takut setiap diplomasinya selalu kalah. Kalau memang demikian, maka rakyat Indoneisa tidak bisa mengharapkan dan mengandalkan pemerintahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s