Haji, Kok Memaksakan Diri?


Pada pembahasan tentang “Haji: Antara Panggilan, Izin dan Ridha Allah”, selain kritik terhadap sisi bahasa, penulis juga ingin menekankan bahwa rencana dan usaha seseorang untuk melaksanakan ibadah haji tidak akan pernah sia-sia. Allah akan membalas usaha seseorang seberapa kecilpun usahanya, walaupun ia tidak sampai di tanah suci.

Nah kemudian, bagaimana dengan sikap seseorang yang berusaha dengan segala kekuatannya untuk melaksanakan ibadah haji, padahal secara materi ia belum mempunyai kemampuan untuk berangkat. Sedangkan sudah jelas-jelas dikatakan bahwa wajibnya ibadah haji hanya bagi muslim yang mampu. Salah satunya mampu dari sisi materi.

Penulis pernah membaca sebuah artikel yang membahas tentang kritik atas kebijakan pemerintah Indonesia yang memberikan kesempatan warganya untuk daftar haji dengan system tunggu. Yang akhirnya banyak orang-orang yang secara materi tidak mampu tertarik untuk mengikuti cara ini, karena banyak bank syari’ah yang memberikan layanan bantuan untuk mendapatkan nomor urut.

Salah satu kritikannya adalah kenapa seseorang yang tidak mampu secara bersusah payah padahal sudah jelas ia belum dikenai kewajiban haji?

Sebelum memberikan pandangan atas hal ini, ada beberapa pertanyaan yang bisa kita jawab;

1. Apakah salah (dosa) seseorang yang berusaha untuk melaksankan ibadah (haji) padahal ia dalam keadaan sulit?

Untuk pertanyaan ini, alangkah lebih baik kita pahami surat Ali-Imron ayat 134 yang menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa (muttaqiin) yang dijanjikan surga oleh Allah pada ayat sebelumnya; “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Jelas sekali bahwa gelar takwa disandang oleh orang yang menginfakan hartanya di waktu lapang maupun sulit. Bukankah setiap harta yang dikeluarkan dan segala perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah Sadoqoh?

2. Apakah perbuatan “memaksakan diri” untuk mendekatkan diri kepada Allah akan menjadi perbuatan yang sia-sia?

Al-Qur’an surat surat Al-Zalzalah ayat 7-8 adalah jawaban untuk pertanyaan ini. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (7) dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (8)”

Melayakan Diri = Mengusahan Diri Mampu

Seorang siswa dia bisa naik kelas ketika ia sudah dipandang layak oleh gurunya, sesuai dengan standar kurikulum yang ada. Namun ia tidak akan naik kelas, walaupun gurunya sudah mengingatkan dan mengajarkannya, andai ia tidak mengusahakan dirinya sendiri agar kemampuannya sesuai dengan standard yang berlaku.

Begitupun dengan ibadah haji, bagi kaya yang bergelimpangan harta sekalipun, ia tidak akan bisa pergi melaksanakan ibadah haji seandainya ia tidak berusaha. Apalagi bagi orang-orang kekurangan dari sisi materi, kemudian ia memilih diam. Memilih untuk menunggu (pasrah) dari pada berusaha. Tentu saja jauh dari kesempatan untuk berangkat ibadah haji.

Usaha menabung di bank yang diawali dengan membayar cicilan atas pinjaman bank yang membayar biaya pendaftaran hajinya adalah salah satu bentuk mengusahakan diri menjadi orang yang mampu.

Banyak orang yang bilang “tolong do’akan saya di multazam untuk bisa berangkat haji”. Tapi dirinya sendiri tidak pernah mengusahakan dengan merencakan keuangan, kemudian menabung, ataupun langsung daftar. Tentu konsekuensi bagi kelompok ini adalah 1. Mereka tidak akan bisa pergi ke tanah suci karena mereka tidak melayakkan diri, 2. Mereka tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, karena hajinya hanyalah angan-angan saja.

Penutup

Pilihan bagi kita yang memimpikan untuk melaksanakan ibadah haji hanya satu; mengusahakan diri menjadi orang yang mampu.

Caranya:

  1. Rencanakan dari sisi materi dan waktu
  2. Usahakan dengan mengerjakan rencana yang dibuat
  3. Do’a dan tawakkal semenjak mengazam hingga sampai di tanah suci bahkan sampai kembali ke tempat tinggal

Allahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s