Haji: Antara Panggilan, Izin dan Ridha Allah


Sebagai hamba, siapapun orangnya, apapun pekerjaannya, bagaimanapun keadaannya pasti menginginkan memberikan yang terbaik untuk Tuhannya. Ibadah adalah terminologi untuk menyebut tindak-tanduk seorang hamba untuk mendapatkan ridha Tuhannya. Bagi orang Islam salah satu bentuk ibadah adalah haji. Setiap orang Islam yang beriman pasti menginginkan untuk melaksanakan ibadah ini.

Ibadah haji ini berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Bahkan sepengetahuan penulis setiap ibadah mempunyai karakter masing-masing dan syarat yang berbeda-beda. Shalat misalnya, semua orang muslim, baligh dan berakal tanpa terkecuali wajib melaksanakannya apapun, bagaimanapun keadaanya. Contoh kedua Shaum, disana ada rukhsoh untuk mengganti puasanya di bulan selain Ramadhan, bagi yang bepergian, sakit atau alasan syar’i lain. Ibadah haji diwajibkan bagi muslim yang mampu; mampu secara materi dan fisik.

Haji Hanya Bagi Yang Dipanggil Allah?

Seringkali kita mendengar istilah “haji adalah panggilan Allah”. Mungkin kita pernah mendengar ungkapan-ungkapan ini

1. “Untuk bisa berangkat melaksanakan ibadah haji tidak hanya karena biaya, tapi juga merupakan panggilan Allah”,
2. “Banyak orang yang kaya kemudian mereka tidak tergerak hatinya untuk pergi melaksanakan ibadah haji. Banyak orang yang sudah berusaha bahkan semua persyaratan sudah siap, tinggal berangkat, tapi akhirnya tidak berangkat. Ini bukti bahwa haji merupakan panggilan Allah”.

Terus terang, bagi Penulis, istilah “panggilan” ini sedikit mengganjal. Penggunaan istilah “panggilan Allah” seolah menapikan sebuah niat dan usaha manusia untuk menghadap Allah.

Mari kita analisa makna yang terkandung dari kata ‘panggilan’ terebut.

1. bahwa dengan istilah tersebut (panggilan Allah) terkesan bahwa orang-orang yang melaksanakan ibadah haji adalah pilihan Allah (the choosen), makna lainnya adalah bahwa orang yang tidak (belum) ibadah haji bukan orang-orang pilihan Allah.
Benarkah orang yang (belum) tidak berangkat ibadah haji adalah orang-orang yang tidak Allah pilih?, bukan orang-orang yang disukai Allah? Penulis berani menjawab Allah suka kepada hambanya bukan karena belum (tidak) berangkat haji ataupun sudah.
Memang benar keberangkatan seseorang untuk berangkat haji bukan karena biaya, tapi ada Allah yang berperan disana. Namun ini bukan tentang ibadah haji saja. Semua rencana dan usaha manusia pun demikian. Semuanya terlaksana atau tidak bukan karena biaya atau materi semata tapi ada peran Allah. Penulis tidak sepakat untuk menyebut peran Allah ini dengan dengan istilah “panggilan Allah”. Menurut penulis peran Allah ini lebih cocok dengan istilah “izin Allah”.

Benar memang orang yang ibadah haji adalah orang yang Allah cintai, tapi bukan tentang ibadah haji saja. Setiap orang yang melaksanakan ibadah karena Allah, Allah pasti mencintainya. Namun apakah benar Allah pasti menyukai semua amalan seseorang termasuk manasik haji setiap yang berhaji? Banyak ayat yang menjelaskan banyak orang yang ibadah namun mereka malah celaka, mereka mendapatkan neraka wail. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Maa’un Ayat 4-6. Jelas tidak semua orang yang melaksanakan ibadah haji kemudian Allah menyukainya, ada yang Allah cintai ada yang Allah tidak.

Beberapa ayat qur’an menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak memilah dan memilih seseorang untuk sampai di tanah suci melalui kualitas dan ketakwaan seseorang. Mari kita pahami ayat-ayat berikut:

Pertama,
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imraan [3]; ayat: 96-97)

Kedua,
وَأَذِّنْ فِي النَّـاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيـقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj [22]; ayat: 27)

2. Terkesan bahwa Allah pilih kasih dalam memilih umatnya.
Bukan hanya sebuah praduga penulis saja tentang hal ini. Bahkan ada seorang mutawwif (orang membimbing tawaf) yang berposisi (memposisikan diri) sebagai ustadz dan pemimpin rombongan haji kelompok haji kami berkata: “Bapak-bapak dan ibu-ibu, selamat anda semua adalah orang yang dipanggil oleh Allah dan anda yang memenuhi panggilannya. Dengan demikian Bapak-ibu adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah”

Faktanya banyak orang berangkat ke tanah suci, tujuannya bukan untuk ibadah. Banyak orang yang keberadaannya di tanah suci melakukan berbagai bentuk kemungkaran. Banyak yang sampai masjidil haram, namun yang mereka peduli adalah pose-pose dirinya di depan ka’bah, bahkan rela melakukan perbuatan-perbuatan yang mencelakakan orang lain demi mencium-cium ka’bah dan hajar aswad. Tidak sedikit orang yang melewatkan malam-malamnya selama waktu haji hanya dengan tidur, belanja dan berleha-leha. Ini kelompok pertama.

Fakta lain, banyak orang yang tiap malam sujud namun tidak (belum) berangkat haji. Banyak orang yang sudah sepenuh tenaga dan jerih payahnya untuk melaksanakan ibadah haji namun mereka belum juga sampai di tanah suci. Bahkan tidak sedikit kasus orang-orang terpaksa kembali ketempat tinggalnya karena pihak imigrasi Saudi tidak memberikan kebenaran untuk masuk. Ini kelompok kedua.

Apakah mungkin Allah memandang kelompok pertama lebih mulia dari kelompok kedua karena berangkat dan sampainya ke/di tanah suci? Apakah Allah tidak melihat niat dan usaha hambanya yang tidak (belum) sampai di tanah suci?

Penulis memahami bahwa ridha Allah tidak dibatasi oleh tempat dimana seorang hamba berada. Bisa saja seseorang mendapatkan izin Allah untuk sampai di tanah suci, namun ia tidak mendapatkan ridha Nya. Bisa saja orang-orang yang (belum) tidak sampai di tanah suci –tentunya mereka yang mengazam, merencanakan, berusaha, dan berdo’a- justru mereka yang mendapatkan ridha Allah. Bukankah Allah telah berfirman -sebagaimana kandungan surat Al-Hujurot ayat 13- bahwa yang paling mulia dihadapan Allah adalah orang yang paling takwa?

3. Istilah “panggilan Allah” yang memberi kesan bermakna bahwa semua yang berangkat haji adalah “pilihan Allah”. Karena mereka adalah “pilihan Allah” apakah itu berimplikasi pada kemabruran (kemaqbulan) hajinya. Dengan kata lain, pasti Allah meridhai mereka semua.

Kalau memang demikian, berarti tidak ada istilah haji mardud. Sedangkan dalam teks-teks lain telah dijelaskan bahwa perbuatan seseorang bergantung pada niatnya. Dalam teks lain dijelaskan bahwa yang berilmu berbeda derajatnya dengan yang tidak berilmu, yang berusaha berbeda derajatnya dengan yang tidak berusaha.

Kesimpulan

1. Keberangkatan seseorang untuk ibadah haji dan sampainya di tanah suci merupakan izin Allah tidak.

2. Sebuah izin tidak berarti bahwa Allah suka (ridha).
Allah bisa saja memberkan izin kepada setiap orang untuk pergi haji, namun belum tentu Allah Ridha kepadanya. Allah tentu melihat niat dan usaha hambanya. Ada orang yang haji yang mabrur, ada juga yang mardud. Ada orang yang sudah mendapat izin Allah dan juga ridhaNya, ada juga orang yang mendapatkan izinnya, tapi tidak ridhaNya.

3. Ketidak berangkatan dan tidak sampainya di tanah suci bagi seseorang yang sudah mengazam, merencanakan dan berdo’a untuk ibadah haji bukan berarti Allah tidak suka terhadap orang tersebut. Bisa saja Allah ingin melihat bentuk ibadah lain dari hamba tersebut untuk mendapatkan ridhaNya; kesabaran, terus menggantungkan harapan kepada Allah (roja’), dan usaha-usaha lain. Bisa jadi bentuk ibadah lain selain haji itu yang membuat seorang hamba mendapatkan ridha Alah.

4. Istilah “panggilan Allah” bagi yang berangkat haji dan sampai di tanah suci kurang tepat. Karena dalam beberapa ayat yang sudah penulis kemukakan, bahwa Allah memanggil orang-orang islam yang beriman bahkan seluruh manusia untuk beribadah haji. Istilah “panggilan Allah” lebih tepat menggunakan istilah “izin Allah”.

Allahu A’lamu

One response to “Haji: Antara Panggilan, Izin dan Ridha Allah

  1. Pingback: Haji, Kok Memaksakan Diri? | Coretan Padlilsyah·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s