Buah Hati


Untuk anda yang sedang menanti hadirnya buah hati.
Selamat menikmati penantian. Memang anda benar sekali, bahwa dalam penantian ada kebosanan, kegelisahan dan ketidak pastian. Namun ketika anda menyerahkan kepada Pemilik rasa dan Pemilik keputusan, maka kebaikan akan terus mengalir untuk anda; bukankah itu sebuah ibadah?

Untuk anda yang merasa sudah lama menanti buah hati.
Kemungkinan besar anda kecewa, malu, marah, sedih, dan perasaan-perasaan yang tidak mengenakan lain. Bagaimana tidak? Serangan pertanyaan bertubi-tubi seolah menyalahkan anda: “Bagaimana sikap suami?”, “Bagaimana reaksi mertua?”, “Kapan akan punya?” tentu dengan berbagai macam peluru pertanyaan yang berbeda tergantung kapasitas, kualitas dan kemanusiaan sang penanya: Dari yang sekedar basa-basi sampai ke level serius yang tinggi. Dari pertanyaan yang rasional sampai yang berjenis irrasional.

Kecewa dan marahlah! Karena semua itu adalah rasa yang Tuhan berikan kepada anda. Namun ada baiknya kita -bukan hanya anda- menyadari bahwa ini bukan hanya tentang anda. Kita pun -aku, anda dan mereka- harus menyadari bahwa anda tidak sendirian; Suami anda adalah orang bertanggung jawab atas ketidak hadiran buah hati anda. Tentunya, dengan catatan ketidak (belum) hadiran buah hati adalah sebuah dosa, kesalahan atau kriminal. Kirimkan surat kepada semua yang menghakimi anda; “Aku Bukanlah Tersangka Karena Belum Hadirnya Buah Hati”.

Ini bukan tentang anda. Ini bukan tentang suami anda. Ini bukan tentang mereka. Tidak ada satu orangpun yang mampu menciptakan seorang manusia. Seorang dokter ahli dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan pengalaman yang luas tetap tidak bisa. Bahkan Firaun yang mengaku sebagai Tuhanpun tidak mampu. Ya, Ini tentang Tuhan.

Saat anda bersedih mendambakan seorang manusia hadir di muka bumi. Di sebelah anda ada orang yang sedang bersedih karena kehilangan anak, bapak, ibu atau siapapun dan apapun yang ia cintai. Di depan anda banyak orang sedang gelisah menanti seseorang hadir di kehidupannya. Bukankah anda dan mereka sama-sama bersedih dan gelisah karena ketiadaan? Namun ini bukan tentang anda dan mereka; Ini tentang waktu (ajal); tiap-tiap umat memiliki waktu. Apabila telah datang waktu mereka, maka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun tidak (pula) mendahulukan (nya).

Mohonlah ampunan kepada Tuhan atas kecewa dan marah anda. Sampaikanlah bahwa anda belum pandai mengatur hati. Tegaskan padaNya bahwa anda beriman atas ketetapanNya. Sampaikanlah keluhan dan perasaan anda kepadaNya. Betapa banyak ketetapanNya yang wajib kita syukuri; Bukankah kita tidak mau membohongkan dan menafikan kenikmatan-kenimatanNya karena satu ketetapanNya yang ini?

Untuk kamu yang aku sayangi
Terlalu banyak nikmat yang belum –bahkan tidak akan- bisa kita syukuri. Kenapa kita harus memilih kufur? Ini pertanyaan retoris, tentunya. Aku tidak bermaksud, bersama-sama mereka, menghamikimu. Kita –aku dan kamu- hanya bisa mengerjakan pekerjaan manusia, tidak perkerjaan Tuhan; Tugas kita adalah berusaha dengan sepenuh daya dan berdoa. Menghadirkan seorang makhluk di dunia ini adalah hak Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s