Memulangkan Anak-anak TKI dengan Pendidikan


“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” demikian bunyi pepatah yang sangat terkenal. Namun semoga ungkapan itu tidak menjadi ‘prinsip buta’ anak-anak didik penulis di Sabah, Malaysia. Orang tua meraka adalah para buruh kasar yang seolah pasrah dengan keadaan. Penulis tidak ingin mereka mengikuti jejak orang tuanya. Tidak bermaksud memandang rendah sebuah pekerjaan. Penulis hanya tidak berharap bahwa mereka menjadi orang-orang yang pasrah (nrimo) atas nasib mereka. Setiap orang pasti menginginkan penghidupan yang layak dan pekerjaan yang menyenangkan. Penulis berharap mereka menjadi pejuang (mujahid) minimalnya atas diri dan keluarganya kelak, maksimalnya pejuang untuk bangsa dan negaranya.
Berdasarkan data KJRI Kota Kinabalu, jumlah WNI yang berada di Sabah, Malaysia per 09 Februari 2012 sejumlah 401.773 orang, ada sebanyak 305.584 orang sebagai pekerja kasar, sisanya adalah profesional dan masyarakat keturunan yang masih memegang paspor RI. Dari jumlah total tersebut, sebanyak 53.768 orang adalah anak-anak. Hanya sekitar 10.000 yang baru terjamah pendidikan. Mereka semua itu belajar di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), di pusat-pusat kegiatan belajar LSM International Humana Child Aid Society, dan di Sekolah-sekolah terbuka (red: Community Learning Centre) yang diprakarsai oleh P2TK DIKDAS KEMDIKBUD yang bekerjasama dengan KJRI Kota Kinabalu dan KRI Tawau.

Pendidikan untuk Pekerjaan?

Penulis mendapatkan cerita nyata ini dari seorang partner. Dalam tema supervisi seorang pejabat dihadapan partner penulis dan pihak kebun termasuk manager. Ia menjelaskan tentang kompetensi yang harus dimiliki orang seorang guru yang dikirim ke kebun sawit:
“Guru-guru Indonesia yang dikirim ke Sabah seharusnya mempunyai wawasan dan kreatifitas yang luas”
Si partner manggut-manggut sebagai bentuk konfirmasi atas pernyataan supervisor tadi. Mengajar di daerah yang kepedulian orang tuanya lemah terhadap pendidikan, akses telekomunikasi dan transportasi sulit, dan bahkan bahaya dari binatang buas pun yang mempunyai resiko tersendiri memang dibutuhkan guru kreatif yang ekstra.
“Sebagai bentuk dari wawasan luas dan kreatifitas yang tinggi adalah dengan memberdayakan potensi alam yang ada”
Kepala si partner yang tadi manggut-manggut tampak kaku, bahasa tubuhnya berubah. Seolah dia sedang menerka-menerka apa yang dimaksud oleh supervisor. Namun dia tidak perlu bersusah payah mengeluarkan energinya untuk bertanya. Supervisor melanjutkan kata-katanya.
“Contoh konkritnya, karena disini kebun sawit maka seorang guru harus tahu dan bisa bagaimana pengelolaan sawit itu, bagaimana cara menanam, merawat, memupuk, memanen dan mengolahnya. Kemudian sang guru bisa mengajarkan anak-anak didiknya bertani sawit yang benar”
Cetaar. Partnerku kaget. Seolah ia mendengar bunyi petir di tengah teriknya mentari. Betapa malunya ia di hadapan para pembesar kebun seolah ia diutus untuk mengajarkan bagaimana mendidik anak-anak didiknya melanjutkan warisan bapaknya; buruh kasar. Maaf, sekali lagi, bukan karena pekerjaan itu adalah pekerjaan rendahan. Namun guru yang dikirim dan alasan pihak perusahaan bersedia membuka lembaga pendidikan tujuannya bukan untuk itu. Tujuannya adalah bagaimana anak-anak para pekerjanya yang notabene TKI mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya.
Kalau hanya untuk menanam, memupuk, menyabit (memanen), meloading (menaikkan setiap buah sawit yang beratnya puluhan kilo ke atas truk), dan hal-hal yang berhubungan dengan sawit, anak-anak Indonesia di Sabah tanpa perlu belajar di sekolah, tanpa perlu belajar membaca, tanpa perlu belajar menghitung, dan tanpa perlu adanya guru dari Indonesia mereka sudah bisa. Mereka sudah menjadi pekerja dalam usia yang belum saatnya. Untuk menjadi pekerja dengan upah yang melebihi UMR kota-kota di Indonesia mereka tidak perlu sebuah surat kelulusan, ijazah sekolah, bahkan tidak butuh ‘pendidikan’.

 

Pendididikan Keahlian

Minimnya keahlian yang dimiliki lulusan-lulusan pendidikan Indonesia yang menganggur adalah satu faktor. Walaupun tidak dipungkiri ketersediaan lapangan kerja yang minim adalah faktor lainnya. Oleh karena itu, pendidikan keahlian menjadi program unggulan yang kami berikan.
Selain sebagai bekal untuk keahlian yang ia miliki, pendidikan keahlian dijadikan sebagai daya tarik bagi anak-anak Indonesia di Sabah. Pendidikan yang tidak hanya menggandalkan aspek kognisi saja, tapi juga aspek psikomotorik. Adapun bidang keahlian yang kami (guru-guru Indonesia) berikan di CLC-CLC (SMPT-SMPT) adalah menjahit, memasak, hasta karya, dan keahlian-keahlian lainnya.
Hemat penulis, pendidikan Keahlian bukan merupakan goal pendidikan. Pendidikan keahlian adalah sebagai sebuah sarana. Pertama, sarana agar anak-anak Indonesia mempunyai multiple skill, kedua, sarana untuk menarik minat anak-anak Indonesia di Sabah agar tertarik -minimalnya- mencicipi pendidikan. Pendidikan keahlian adalah batu loncatan untuk mendapatkan pendidikan yang sebenarnya; kesadaran penuh atas diri mereka sebagai individu, masyarakat dan warga Negara yang mempunyai hak dan kewajiban.

 

Pendidikan untuk Sebuah Kesadaran

Untuk lebih memahami kebutuhan treatment yang kami (guru Indonesia) lakukan dan munculnya judul tulisan ini, ada baiknya penulis gambarkan kondisi mereka.
1. Jiwa mereka adalah Malaysia. Udara, air, makanan, pakaian, dan tontonan mereka adalah kebudayaan Malaysia. Intinya, lingkungan mereka mengajarkan tentang kemalaysiaan.
2. Buta Indonesia. Di usia remaja, banyak dari mereka yang belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia walaupun hanya satu kali, padahal konon mereka adalah warga Indonesia sebagaimana tertulis di paspornya.
3. “Di sini mudah dapat kerja”. Kata-kata warisan dari para orang tuanya seolah tumbuh menjadi prinsip dalam kehidupan mereka. Makna lain dari kalimat tersebut adalah “disana sulit dapat kerja”. “disini” tentu Malaysia, dan “disana” tentu Indonesia.
4. “Di sana, banyak yang sekolah tinggi tapi menganggur”. Lagi-lagi wejangan orang tua mereka tampak sudah mendarah daging.
5. Lemahnya kepedulian orang tua (para TKI) atas pendidikan untuk anak-anaknya. Dari pada sekolah lebih baik anak-anak mereka membantu pekerjaannya di kebun sawit untuk mendulang ringgit (uang). Seandainya tidak ada peraturan yang mewajibkan anak-anak usia sekolah untuk masuk sekolah, kemungkinan besar orang-orang tua (para TKI) tidak akan mengizinkan anaknya pergi sekolah.
Sekali lagi, kalau tujuannya untuk mendapatkan pekerjaan, tanpa pendidikan mereka sudah mendapat pekerjaan. Pekerjaan yang bisa membuat mereka menabung, membeli tanah, membeli mobil dan bahkan membeli kewarganegaraan Malaysia. Upah mereka lebih dari sekedar cukup untuk hanya menyambung hidup.
Untuk penulis, pendidikan adalah sarana menumbuhkan kesadaran anak-anak Indonesia atas hak-hak pribadinya. Takdirnya bukan untuk menerima hinaan, omelan dari atasan atau majikan. Hak-hak mereka sebagai sebuah warga Negara untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Mempunyai hak yang sama dalam bidang pendidikan, politik, hukum dan yang lainnya. Tentunya kesadaran mereka atas hak-haknya akan berbanding lurus dengan kesadaran tentang kewajiban-kewajibannya, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagai warga negara.

 

Pendidikan Sukses: Pulangnya Anak-anak TKI ke Indonesia

Penulis berdo’a dan optimis semoga dengan skill dan kesadaran mereka, dengan keahlian dan pendidikan yang mereka dapatkan, akhirnya mereka pulang ke Indonesia dengan kepala tegak. Karena bisa bersaing dengan anak-anak Indonesia lainnya. Mereka tidak membawa beban psikologis karena kepulangan mereka ke Indonesia tidak menjadi masalah baru; bertambahnya anak bangsa yang serba tuna.
Semoga kesadaran merekapun dibantu oleh political will dari pemerintah dengan menyediakan lapangan pekerjaan untuk anak-anak Indonesia dan tentunya UU yang pro pekerja Indonesia. Karena kalau tidak, bukan saja mereka akan menyesali kepulangannya, bahkan anak-anak Indonesia lainnya akan memilih menjadi pekerja bagi Negara lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s