T’ajil, T`ajil dan Latah (Latah Berbahasa 1)


T’ajil dan T`ajil adalah dua kata dari bahasa arab. Keduanya merupakan bentuk masdar dari ‘aj ja la (عَجَّلَ) dan `aj ja la (أَجَّلَ). Masdar adalah bentuk kata kerja yang di bendakan. Sebagai perbandingan, dalam terminilogi gramatikal inggris, masdar dikenal dengan istilah gerund. Namun kedua kata ini mempunya arti yang berbeda bahkan bertolak belakang. T’ajil adalah derivasi dari kata kerja ‘a ja la (‘ain, jim dan lam) yang mempunyai arti bergegas, bersegera, cepat-cepat, tergesa-gesa, buru-buru. Sedangkan T`ajil dari kata `a ja la (hamzah, jim dan lam) artinya menunda, mengundurkan, menangguhkan, membelakangkan.

Makna T’ajil dalam kontek puasa ini adalah penyegaraan seseorang -orang yang berpuasa- ketika waktu magrib tiba. T’ajil merupakan sebuah kegiatan yang dianjurkan (sunah) bagi setiap orang yang berpuasa ketika masuk waktu berbuka. Selain dari sisi makna, dari sisi hukum pun T`ajil -mengundurkan berbuka ketika waktunya tiba- mempunyai efek berlawanan. T`ajil adalah perbuatan yang tidak dianjurkan (makruh).

Latah dalam Berbahasa

Perhatikan dua kalimat berikut ini:

1. “Amran bagi-bagi T’ajil untuk warga komplek Ciasin”.

2. “Di masjid At-taqwa hanya menyediakan T’ajil saja”.

Dalam kalimat pertama ada kesan bahwa T’ajil ini adalah makanan yang bisa di bagi-bagikan. Dalam kalimat kedua ada kesan bahwa itu makanan-makanan ringan. Padahal ketika seseorang menyegerakan berbuka apapun itu disebut T’ajil, bahkan nasi sekalipun. Walaupun mengawali berbuka dengan yang manis-manis atau air putih itu di anjurkan (sunah).

Sering kali sebagian dari kita (orang indonesia) menggunakan istilah-istilah asing (selain bahasa indonesia) menyalahi tujuan perkataannya. Contoh, “aduh gua boring ni”. Kemungkinan besar, tujuan perkataan itu adalah menyatakan bahwa dia bosan bukan membosankan.

Penulis menduga kesalahan-kesalahan tersebut karena sebagian dari kita menirukan apa yang didengar tanpa memperdulikan kepentingan ‘akademis’. Kita hanya ‘hafal cangkem’. Kesan dan image lebih lebih prioritas dari sekedar penggunaan istilah-istilah bahasa sendiri –bahasa indonesia. Semoga saja kita tidak menjadi bangsa yang latah dalam berbahasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s