Menikahimu, Bukti atas 14 tahun Silam


“Suamiku, kenapa kau menangis? Padahal ini adalah hari pertama kita menjadi suami istri, belum genap 24 jam kita melalui hari ini. Suamiku, apa yang menyebabkan kau menangis?”

Tanya Dewi kepada suaminya di tengah malam hari pertama pernikahannya. Tanggal 25 Desember 2011, tepatnya Jam 10 pagi tadi ia bersama seorang laki-laki yang sangat ia cintai melaksanakan suatu ibadah suci; Nikah.

Sebetulnya tadi Dewi sedang tidur lelap dan tidurnya sangat awal. Wajar saja, karena kegiatan resepsi pernikahannya menguras banyak tenaga, mental dan pikiran. Malam sebelum hari pernikahannya ia tidak bisa tidur. Rasa nervous terus memeluknya; Berkali-kali dia pergi ke toilet, serasa ia ingin terus buang air kecil.

Acara ini momentum yang sangat ia tunggu dan sakral baginya. Ia akan membina rumah tangga dengan seorang laki-laki idamannya. Yang ia mimpikan dalam setiap helaan nafas dan do’a-do’anya di sepertiga malam akhir.

“Seorang pria yang secara spiritual dan material sudah matang”, pikirnya.

Pria alumnus Al-Azhar Kairo Mesir, menuntaskan program master di Belanda dan Doktoralnya di Australia. Seorang dosen muda di salah satu Universitas Negeri di Jakarta, dengan ide-ide original yang tertuang dalam tulisan-tulisannya. Sering sekali tulisannya mengisi surat kabar lokal dan nasional.

Bagi Dewi, menikah dengan pria yang sekarang menjadi suaminya merupakan sebuah anugerah besar dari Allah. Ia merasa bahwa Allah sudah memberikan bonus lebih atas do’a-do’anya. Secara fisik, suaminya mempunyai paras di atas rata-rata, tinggi 173 cm, badan atletis karena rajin olahraga, pendek kata guanteng habis.

Sebetulnya yang membuat ia tidak bisa tidur, bukan saja nervous namun rasa bahagia yang terluapkan dengan mengobrol sampai pagi bersama sahabat-sahabat karibnya. Tiga sahabat karibnya datang satu hari sebelum pernikahannya, sebagai rasa setiakawan dan ungkapan rasa kebahagiaan untuk temannya.

“Istriku, maafkan aku!”

“Kenapa kau malah minta maaf?”

Mengetahui respon suaminya yang baru 10 jam ini, Dewi bingung. Hatinya gelisah. Apa yang menyebabkan suaminya menangis, dan kenapa juga dia minta maaf.

***

Setelah sholat Isya berjama’ah, Faris menyuruh istrinya untuk tidur lebih awal. Karena ia tahu istrinya begitu lelah untuk acara pernikahan mereka. Istrinya sebetulnya menolak untuk tidur lebih awal. Ia ingin bersama suaminya dulu untuk menemani para tamu. Banyak tamu yang berkunjung baik tetangga dekat maupun tamu-tamu di luar daerah.

Karena suaminya memintanya dengan tulus dan ia pun memang merasakan keletihan yang sangat, ia akhirnya berpamitan kepada suaminya untuk tidur pergi ke kamar lebih dulu. Padahal, jam di tangannya baru menunjukan angka 20.35.

Faris baru bisa menyusul istrinya masuk ke kamar, setelah para tamu pulang sekitar pukul setengah dua belas. Setelah masuk kamar, ia lekas ganti pakaian tidur kemudian ia melihat istrinya yang sedang tidur lelap.

Diam mematung sejenak, dia perhatikan istrinya lama sekali. Ada satu bongkah rasa yang timbul di kedalaman hatinya. Dia pun tidak mengetahui rasa apa itu. Akhirnya, ia tersadar ketika ada rasa dingin yang menetes di bawah matanya; Satu butir air mata. Kemudian ia selimuti istrinya, dan mencium kening istrinya. Ia pun membaringkan badannya di samping istrinya.

Angin malam yang dingin, malam yang gelap nan sunyi seolah sudah menjadi teman sejatinya. Betapa tidak! Angin malam selalu menyelimutinya dari rasa dingin, malam gelap nan sunyi selalu membangunkannya dengan cerah dan candanya. Membuatnya rindu berteman dengan angin malam.

Pun dengan malam ini, matanya perlahan terbuka dan kesadarannya perlahan hadir. Setelah matanya benar-benar terbuka, dengan setengah kesadarannya, ia langsung mendekatkan pergelangan tangan kirinya ke depan matanya. Tampak jelas angka 02:09.

Ia mengumpulkan semua tenaganya ke seluruh tubuhnya untuk bangun. Namun ketika ia menengok ke sebelah kiri betapa terkejutnya dia, hampir saja ia teriak. Bangun tidur kali ini ia mendapati keadaan yang berbeda; Sangat berbeda dibanding bangun tidur sebelumnya selama ini. Ada sesosok tubuh yang terbaring lelap disana. Seraya ia bergumam, “Oh iya, aku kan sudah menikah 10 jam yang lalu”.

Duduk, terdiam dan ia lihat wajah istrinya terus dan menerus. Tersadar oleh dinginnya air mata, satu tetes, dua tetes sampai tetesan itu berubah menjadi aliran. Tangisan sunyi hampir tidak bisa ia tahan. Ia tidak mau membangunkan istrinya yang terlelap karena letih. Ia putuskan untuk mengambil air wudlu dan melaksanakan sholat tahajjud dua raka’at.

Setelah salam ia mengangkatkan dua tangannya, “Ya Allah, terimakasih banyak atas semua nikmat-Mu, Ya Allah, terimakasih atas nikmat-Mu, Ya Allah, terimakasih..” hanya itu yang keluar dari mulutnya, seolah ia tidak bisa mengungkapkan kata-kata yang lain.

Ingatannya lari kepada istrinya. Setiap kali ia ucapkan terimakasih, semakin kuat ingatannya kepada istrinya. Semakin kuat ingatan pada istrinya, semakin kuat air matanya memaksa untuk keluar. Tangisannya terhenti karena kaget mendengar sebuah pertanyaan yang sangat ia kenal.

“Suamiku, kenapa kau menangis? Padahal ini adalah hari pertama kita menjadi suami istri, belum genap 24 jam kita melalui hari ini. Suamiku, apa yang menyebabkan kau menangis?”

“Istriku, maafkan aku!”

“Kenapa kau minta maaf?”

Faris tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya itu. Ia malah terdiam, berusaha menahan air mata yang akan keluar lagi. Air mata Faris dalam satu malam ini sudah keluar tiga kali setiap kali melihat istrinya. Dia sama sekali tidak menyadarinya, bahwa setiap melihat istrinya dia teringat masa 14 tahun silamnya. Ketika ingatannya kembali pada masa itu, maka air matanya keluar.

***

*** 8 Desember 1997 ***

“Ris, ada salam dari si Nur”

“Wa’alaikumussalam” Faris menjawab, sambil ia melanjutkan jalannya setelah menoleh ke Mutmainnah.

“Faris, mau kemana kamu? Kamu itu sok JAIM, sok muna (munafiq)!”

“JAIM mungkin iya, tapi muna, apa alasan kamu bilang saya muna? Saya tidak bohong, tidak ingkar janji, tidak juga berkhianat.”

“Kamu itu dapat salam dari si Nur, jawaban kamu seadanya saja. Si Nur itu cantik,  pinter dan sholehah lagi. Aku yakin kamu juga suka kan sama dia?”

“Innah..!”

Panggilan mutmainnah, kemudian Faris melanjutkan kata-katanya, “Suka, benci, yakin, takut, marah dan yang semacam itu adalah emosi, dan semua itu urusan hati. Semua itu hak asasi seseorang selama tidak merugikan orang lain. Tidak ada hubungannya dengan muna atau tidak.”

“Ya kalau memang kamu suka sama Nur, kamu ungkapkan dong, bilang sama dia. Aku yakin kalau kalian jadian kalian akan jadi pasangan serasi deh di sekolah ini.”

“Maksud kamu, suami istri?”

“Faris, Faris, kamu itu bego apa idiot sih? Ya bukan suami istri lah… pasangan pacaran maksudnya.”

“Hahaha” mendengar jawaban mutmainnah Faris hanya bisa tertawa.

“Kamu tertawa kenapa, ris? Emang ada yang lucu?”

“Iya… saya yakin, dia tidak akan mau semacam itu karena dia pinter”

“Maksud kamu?”

“Kamu kan tahu sendiri, udah ya aku mau cepet masuk kelas ni,” Faris meninggalkan Mutmainnah tanpa menunggu respon.

Mutmainnah yang mendengar jawaban Faris dan langsung meninggalkannya, hatinya mangkel dan jengkel.

 

***Satu minggu setelah tanggal 8 desember 1997***

 

“Aku cari-cari kamu, ternyata kamu ngumpet di perpus.”

“Memangnya aku ini teroris? Sampai harus ngumpet-ngumpet, terus ngapaian kamu cari-cari aku?”

“Aku ngerti sekarang maksud kamu kenapa Nur tidak akan mau pacaran?”

“Emang apa?”

“Katanya, dia gak mau pacaran sampai saat ia mau menikah, pacaran hanya akan membuang waktu, tenaga, pikiran bahkan materi menjadi sia-sia, bahkan pacaran hanya akan membawa kemaksiatan-kemaksiatan saja”

“Oh.. begitu, kamu sekarang faham?”

“Faham, tapi aku gak setuju, soalnya pacaran di pesantren kita kan tidak macam pacaran anak-anak yang lain, yang jalan berdua sambil pegangan tangan, pulang larut malam, kissing bahkan lebih dari itu. Kita hanya surat-suratan bahkan untuk ngobrol saja di pesantren ini sulit. Apanya yang membuat maksiat?,

“Ya kalau memang pacarannya hanya untuk mencoba mengenal calon pasangan hidup dengan tanpa menyalahi aturan syara’ gak apa-apa?”

“Maksud kamu ta’aruf?”

“Ta’aruf itu bahasa Arab, bukan bahasa agama. Jadi, ketika seseorang ingin mengenal calonnya apakah cocok atau tidak dan semuanya itu berada pada koridor syara’ maka itu boleh-boleh saja.”

“Tapi katanya secara psikologis kalau punya perasaan tidak diungkapkan akan menjadi tekanan mental lho, mungkin menjadi penyakit.”

“Seandainya demikian, demi menjaga agama semoga itu bernilai ibadah.”

“Terus bagaimana kalau nanti kamu menikah dengan orang yang berbanding terbalik dalam dengan kamu dalam hal ini?” Tanya mutma’innah, ingin mengetahui sejauh mana prinsip yang dimiliki Faris dan apa yang menyebabkan Faris mempunyai prinsip demikian.

Ditanya demikian Faris diam, tidak langsung menjawab. Sampai-sampai Mutmainnah penasaran dan mengulang pertanyaannya.

“Bagaimana, ris?”

“Innah, kamu ingat apa yang diajarkan Ustadzah Elis kemarin?”

“Suamiku…”

Ingatan akan 14 tahun silam terhenti oleh sebuah panggilan.

***

“Kenapa kau minta maaf? Jangan-jangan engkau…?”

Dewi tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tenggorokannya tersedat oleh ketakutan yang bergejolak dalam pikirannya. Ia langsung bertanya ulang karena suaminya malah tambah menangis ketika mendengar pertanyaannya itu. Semakin takut. Takut bahwa tangisan suaminya sesuai dengan pikirannya. Takut bahwa suaminya menyesal karena sudah menikah dengannya 14 jam yang lalu.

“Wahai suamiku, kenapa engkau tidak menjawab pertanyaanku? Apakah aku sudah melakukan kesalahan kepadamu?”

“Tidak sayang, kamu tidak salah apa pun.”

“Tapi kenapa kau menangis? Apakah menyesal karena menikah denganku?”

“Kenapa kau bertanya demikian?”

“Kenapa kau menangis di malam selarut ini?”

“Istriku sayang, kau perlu tahu, malam ini aku sudah menangis tiga kali, dan itu terjadi setiap aku melihat wajahmu yang sedang tidur.”

Mendengar jawaban suaminya Dewi menjadi bingung, ada apa dengan wajahnya. Bahkan ia berpikir bahwa jangan-jangan suaminya sebetulnya akhirnya menyadari bahwa ia salah menikahi dirinya.

“Suamiku, aku akan menerima apapun yang engkau putuskan seandainya engkau merasa bahwa dalam pernikahan kita ini engkau merasa tertipu. Namun aku ingin tahu apa yang menyebabkan engkau merasa tertipu?”

“Istriku sayang, air mataku bukan air kesedihan, bukan pula kekecewaan, melainkan air mata malu dan takut. Aku malu dan takut tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Selain malu dan takut ini pun, juga air mata bahagia. Aku sangat bersyukur kepada Allah karena Ia telah menjawab do’aku yang aku minta semenjak 14 tahun silam, dan engkau adalah buktinya.”

Mendengar jawaban Faris, kekhawatiran Dewi berubah seketika menjadi sebuah kebahagiaan. Namun tetap saja membingungkan. 14 tahun lalu Faris dan Dewi belum saling kenal.

“Suamiku, aku akan berusaha menjadi istrimu yang menemani dan membantumu agar kapal yang kita arungi berada pada jalur yang benar, namun ada apa dengan 14 tahun silam?”

“Istriku sayang, engkau untukku adalah bukti 14 abad silam.”

“Suamiku, ada apa dengan 14 abad silam?” Dewi tambah tidak mengerti, belum juga dijawab tentang 14 tahun silam sekarang Faris mengatakan 14 abad silam.

Keningnya mengerut, pikirannya mencoba menerka. Penasarannya bertambah, namun sebelum mulutnya terbuka untuk bertanya lagi dia dikejutkan dengan sebuah pertanyaan.

“Istriku, tahukah kamu surat An-Nur ayat 26?”

 

PS. Dipublikasi pertama kali di http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/puisi-sastra/12/09/10/m65ncx-menikahimu-bukti-atas-14-tahun-silam-cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s