WNI Berkebangsaan Malaysia (part 2)


Depositphotos_7873624_L1-470x260Ada tiga hal pokok yang menjadi pokok bahasan pada tulisan kali ini, namun sebelum itu, penulis ingin menjabarkan tentang kewajaran atau tidaknya fenomena ini. adapun 3 pokok tersebut adalah:
1. Siapa yang bertanggung jawab (siapa yang besalah) atas fenomena ini?
2. Sudahkah ada antisifasi konkrit atas fenomena ini?
3. Bagaimana langkah ideal?
Wajar atau Tidak
Atas fenomena Keinginan, rencana dan perpindahan itu sendiri dari warga Indonesia, penulis melihat dari dua persfektif.
Pertama Presfektif Persona. Maksudnya adalah perpindahan kewarganegaraan dari sudut pandang pelaku. Dari beberapa pernyataan, alasan mereka berpindah kewarganegaraan karena:
1. Kepulangan ke Indonesia tidak bisa menjamin dirinya mapan. Kebutuhan dasar manusia seperti makan, tempat tinggal dan kehidupan yang layak adalah menjadi suatu hal yang urgent yang tidak bisa di tunda-tunda lagi.
2. Sabah -menurut mereka- merupakan tempat yang mudah mendapatkan pekerjaan, selain bisa di dapatkan tanpa ijazah, juga lebih besar dari sisi pendapatan. Tentunya pembandingnya adalah Indonesia.
Keengganan pulang ke Indonesia dan sabah merupakan tempat yang menyenangkan adalah motivasi para TKI untuk berpindah kewarganegaraan. Bagaimanpun selama mereka menjadi TKI (WNI) urusan administrasi untuk bekerja dan tinggal terasa sulit. Di sisi lain mereka sudah tidak melihat adanya peluang yang menguntung untuk pulang ke Indonesia.
3. Banyak WNI yang lahir di Sabah, mendapat pendidikan di Sabah, bahkan sampai dewasa yang mereka kenal adalah budaya Sabah (Malaysia) bukan Indonesia. Mereka tidak mengenal Indonesia, tidak ada teman, kerabat, dan tetangga di Indonesia. Untuk kelompok WNI ini, maka rasa, pikir dan jiwa mereka adalah Sabah. Hanya administrasi saja yang membuat mereka di sebut WNI.
Kedua Persfektif Negara. Maksudnya perpindahan seseorang dalam sudut pandang Negara. Negara dan warganya mempunyai hak dan kewajiban. Ketika negara wajib melindungi, memakmurkan, memberikan pendidikan, memberikan kesehatan dan yang lainnya berarti itu semua menjadi hak warganya. Namun ketika warga mempunyai hak, ia pun mempunyai kewajiban yang menjadi hak Negara, diantaranya dalah canti tanah air (nasionalisme) dan bela terhadap tanah air (patriotisme).
Atas dua persfektif tersebut timbul 2 buah pertanyaan; Apakah seorang warga yang berpindah kenegaraan memungkinkan dirinya membela Negara asalnya,? Namun pertanyaan terbalik bisa di lontarkan apakah Negara sudah memberikan hak-hak warganya?

Tanggung Jawab, Antisipasi dan Langkah ideal
Jalaludin Rachmat dalam Rekayasa Sosial, membagi kemiskinan kepada dua; pertama kemiskinan yang disebabkan oleh diri sendiri, dan kedua kemiskinan yang disebabkan oleh sebuah sistem. Senada dengan ide tersebut, pun perpindahan WNI di sebabkan oleh pilihan sendiri an sich. Yang kedua perpindahan WNI disebabkan oleh sebuah sistem.
Bukan rahasia lagi bahwa pemasukan devisa yang dihasilkan dari remitansi yang dikirimkan TKI sangatlah besar. Opini Rieke Diah Pitaloka tentang “TKI di Malaysia: Tumbal Devisa” sangat beralasan dan tidak mengada-ngada. Selian itu, jumlah WNI yang sudah dan sedang dalam proses berpindah kewarganegaraa sangat besar. Melihat semua itu, rasanya penulis sulit untuk mengatakan bahwa fenomena ini bukan disebabkan oleh sistem. Mau tidak mau, negara bertanggung jawab atas fenomena ini.
Melihat hal seperti ini negara dalam hal ini KEMDIKBUD bertindak sesuai perannya. Sejak tahun 2006 KEMDIKBUD bekerjasama dengan LSM pendidikan Humana Child Aid Society dengan mengirimkan guru-guru untuk mengajar anak-anak Indonesia di sana. Tahun 2008 KEMDIKBUD mendirikan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK). Tahun 2011 diresmikan Community Learning Center (CLC) yang di Indonesia terkenal dengan sebutan sekolah terbuka dengan harapan lebih menjangkau setiap anak-anak Indonesia di pelosok Sabah. Goal dari program Kemdikbud ini adalah agar generasi penerus bangsa mengenal Indonesia, mencintai, dan lebih lanjut bisa perjuang untuk Indonesia.
Proyek ini adalah proyek yang mulia. Oleh karenanya harus di kelola dengan serius. Serius dalam artian mempunyai langkah terencana, dan tujuan yang jelas; mewujudkan terciptanya Warga yang cerdas, nasionalis, patriotis, yang bisa membangun negara Indonesia menjadi maju.
Namun perlu di ingat, pendidikan yang dilakukan melalui program KEMDIKBUD ini adalah tindakan yang buahnya bisa di panen dalam jangka panjang. Faktanya, fenomena ini membutuhkan antisipasi dari negara dalam dalam waktu dekat. Lapangan kerja dan undang-undang yang pro rakyat kecil.
Sinergitas antara departemen yang menjadi sebuah hal yang tidak bisa di elakan lagi. KEMDIKBUK, KEMLU, KEMNAKERTRANS, dan departemen lain yang terkait. Fenomena ini seharusnya menjadi salah satu isu nasional dan menjadi garapan pemerintah pusat.
Kepulangan WNI (para TKI) ke Indonesia secara besar-besaran dan tidak kembali lagi merupakan awal pertanda baik. Ketiadaan WNI (para TKI) di Sabah merupakan sebuah pertanda lebih baik berikutnya; bukti negara Indonesia maju. Senada dengan tulisan saya “Menuju “Lenyapnya Pendidikan untuk WNI” di Sabah-Malaysia”
Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s