WNI Berkebangsaan Malaysia (Part 1)


indonesia_merdeka____by_pangerankodok-1
“cikgu, tanggal 17 agustus itu kan hari kemerdekaan bangsa kalian ya?”. Tanya partner ku suatu pagi ketika kami berangkat ke sekolah.
Pagi itu aku benar-benar di kagetkan dengan sebuah pertanyaan aneh dalam versiku. Sebuah pertanyaan yang membuat ku tersenyum lucu dan menggelitik. Namun di balik itu semua, aku merasa sedih. Eh..Mungkin bukan sedih. Maaf aku tidak benar-benar tahu perasaan apa yang ada di dalam hatiku, mungkin perpaduan lucu dan sedih.
“kenapa kamu tersenyum, cikgu?” partnerku menyusul dengan pertanyaan keduanya kepadaku. Karena mengetahui responku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“iya cekgu” jawabku sambil tetap senyum.
“kenapa kamu tersenyum seperti ada yang lucu?” katanya memburuku dengan pertanyaan berikutnya.
“kenapa kamu mengatakan bahwa 17 agustus itu kemerdekaan bangsa kami. Padahal kan Indonesia Negara kamu juga” jawabku mengusir keheranannya melihat senyumku.
Partnerkupun menyusul tersenyum dan berkata “iya ya, saya sering lupa bahwa saya orang Indonesia”.

***

Warga Negara Indonesia atau sering disingkat dengan kata WNI adalah setiap orang yang di akui oleh UU sebagai Warga Negara republik Indonesia. Kewarganegaraan Republik Indonesia diatur dalam UU no. 12 tahun 2006. Kewarganegaraan seseorang ditandai dengan kepemilikan identity card atau di Indonesia di sebut KTP (kartu Tanda Penduduk) atau passport yang menerangkan bahwa seseorang tersebut berwarga Negara Indonesia.
Kata “WNI” secara implisit mejelaskan bahwa ada jalinan antara seorang warga dengan suatu Negara tertentu; dalam hal ini Indonesia. Sebuah jalinan kewarganegaraan melahirkan konsekwensi logis lahirnya hak dan kewajiban antara keduanya. Ada kewajiban Negara yang menjadi hak warganya, dan sebaliknya ada pula kewajiban warga untuk negaranya.
Pilihan untuk menjadi warga Negara tertentu merupakan hak asasi individu. Ada orang yang tetap setia dengan Negara tempat kelahirannya dimanapun kini dia berada, ada yang sengaja memilih pindah kewarganegaraan ke Negara yang lebih maju dari Negara tanah kelahirannya, dan tidak sedikit juga orang yang mempunyai kewarganegaraan ganda.

Fenomena WNI di Sabah
Sabah merupakan negara bagian dari Malaysia. Letaknya berbatasan dengan pulau Kalimantan yang biasanya bisa ditempuh hanya dengan menyebrang pulau beberapa jam saja dan bahkan bisa ditempuh lewat darat, bahkan di Sebatik ada Rumah yang berada di dua Negara. Kedekatan letak negeri Sabah dengan pulau Kalimantan ini membuka peluang besar untuk terjadinya keluar masuknya kedua warga Negara.
Dalam sebuah seminar teknologi informasi untuk para pendidik Indoensia yang diadakan di Kota Kinabalu, pejabat perwakilan Negara Indonesia dalam hal ini PENSOSBUD KJRI Kota Kinabalu menyatakan, berdasarkan data tanggal 09 Peberuari 2012 bahwa warga Negara Indonesia di Sabah sebanyak 401.773 orang. Dari jumlah tersebut yang bekerja sebagai tenaga professional hanya terdiri dari 165 orang termasuk guru, pilot, perwakilan Negara dan lainnya. Selebihnya mereka pekerja buruh kasar yang tersebar di ladang-ladang sawit, perkebunan, kilang-kilang dan bekerja di sektor privat.
Angka diatas adalah data resmi yang ada di KJRI Kota Kinabalu per 12 Pebruari 2012. Selain angka tersebut kemungkinan besar bertambah, ada yang jauh lebih besar lagi yaitu angka yang tidak terdata di KJRI. Singkat kata, WNI illegal di Sabah ini ibarat jamur di musim hujan. Terus terang penulis belum melakukan penelitian yang serius dalam hal ini. Dasar pernyataan penulis adalah bahwasanya di ladang-ladang sawit yang membentang dari Tawau, Kunak, Samporna, Lahad Datu, Kinabatangan, Sandakan, dan tempat-tempat lainnya yang merupakan tempat penulis dan teman-teman di tugaskan, banyak sekali WNI yang kabur untuk bersembunyi ketika terdapat cheking (pemeriksaan dokumen). Selain di ladang-ladang sawit di perkempungan seperti ranau dan kundasang pun demikian. Keberadaan WNI illegal bukan rahasia umum lagi.
Keberadaan WNI (legal maupun illegal) di Sabah dalam tinjauan lokasi kerja terbagi dua,pertama, WNI yang berkerja di ladang-ladang sawit, yang kedua, WNI yang bekerja dan menetap tersebar di non ladang sawit.
Dari sisi waktu, Keberadaan para WNI di Sabah terbagi dua; pertama WNI yang sudah tinggal belasan, puluhan tahun bahkan sampai mempunyai cucu dan cicit, kedua WNI yang datang pada waktu baru-baru. Mayoritas dari WNI yang tinggal di Sabah adalah pekerja keras; penyabit sawit, pembantu rumah tangga, buruh tani dan yang lainnya.
Selama penulis tinggal di Sabah penulis mengorek informasi dari para WNI di Sabah hampir kurang lebih 50 orang. Obrolan ini berlangsung di daerah Baturong, Kunak, Tawau, Lahad Datu, Kundasang dan Sipitang. pertanyaan-pertanyaan yang penulis lontarkan adalah:
1. Berapa lama tinggal di sabah?. Jawabanya bervariasi ada baru 4 tahun, 10 tahun, 19 tahun, bahkan ada sudah 30 tahun.
2. Berapa kali pulang ke Indonesia?. Jawabannya relative sama 1 kali, 2 kali, atau 3 kali, bahkan banyak yang belum pernah pulang.
3. Ada rencana untuk pulang ke Indonesia dan tidak kembali ke Sabah?. Diantara orang-orang yang pernah melakukan interakasi dengan penulis hanya 2 orang yang menyatakan keingannya untuk kembali ke Negara tercinta Indonesia. Sisanya menjawab,“saya tidak tahu, di Indonesia susah mencari kerja, berbeda dengan di sini. Jangankan orang seperti kami yang pendidikannya rendah, serjana-sarjana saja banyak yang nganggur”.
4. Sudah IC belum?. Maksud pertanyaan itu adalah apakah dia sudah mendapatkan IC?. IC (Identity Card) adalah kartu identas bahwa pemiliknya sebagai warga Negara Malaysia, di Indonesia di kenal KTP. Ada yang sudah mendapatkan IC terutama yang sudah belasan dan puluhan tahun (sudah menjadi Warga Negara Malaysia). Ada juga yang belum namun mereka dalam jaminan orang lain yang menjadi Warga Negara Malaysia (dalam rencana menuju menjadi Warga Negara Malaysia).
5. Mau IC?. Semuanya menjawab ‘mau’ kecuali 2 orang. ‘senang sudah kalau sudah IC’ demikian alasan mereka. Mereka sebuah kebanggaan dan hal yang sangat di cita-citakan menjadi Warga Negara Malaysia.
Secara yuridis mereka adalah warga Negara Indonesia, tapi jangankan untuk cinta bahkan berkorban untuk Indonesia untuk pulang saja tidak mau. Jiwa mereka sudah jiwa Malaysia, apalagi yang sejak dari lahir berada di Sabah (Malaysia).
Melihat fenomena demikian, timbul pertanyaan di benak penulis, 1. ada apa dengan WNI di Sabah? 2. Ada apa dengan Sabah (Malaysia), 3. Ada apa dengan Indonesia sampai warganya tidak mau pulang ke sana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s