Toilet Vs Masjid


Dulu, sekitar sebulan sekali, ketika pergi ngampus ataupun pulang ngampus selalu saja saya harus mampir di toilet terminal. Pertama kali saya mendapati kondisi toilet terminal saya sedikit shock (maklum orang kampung); kondisinya kotor, bau, tidak terawat, dan satu lagi harus bayar.

Namun lama kelamaan, selain dengan status saya bukan anak kampung lagi melainkan anak kampus, saya menjadi terbiasa dengan keadaan tersebut. Dan saya menemukan toilet-toilet lain selain di terminal yang keadaannya sama. Namun anehnya, sudah menjadi rahasia umum, walaupun kotor, bau menyengat, tidak terawat dan harus bayar tetap saja toilet banyak di kunjungi bahkan rela untuk antri.
Keadaan toilet ini berbanding terbalik dengan masjid (mushola atau langgar). Keadaan masjid, banyak masjid yang ketika kita masuk tercium wangi yang memanjakan hidung, memang beberapa masjid tidak demikian namun yang pasti tidak bau. Selain itu keadaannya terawat, bersih dan masuknya tidak perlu merogoh kocek dulu. Tapi realitasnya, pengunjung masjid tidak sebanyak pengunjung toilet.
Setiap kali dalam perjalanan pulang, sambil melamun kadang saya suka ngobrol sendiri;

saya satu : kenapa ya pengunjung toilet lebih banyak dari pada masjid?.
Saya dua: toilet laku, walaupun keadaannya bau, kotor, tidak terawat dan harus bayar mungkin karena orang-orang membutuhkan toilet.
Saya satu: kenapa mereka membutuhkan toilet?
Saya dua: karena toilet tempat orang-orang kencing dan berak.
Saya satu: kenapa dengan kencing dan berak?
Saya dua: tiap orang pasti kencing tiap hari dan kencing yang di tahan-tahan dan bahkan tidak di keluarkan dalam waktu yang lama akan menimbulkan penyakit; orang yang melakukannya akan rentan terkena infeksi saluran kemih dan mudah timbul batu di saluran kemih. Begitupun berak yang di tahan-tahan bahkan bisa menimbulkan sakit perut dan tinjanya bisa mengeras, dan bahaya terhadap organ-organ pembuangan.
Saya satu: terus memangnya menusia tidak membutuhkan masjid?
Saya dua: mmmhhhh… (tidak menjawab).
Saya satu: seandainya toilet sebagai sarana untuk membuang kotoran, seharusnya masjidpun di jadikan sarana membuang kotoran ruhani juga, kan? Bukannya disebut manusia karena manusia mempunyai jasmani dan sisi rohani? Dan bukannya rohani pun harus di jaga seperti jasmani? dan bukannya seharusnya kebutuhan untuk membuang kotoran ruhani juga tiapa hari bahkan tiap saat?
Saya dua: iya ya..— sambil mengerutkan dahi, tidak lama saya dua melanjutkan kata-katanya– Yang jelas seandainya toilet dan mesjid ikut pemilu dan calonnya hanya mereka berdua maka besar kemungkinan yang menang adalah toilet.

semoga kita termasuk orang-orang yang berusaha menjadikan mesjid menang dari toilet..!

Baturong satu, 20 feb 2012 (15:30).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s