Refleksi: Metode Sukses dalam Pembelajaran



Kita pernah mendengar hadits yang artinya: “Tafakur satu detik lebih baik dari pada ibadah enam ribu tahun”. Betapa mendalam dan filosofisnya hadits diatas. Banyak pertanyaan yang akan menghantui pikiran kita; apa yang bisa didapat dengan tafakur hanya satu detik?, bagaimana bisa proses yang instan dan sebentar bisa dibandingkan (lebih baik) dengan (dari pada) proses yang memerlukan perjuangan tenaga dan harta dalam kurun yang lama?.

Dalam kajian kebahasaan kita mengenal pernyataan yang berbentuk perbandingan. Sudah menjadi rumusan tetap, bahwa harus ada dua variabel pokok untuk terjadinya sebuah perbandingan, yaitu; yang dibandingkan yaitu tafakkur dan pembanding yaitu ‘ibadah.

Menimbang Tafakkur dan Ibadah

Penulis merasa yakin bahwa kita sering mendengar term tafakur. Penulis sangat yakin bahwa term ini bukan sesuatu yang asing seperti asingnya remaja islam dengan budaya dan khazanah keislaman, atau asingnya generasi muda kita dengan para cendikiawan muslim, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusydi dan yang lainya.

“Tafakkur” diambil dari bahasa arab yang berbentuk masdar (kata kerja yang dibendakan: gerund). Kata yang paling dasar untuk membuat kata “tafakkur” adalah fa-ka-ro, yang mempunyai arti berfikir. Sedangkan tafakkkur adalah derivasi dari kata kerja yang sudah mendapat tambahan (tsulatsi maziid) yiatu ta-fak-ka-ro yang mengandung makna pengulangan. Secara sederhana, tafakkur sama dengan berfikir yang berulang-ulang. Berfikir yang berulang-ulang akan terjadi hanya jika berfikir itu dilakukan secara serius dan mendalam.

Kata “Ibadah” pun, adalah bentuk masdar dari kata dasar ’a-bu-da yang artinya penghambaan. Dari bentuk dasar yang sama, kita akan menemukan kata ’abiid (budak: manusia yang dijual belikan). Perbudakan adalah budaya arab zaman dulu sebelum ajaran islam membumi di jazirah arab. Seorang budak dia harus mematuhi apa yang inginkan oleh pemiliknya. Bahkan seandainya dipinta nyawa dan kehormatannya pun dia harus memberikan. Karena segala yang dia miliki –termasuk kemanusiaannya- sudah ditukarkan dengan sejumlah uang.

Dalam hubungan manusia dengan Allah, manusia adalah budak sedangkan Allah adalah Tuan (pemilik). Semua yang dianggap milik kita, sama sekali hanyalah fatamorgana. Harta kita tidak bisa membeli satu nyawapun. Kepintaran kita tidak bisa mengubah satu takdirpun. Kita sama sekali tidak bisa tawar menawar dengan kekuasaannya Allah.

Dalam Q.S: Adz-Dzariat ayat 56, ditegaskan bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah. Ibadah secara sempit diartikan sebuah ritual (tata cara) untuk menyatakan kepasrahan kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semacamnya.

Ibadah dalam arti luas berarti setiap bentuk tindakan yang ditujukan untuk (karena) Allah berdasarkan norma-normanya. Disini! Tidak hanya terbatas pada ritual harian, mingguan, dan tahunan.

Ada dua hal yang dapat kita akan fahami dari statement hadits diatas. Pertama Tafakkur lebih baik dari pada ibadah. Kedua satu detik lebih baik dari pada seribu tahun.

Untuk point kedua kita tidak perlu menganalisa terlalu dalam. Karena penggunaan waktu dalam statement diatas adalah sebuah penegasan tentang keunggulan “tafakkur” dari pada “ibadah”.

Sekali lagi, tafakkur bukan sekedar berpikir, tapi berfikir secara serius dan mendalam. ”Serius” adanya kesengajaan untuk berfikir, sedangkan ”mendalam” adanya tujuan dan target dalam berfikir. Tegasnya kita bisa merumuskan bahwa tafakkur meliputi empat kriteria, yaitu; pertama adanya kesengajangan dalam berfikir tentang sesuatu (yang lalu), kedua proses penilaian (saat ini), ketiga pengoreksian (saat ini), keempat penentuan sikap diwujudkan dalam perencanaan-perencanaan pribadi (waktu yang akan datang).

Seseorang yang sholat tiap hari tanpa melakukan tafakkur tentang keadaan sholatnya, maka kualitas sholatnya tidak akan meningkat. Sebaliknya, jika seseorang yang bisa mentafakkuri sholatnya, dia akan bisa menilai sejauhmana kekurangannya, agar bisa diperbaiki baik kualitas maupun kuantitas.

Dalam konteks proses pembelajaran, seorang guru harus mentafakkuri pengajarannya dalam segala aspek; -metodologi, persiapan pengajaran, penguasaan materi pengajaran, pengembangan diri dalam pengajaran dan yang lainnya. Ketika tafakkur ini dilakukan dengan benar maka peningkatan kualitas pengajarannya adalah sebuah hal yang niscaya. Pada akhirnya seorang guru yang demikian dia akan mampu menjadi sosok yang patut digugu dan ditiru.

Selain melakukan tafakkur tentang pengajarannya sendiri, seorang guru seyogyanya mengajak dan mengarahkan muridnya agar mereka melakukan tafakkur. Tentunya pentafakkuran tentang proses belajarnya.

Saat ini, murid bukan lagi sebagai objek pengajaran, tapi murid adalah partner guru dalam belajar. Oleh karenanya kesuksesan pembelajaran tidak akan terwujud jika kita masih mendekap konsep teacher centris (guru adalah orang yang serba segalanya). Dengan selogan yang sering kita dekap erat-erat bahwa dalam mengajar ada dua aturan: aturan pertama, guru tidak pernah salah, aturan kedua, jika guru salah kembali ke aturan pertama.

Dari sini, tafakkur menjadi sebuah hal mesti dilakukan bersama-sama oleh guru dan murid untuk tercapainya kesuksesan pebelajaran. Karena tafakkur tidak hanya sebatas evaluasi tapi juga pengoreksian dan pembetulan yang dan diakhiri oleh pemetaan sebuah perencanaan pembelajaran yang ideal secara matang.

Refleksi: Peningkatan Kualitas

Pesan yang dikandungnya hadits diatas bukan pemberian ruang kepada kita untuk berleha-leha dalam beribadah. Kita tidak bisa menggunakan gaya berfikir bahwa “Cukuplah ibadah hanya dengan tafakur, tidak perlu sholat, zakat, puasa dan ibadah yang lainnya”. Namun hadits diatas menegaskan bahwa keistiewaan tafakkur adalah bisa meningkatkan kualitas ibadah. Sedangkan ibadah adalah aktivitas yang dilakukan oleh hamba (manusia) demi Tuannya (Allah). Jelasnya, tafakkur adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas kerja.

Terakhir, dengan melihat kriteria-kriteria tafakkur, maka menurut hemat penulis tafakkur -dalam terminologi lain- adalah refleksi.

Semoga setiap satu orang dari kita bisa meningkatkan kualitas amal! Aaamiin…!

Wallahu ’Alam bis-showab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s